
"Euughhh..." Hana terbangun dari tidurnya, dia melenguh sambil menggeliatkan kedua tangannya.
Begitu tersadar, Hana langsung mengecek pakaiannya, dia bisa bernafas lega rupanya dia masih memakai pakaian lengkap, bahkan dia mengecek sperai di kasur yang Hana pakai, sama sekali tidak ada noda apa-apa, seprainya bersih.
Hana menghirup nafas dalam-dalam, "Hm syukurlah ternyata hanya mimpi. Aku pikir beneran semalam dia meniduriku."
Hana tidak tau bahwa semalam Galvin memakaikan pakaiannya kembali, membersihkan area kewanitaanya, dan mengganti spreai dengan model yang sama agar Hana tidak tau bahwa semalam Galvin telah menidurinya, tepatnya telah merampas kehormatan yang dia jaga untuk Samuel nanti.
"Tapi kenapa semalam rasanya seperti nyata?"
"Hm... tidak mungkin lah dia meniduriku, dia sendiri yang bilang tidak akan sudi untuk menyentuh aku. Ya aku tau banget, dia memiliki selera yang tinggi pada wanita. Apalagi dia belum jatuh cinta padaku."
Hana memegang kepalanya yang masih terasa pening, "Kenapa juga aku harus mabuk? Padahal aku penasaran banget tentang foto itu."
Drrtt... Drrttt...
Ponsel Hana berbunyi, dia tersenyum saat melihat siapa yang menelpon dirinya. Siapa lagi kalau bukan orang yang dia namai PAHLAWANKU.
"Ada apa?" tanya Hana begitu mengangkat telepon dari Samuel, dia mengatakannya dengan pelan karena takut terdengar oleh Galvin.
"Kamu kemana aja kok dari semalam tidak menghubungi aku sama sekali?" tanya Samuel dengan nada kesal.
Hana tidak mungkin bilang semalam dia mabuk, dia takut Samuel berpikir macam-macan tentang dia dengan Galvin.
"Lalu bagaimana dengan file perusahaan?"
"Aku harus ke kamarnya, pasti dia menyimpan di kamarnya. Tapi kamarnya selalu di kunci jadi aku tidak bisa bebas masuk ke kamarnya."
Samuel hanya bisa menghela nafas, "Lalu bagaimana? Apa dia sudah jatuh cinta padamu?"
"Aku juga belum tau, yang pasti pria itu sangat menyebalkan."
"Kau harus secepatnya melakukan balas dendam kamu, lalu kembali padaku. Aku sangat merindukanmu."
"Harus kah kita bertemu?" Hana ingin memastikan sesuatu pada Samuel, dia sangat penasaran dengan foto Samuel, Galvin dan Mitha.
"Oke, datang ke apartemen aku saja. Aku menunggu kamu."
Hana tidak sadar bahwa gerak geriknya sedang diawasi oleh Galvin, Galvin semalam sengaja memasang CCTV di kamar Hana, dia memang tidak tau Hana saat ini sedang berteleponan dengan siapa tapi dia rasa pastinya dengan seseorang yang special makanya pagi-pagi sekali dia berteleponan dengan orang itu.
"Ternyata benar dia sudah memiliki pacar, lalu untuk apa dia menjebak aku?" Galvin semakin penasaran.
"Apa yang dia incar dariku? Mengapa harus sampai membuat aku menikahinya?" Galvin mengatakannya dengan nada kecewa, bagaimana tidak kecewa karena Hana telah membuat dirinya harus bertanggungjawab dengan apa yang sama sekali tidak dia lakukan, padahal dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikah, apalagi dengan wanita sekelas Hana. Dan juga dia telah merasa gagal karena telah melanggar janjinya pada sang mama yang melarangnya untuk bercinta dengan seorang wanita di luar pernikahan. Galvin merasa Hana telah tega membohongi keluarganya juga.
"Kau pikir aku tidak bisa bersandiwara, aku juga bisa. Aku akan mengikuti permainan kamu itu Hana Patricia." Galvin mengepalkan tangannya, memandangi laptopnya, disana terlihat jelas Hana yang masih berteleponan dengan kekasihnya itu.