
"Brengsek!"
Samuel sangat kesal karena untuk pertama kalinya Hana mengabaikan pesannya. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Sesibuk apa dia sampai mengabaikan pesanku?"
Praang...
Samuel melempar gelas yang ada di atas meja ke lantai sampai gelas itu pecah dan berserakan di lantai.
Nafasnya begitu berat, menahan amarah.
"Tidak bisa, tidak boleh ada yang mengabaikan aku. Apalagi mengkhianati aku."
"Kamu milikku Hana, hidup dan matimu ada ditanganku. Berani sekali kamu mengabaikan pesanku!"
Padahal saat ini Samuel sedang berusaha mencari Pingkan dengan menyewa gangster untuk memburu Pingkan, namun wanita itu nampak cerdik, sampai keberadaannya susah ditemukan.
...****************...
Mata Galvin berkaca-kaca melihat semua informasi tentang Hana, rasanya dadanya terasa begitu sesak seakan telah kehilangan nafas. Sampai tak terasa air matanya mengalir.
Kemana aja aku selama ini, rupanya dia ada disisiku, menjadi istriku.
Namun ada hal yang tidak Galvin mengerti, mengapa orang yang mengaku tetangga Hana itu menunjukkan dimana makam Hana padanya, sampai dia mempercayai bahwa Hana telah meninggal waktu itu. Seolah-olah semua itu direncanakan untuk menipu dirinya agar tidak pernah bertemu dengan Hana lagi karena mengira Hana sudah meninggal.
Sebenarnya ada apa denganmu Hana? Apa yang terjadi padamu?
Hati Galvin bertanya-tanya begitu mengetahui keluarga Hana mati dengan cara tidak wajar.
Galvin segera pergi untuk menyusul Hana, dia berjalan dengan cepat, setengah berlari, mengikuti anak panah sebagai penunjuk arah di hutan itu.
"Hana!"
"Hana!"
Galvin tiada hentinya memanggil nama Hana. Dia nampak frustasi sekali karena Hana tak dapat ia temukan juga, bahkan menyahut panggilannya.
"Arrgghh.. Kemana dia?" Galvin sangat mencemaskan Hana.
"Apa dia tersesat?"
Ternyata benar dugaan Galvin, Hana tersesat, mungkin karena dia tidak fokus berjalan, Kata-kata Galvin sangat menyakiti hatinya, makanya saat ini dia nampak ke bingungan harus berjalan ke arah mana lagi.
Hana mencoba mengikuti instingnya, namun rupanya dia malah semakin tersesat ke dalam hutan yang jarang terjamah manusia, jarak dia dengan Galvin sangat jauh sekali.
"Ahhh... aku harus pergi arah kemana?" Hana nampak kebingungan, dia takut dia semakin tersesat lagi.
Hana duduk di sebuah batu besar dengan nafasnya terengah-engah karena kelelahan. Hana mencoba untuk meminta bantuan lagi, namun sayangnya sampai sekarang ponselnya susah untuk mendapatkan sinyal.
Bagaimana pun juga Hana seorang wanita, mencoba untuk bersikap sekuat apapun juga tetap saja hatinya begitu lembut. Dan sekarang dia sangat ketakutan sekali. Apalagi hari sudah mulai sore, awan sudah mulai kelam, dia sangat takut akan tersesat sendirian di dalam hutan sana.
Hana teringat kembali dengan kata-kata Galvin padanya, dari dulu dia begitu tegar, tapi dia tidak mengerti hatinya sangat sensitif hari ini, sampai perkataan Galvin itu begitu mengiris hatinya, rasanya begitu perih, seakan selama ini dia tidak memiliki harga diri.
Mungkin dendam telah membutakan hati Hana, sampai Hana baru sadar bahwa selama ini dia begitu merendahkan harga dirinya di depan pria tak berperasaan itu.
Tanpa terasa air mata Hana mengalir, dia menangis terisak. Rasanya begitu melelahkan, menjalani skenario balas dendam ini, yang akhirnya malah menyakiti dirinya sendiri.
"Anya, maafkan kakak. Maafkan kakakmu yang lemah ini."