Mysterious Wife

Mysterious Wife
93



"Akhirnya aku bisa makan banyak!" seru Morgan, pesawat sudah take off tiga jam yang lalu. Kini dia sedang makan bersama Galvin dan Zhoya.



Beruntung Galvin selalu menyediakan banyak pakaian di pesawat pribadinya, makanya Morgan sekarang sudah berpenampilan selayaknya laki-laki lagi.


"Jangan kasih tau mommy dan daddy yak kak soal kejadian di Berlin, aku gak mau sampai mereka tidak tenang mengkhawatirkan aku, bilang saja aku datang ke Indonesia karena ingin ikut kak Galvin, ingin ketemu tante Ghea dan kak Ghisell. Makanya ngambil cuti kuliah." pinta Zhoya kepada Galvin.


"Hmm... ya sudah." Galvin menjadi tidak enak kepada Morgan dan Zhoya, mereka harus terlibat berada dalam bahaya demi dirinya untuk membawa Hana pergi dari rumah Samuel.


"Makasih banget buat kalian berdua, kalau gak ada kalian aku gak tau bisa membawa Hana pergi dari rumah Samuel atau tidak." Galvin mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


Morgan terkekeh, "Ya elah, tenang aja. Kita ini kan bestie. Eh tapi ngomong-ngomong bagaimana nasib si Sam sekarang?"


"Mungkin dia jadi buronan disana, akan susah untuk melarikan diri." Galvin mengatakannya sambil celingak celinguk mencari keberadaan Hana, wanita itu bilangnya mau mandi dulu, tapi sangat lama sekali.


"Rasanya kayak syuting film action. Jadi begitu kali ya dunia acting." seru Zhoya.


"Apa kamu tertarik untuk menjadi seorang aktris seperti daddy kamu?" tanya Morgan pada Zhoya.


"Hmm... gak, aku ingin seperti mommyku, menjadi wanita karir."


Morgan teringat dengan kejadian tadi saat Zhoya memilih membantunya untuk mengelabui para bodyguardnya Samuel, padahal dia lebih aman ikut melarikan diri bersama Galvin dan Hana. "Terus kenapa tadi kamu memilih membantu aku?"


Zhoya mencoba mencari alasan, "Karena kamu adalah seorang tamu, dan aku tuan rumah. Jadi aku harus menjaga keselamatan tamu aku."


Morgan merasa keberatan dengan panggilan Zhoya yang bilang aku-kamu, "Aku enam tahun lebih tua dari kamu, harusnya kamu panggil aku abang, mas, kakak, atau...emmm..."


Morgan tak meneruskan perkataannya karena Galvin tiba-tiba menyuapkan stick potato padanya. Galvin merasa geli sendiri melihat Morgan yang berusaha menggoda sepupunya.


Morgan hanya bisa menatap kesal pada Galvin sambil mengunyah stick potato itu.


"Aku mau menemui Hana dulu." Galvin rasa lebih baik dia menemui Hana saja di kamar yang berada di pesawat itu. Kemudian dia memberi kode pada Morgan dengan menunjukkan kedua matanya, pertanda dia akan memantau pergerakan Morgan jika Morgan berani merayu Zhoya.


"Cepat gih pergi sana. Jangan lupa buka puasa." Morgan segera mengusir Galvin.


"Emang kak Galvin puasa?" tanya Zhoya, tidak mengerti dengan apa yang Morgan ucapkan.


Morgan jadi kebingungan sendiri menjawabnya, "Emm... nanti juga kamu tau sendiri. Itu urusan orang dewasa."


"Lah aku udah dewasa kali."


"Tapi kayaknya kamu belum pernah pacaran kan?"


Zhoya memilih tidak menjawab pertanyaan dari Morgan. Membuat Morgan semakin penasaran.


"Wah jangan-jangan kamu belum pernah ciuman?"



...****************...


Galvin masuk ke dalam kamar, yang ada di kabin khusus, desain interior kamar tersebut tak kalah dengan kamar hotel bintang lima.



Namun Galvin tak menemukan keberadaan Hana disana, membuat dia khawatir, suara decitan pintu kamar mandi terbuka, Galvin melihat Hana menyembul masuk ke dalam kamar.


Jakun Galvin turun naik saat melihat Hana yang hanya memakai bathrobe saja, namun dia harus menahan diri karena Hana sama sekali belum mengingat dirinya.


"Ayo kita makan bersama!" ajak Galvin dengan tersenyum manis pada Hana.


"Aku belum lapar, malah tadi mual terus."


Galvin merasa ada sesuatu yang tersirat di dalam pikirannya, "Apa kamu sudah datang bulan selama kamu amnesia?"


Hana terperangah begitu dia ingat ternyata dia belum datang bulan selama itu, "Nggak, aku belum datang bulan juga. Tapi kenapa memangnya?"


"Kamu yakin?" Galvin mengatakannya dengan penuh semangat. Dia tersenyum lebar.


Hana menganggukkan kepala. Menatap Galvin dengan penuh keheranan.


Galvin replek bersimpuh, memeluk erat perut Hana dan menciumi perutnya, "Aku yakin pasti kamu hamil anakku. Kamu hamil anak kita!"


"Ha-hamil?"


Mungkin karena Samuel bilang Hana dan Samuel itu pacaran, dan Samuel bilang Hana masih virgin karena mereka belum pernah berhubungan badan selama pacaran. Makanya Hana nampak kaget begitu Galvin mengaku dirinya adalah suami Hana, apalagi sekarang Galvin mengira Hana hamil.


"Apakah benar kita sudah menikah? Kamu suami aku?" Hana menatap Galvin dengan tatapan penuh tanda tanya.


Galvin menganggukkan kepala. "Iya," Galvin segera berdiri kembali mendekatkan jaraknya pada Hana, dia memperlihatkan foto Hana yang tengah tertidur di buble hotel Green Forest.


"Ini adalah foto kamu, saat itu kita melewati malam panas di buble hotel. Dan itu adalah untuk kesekian kalinya karena kita sering melakukannya."


Wajah Hana memerah begitu melihat foto itu, mengapa juga Galvin harus menunjukkan foto Hana yang tak memakai baju itu. "Aku sama sekali gak ingat. Aku pikir aku masih virgin, makanya sampai gak kepikiran aku sedang hamil. Tapi aku sangat tersentuh, padahal kamu tampan, kaya, memiliki pesona, kamu nyaris sempurna. Kenapa harus berjuang segitunya demi aku? Padahal kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih segalanya dariku."


"Karena aku punya segalanya. Tampan, kaya, pesona, semuanya aku punya. Jadi aku tidak membutuhkan pasangan yang memiliki itu semua. Yang aku butuhkan cuma Hana, hanya kamu."


Galvin mendekatkan jaraknya pada Hana, merengkuh pinggangnya, membuat tak ada jarak sedikit pun diantara mereka berdua, dia mengecup bibir Hana, membuat Hana terbelalak begitu merasakan bibir Galvin menempel dengan bibirnya, tapi cukup membuat hati Hana berdebar-debar.


Kemudian Galvin melepaskan kecupan itu, memegang wajah Hana, memandangnya dengan begitu intens, "Mau aku buktikan kalau ucapan aku itu benar bahwa kamu memang tidak virgin lagi, hm? Siapa tau dengan begitu kamu bisa perlahan mengingat aku. Bahkan aku tau ada bekas luka kecil, seperti bekas luka bakar di punggung kamu."