Mysterious Wife

Mysterious Wife
38



Galvin meninggalkan Morgan yang sedang bengong karena tidak menyangka bagaimana bisa Galvin tinggal bersama sekretarisnya, lebih tepatnya gebetannya Morgan.


Di sepanjang perjalanan menuju pulang, Galvin terus saja mengomeli Hana, apalagi saat mengingat Morgan yang hampir saja mencium bibir Hana, membuatnya sangat kesal.


"Bisa tidak kamu itu tidak membuat aku kesal? Kamu tidak tau kan apa yang terjadi pada kamu jika aku tidak datang. Morgan itu sangat berbahaya. Memang ada urusan penting apa sih?"


Namun Hana tidak menjawab pertanyaan dari Galvin, dia malah meracau kemana-mana. Malah dia terus saja bernyanyi.


Galvin hanya menghela nafas karena Hana sama sekali tidak bisa diajak bicara.


Setelah sampai di depan rumah, Galvin menggendong Hana kembali di punggungnya, tubuh Hana memang ramping, sama sekali tidak terasa berat buat Galvin.


"Kamu tau tidak siapa pria yang paling ku benci?" tanya Hana dengan mata yang sedikit terpenjam, dia menyadarkan kepalanya di punggung Galvin.


"Hmm....siapa?" Galvin berjalan menuju kamar Hana.


"Kamu, aku sangat membenci kamu, kamu adalah si Mr Arogan yang sangat aku benci."


Galvin hanya menghela nafas, dia sudah tau jawabannya pasti tidak mengenakan padanya. Dia rasa Hana pantas membencinya karena dia memang selalu mengucapkan kata-kata seenaknya pada Hana, apalagi dia tidak peduli dengan perasaan Hana memperlihatkan kedekatan dia dengan wanita lain seperti saat Lea datang ke rumah dan juga saat di pesta tadi.


Begitu sampai kamar. Galvin membaringkan tubuh Hana dia atas ranjang. Dia masih ingin mengomel kepada wanita itu. "Apa kamu tau, kamu itu adalah wanita yang menyebalkan, yang selalu membuat aku jengkel, dan sekarang kamu membuat aku kesal, mengapa harus minum dengan pria lain heuh?"


Hana beranjak, dia terkekeh berjalan sempoyongan ke arah Galvin. "Apa kau sedang cemburu? Seorang Galvin akhirnya cemburu padaku!" Hana tertawa puas.


Galvin menyeringai, dia tidak terima dibilang cemburu, "Cemburu kamu bilang?" Galvin tertawa kecil, "Jangan kepedean kamu. Untuk apa aku mencemburui kamu. Lebih baik kamu tidur. Aku mau istirahat di kamar aku."


Namun Hana malah menarik dasi Galvin membuat pria itu hampir saja menubruk badan Hana yang lebih kecil darinya, membuat jarak mereka sangat dekat, Galvin menelan saliva memandangi wajah Hana yang sangat dekat sekali dengan wajahnya.


Galvin mencoba menjauhkan jaraknya dari Hana, dia takut dia tak bisa mengontrol dirinya , apalagi sekarang ini jantungnya terus berdebar-debar tak menentu. "Sampai kapan pun aku tidak akan mencintai kamu. Aku tidak akan pernah mencintai wanita manapun. Jangan menggodaku!"


Hana malah tertawa kecil, dia merasa tertantang mendengar ucapan Galvin, mungkin saat ini dia betul-betul tidak sadar dengan apa yang dikatakan dan tindakan apa yang dia lakukan, karena dia benar-benar mabuk malam ini. "Kau yakin tidak akan tergoda olehku?"


"Tidak." Jawab Galvin, yakin.


Hana membuka kancing gaunnya satu persatu, membuat Galvin terbelalak apalagi saat dia melihat belahan dada di depannya itu. "Apa dengan seperti ini kamu masih yakin tidak tergoda oleh aku?"


Galvin menjadi kelimpungan, dia menahan tangan Hana agar tidak banyak membuka kacing gaunnya. "Cukup Hana. Jangan di buka lagi!"


"Kenapa? Kau mulai tergoda olehku Mr Galvin?" Hana malah terkekeh.


Galvin segera melepaskan Hana. Melihat penampilan Hana dengan kondisi gaunnya terbuka tiga kancing membuat tubuh Galvin terasa panas, apalagi dia bisa melihat jelas bagaimana besarnya p@yud@ra Hana jika dia melihat bra yang masih membungkusnya. Ingin sekali dia melepaskan bra itu.


Galvin segera melepaskan Hana, dia memilih secepatnya pergi dari kamar Hana.


Hana hanya terkekeh melihat Galvin yang langsung pergi meninggalkannya begitu saja, dia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing ,rasa ngantuk mulai melanda dirinya. "Ternyata aku memang tidak menarik untuknya."


Hana ingin mengancingkan gaunnya kembali, namun dia dikagetkan dengan suara pintu terbuka dengan sangat kasar.


Bruukk...


Galvin masuk kembali ke dalam kamar Hana, dia menghampiri Hana, menatap tajam kedua matanya. "Kau sudah menggodaku malam ini. Jadi jangan salahkan aku jika malam ini aku meminta hakku." Galvin mengatakannya dengan nafas tersengal-sengal.


Hana tidak diberi kesempatan untuk menjawab karena pria itu langsung menariknya, menyambar bibir Hana dengan sangat brutal. Bahkan tangannya membuka kancing guan Hana, sampai gaun yang dipakai Hana kini berhambur jatuh lantai.