Mysterious Wife

Mysterious Wife
95



Galvin merebahkan Hana diatas kasur, memposisikan dirinya berada diatas Hana membuat Hana gugup memandangi wajah Galvin.


"Apa kamu gugup?" tanya Galvin sambil tersenyum.


"Hmm... iya, tapi..." Hana sangat malu jika dia bilang bahwa rasa penasarannya lebih besar. Karena selama ini Samuel membohonginya bahwa Hana masih virgin, makanya dia tidak ngeh waktu dirinya merasakan mual terus dan naf-su makannya bertambah.


Mungkin karena pengaruh hamil makanya dia tak bisa menolak, apalagi dia yakin Galvin adalah suaminya, dia menginginkan pria itu terus menyentuhnya semakin dalam dan membawanya bertualang lebih jauh untuk menggapai nirwana.


Hana dibuat terlena dengan sentuhan lembut yang Galvin lakukan menyesuri seluruh tubuhnya, membuat aliran darah berdesir dengan begitu hebat, menggetarkan sukma. Bahkan Galvin menciumi punggung Hana, termasuk luka bakar yang ada di dekat bahunya.


Tiada hentinya lidah Galvin memanjakan tubuh Hana, bergerilya di bagian dadanya, turun ke perut dengan begitu lembut dan pelan, sampai turun semakin bawah dan menyentuh bagian sensitif Hana.


Hana langsung menganga merasa dingin dan lembutnya indra perasa menyentuh miliknya, dan mulai bergerak menelusuri kelembutannya, "Ahhhh..." Bahkan dia mendes-ah dengan indah.


Hana reflek melebarkan pahanya, mencengkram rambut Galvin yang asik bercumbu dengan aset berharganya, Hana semakin meremang saat Galvin menghisapnya dengan begitu kuat sambil memainkan lidahnya, membuat tubuh Hana menggelinjang tak tertahankan.


Tubuh Hana bergetar seakan tersengat aliran listrik begitu merasakan ada yang tumpah dibawah sana, dia menjerit dengan penuh nikmat, "Ughh...Galvin ahhh..."


Galvin membuka seluruh pakaiannya, sudah dua bulan dia berpuasa, tentu saja merindukan bagaimana sang jantan masuk ke dalam sarangnya. Karena dia hanya ingin melakukannya bersama Hana, makanya dia begitu kuat selama dua bulan ini tidak pernah tergoda dengan wanita manapun, bukan hanya dua bulan, tapi selamanya dia akan kuat menahan godaan dari para wanita.


Galvin hanya ingin setia pada satu wanita, yaitu Hana, cinta pertamanya, dan satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya.


Galvin memposisikan kembali dirinya berada di atas tubuh Hana. Dia memegang kedua tangan Hana, berada di atas kepalanya.



Hana sangat gugup sekali begitu merasakan ada yang bergerak dibawah sana, bergerak dengan begitu lembut sampai masuk dengan sangat pelan.


Hana menganga merasakan senjata Galvin menyeruak masuk ke dalam dirinya semakin dalam, sampai memenuhi miliknya. Rasanya tidak bisa dia ungkapkan dengan untaian kata.


"Kau percaya sekarang, hm? Kita sering melakukannya. Selain s3x banyak hal yang harus kita lakukan untuk membuat kamu ingat. Kita lakukan saja dengan pelan. Yang penting kamu selalu ada disisiku."


Hana hanya menganggukkan kepala, dia telah kehilangan akal merasakan senjata Galvin yang terus menghujam dirinya, apalagi ketika Galvin menggerakkan pinggangnya, tubuh itu begitu gagah mempompa tubuhnya.


"Ahh... kamu sangat sempit Hana. Aku mencintaimu." Galvin mengatakannya di sela-sela desa-hannya, merasakan bagaimana milik Hana menjepit jantannya, dia terus bergerak diantara kedua paha Hana. Kemudian Galvin mencium bibir Hana, lalu menyesap bagian pucuk di bulatan kenyal yang selalu terlihat menggoda.


Hana dibuat melayang tinggi oleh Galvin, dia memeluk kokoh punggung yang kekar itu, mereka berciuman kembali dengan penuh naf-su.


"Ahhh... ahhh... ahhh..."


...****************...


"Suara apa itu?" Zhoya mendengar suara aneh, namun terdengar samar-samar karena Morgan meninggikan volume film yang mereka tonton.


Kebetulan jarak tempat mereka menonton film sangat dekat dengan kamar tempat Galvin dan Hana sedang bercinta.


"Aku tak mendengarnya." Wajah Morgan memerah begitu mendengar suara laknat itu.


Zhoya sangat penasaran karena suaranya terdengar tak begitu jelas, dia mematikan televisi, membuat Morgan reflek menutup kedua telinga Zhoya dengan tangannya.


Zhoya tak mengerti mengapa Morgan tiba-tiba menutup telinganya, dia berusaha melepaskan tangan Morgan. "Kak Morgan apaan sih... "


Zhoya tak meneruskan perkataannya begitu Morgan mencondongkan wajahnya.


Deg...


Deg...


Deg...


...****************...


...Hari ini saya kasih yang indah-indah saja, biar tidak tegang dulu hehe......