Mysterious Wife

Mysterious Wife
40



Galvin melepaskan kain segitiga yang menutupi keindahan yang wanita miliki, dia menghirup dalam-dalam kain segitiga itu, mencium aroma khas dari seorang wanita, kemudian melemparnya ke lantai.


Galvin tertegun memandangi bongkahan indah diantara kedua paha Hana itu, sangat sangat menggoda dirinya, begitu menggairahkan, tanpa menunggu lama dia membungkukan badannya kembali , lalu menciuminya.


"Aahhhh..." Hana tak kuasa menahan rasa geli di bawah sana, padahal matanya sudah spaneng.


Galvin membiarkan lidahnya berkelana kebagian yang terdalam, bergerak keluar masuk dengan sangat pelan, sesekali dia menyesapnya, menyedotnya dengan kuat .


"Ahhh... Ahhh..." Hana membuka mulutnya dengan lebar sambil mendes@h, dia reflek menekan kepala Galvin. Untuk pertama kalinya ada yang menyentuhnya seperti ini, membuat Hana seakan terbang tinggi menggapainya cakrawala.


Galvin semakin cepat menggerakkan lidahnya, membuat Hana menggelinjang tak tertahankan, tubuhnya menegang, sementara mulutnya tiada hentinya mendes@h dan mendes@h.


Hingga sampai akhirnya telah mencapai puncak kenikmatannya, dia mengerang panjang dengan badannya yang bergetar mengeluarkan cairan di dalam tubuhnya.


"Ahhhh.... Galvin!" Hana menjerit keenakan karena Galvin masih mencumbuinya dan menyapu bersih cairan itu. Membuat tubuh Hana sedikit lemas karena telah mengeluarkan gelombang cinta di dalam dirinya.


Galvin membuka boxernya, dia menatap Hana yang setengah tertidur tapi mulut dan tubuhnya masih merespon dengan apa yang dia lakukan pada tubuh Hana.


Galvin mengusap-usap sang jantan yang sudah berdiri kokoh, dia rasa Hana adalah wanita yang paling beruntung karena hanya dengan Hana dia melakukannya, bahkan ini yang kedua kalinya bagi mereka,itulah yang ada di dalam pikiran Galvin.


Galvin merayap kembali menindih tubuh Hana, dia menggesek-gesekan sang jantan ke milik Hana, lalu menghirup nafas dalam-dalam, sudah tidak tahan ingin segera masuk ke dalam.


Galvin mencium bibir Hana, sementara dibawah sana dia menekan sang jantan untuk masuk ke dalam.


"Arrrggghhh..." Seketika Hana melepaskan ciuman, dia mencakar punggung Galvin begitu merasakan miliknya sangat teramat perih saat Galvin menerobos masuk ke dalam.


Seketika Galvin terdiam penuh keheranan melihat Hana yang seperti kesakitan saat dia memasukinya, bukannya wanita akan kesakitan hanya saat pertama kali melakukannya? Bukannya ini yang kedua kalinya untuk mereka?


Galvin belum paham sama sekali, dia pikir bisa saja karena ini kedua kalinya mereka melakukannya jadi Hana masih kesakitan menerima kehadiran sang jantan di dalam sana.


Tapi mengapa seperti ada penghalang didalam sana? Bukannya kata orang kalau sudah tidak perawan lagi bisa langsung bless masuk dengan mudah.


Galvin tidak ingin berpikir macam-macan dulu, api bir@hinya sudah mengusainya. Dia sudah tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri, begitu ingin menikmati percintaan mereka.


Galvin semakin menekan ke dalam, dengan sekali hentakan, membuat sang jantan kini terbenam sempurna di dalam Hana.


Seketika itu pula Hana menjerit kesakitan, "Arrrggghhh..." Sayangnya Hana tak bisa berkutik karena rasa ngantuk pengaruh alkohol tak mampu membuatnya sadar.


"Ahhh...hhh...hhh..." Galvin menganga begitu merasakan rasa nikmat yang sungguh luar biasa. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, membuat tubuhnya berdesir hebat merasakan kedutan manja di dalam sana.


Galvin mulai menggerakkan pinggulnya mengguncang tubuh Hana, sambil mencium bibir Hana, sesekali dia menyambar dua buah melon diatasnya secara bergiliran.


Suara rintihan Hana kini berganti menjadi suara des@han, dia merespon dengan apa yang dia rasakan karena rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan rasa nikmat.


Galvin mempercepat gerakkan sang jantan, membuatnya semakin menggila, begitu juga Hana. Mereka sama-sama mendes@h menikmati percintaan panas mereka.


Sampai akhirnya mereka sama-sama merasakan akan menuju puncak kenikmatan. Galvin semakin mempercepat ritme gerakan pinggulnya, menghantam semakin dalam, lebih dalam lagi, membuat dia semakin terbang melayang, hingga akhirnya dia dan Hana sama-sama mengeluarkan gelombang cinta mereka di dalam Hana. "Aahhhh..."


Badan Galvin ambruk menindih tubuh Hana, dia menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Hana dengan nafas yang terengah-engah karena sudah mengeluarkan banyak tenaga.


Galvin ingin mencium bibir Hana kembali, namun dia mengurungkan niatnya begitu menyadari Hana telah tertidur pulas.


Galvin segera bangkit, namun dia kaget saat melihat bercak darah di seprai, "Darah apa ini?"


Galvin memeriksa milik Hana, rupanya benar, milik Hana telah mengeluarkan darah. Galvin terperangah begitu mengingat saat dia kesulitan untuk masuk ke dalam Hana, dan juga saat Hana menjerit menahan rasa sakit saat dia memasukkan sang jantan.


"Apa malam itu dia menipuku?"