Mysterious Wife

Mysterious Wife
44



Tidak normal namanya jika Galvin tidak ingin melakukannya lagi dengan Hana, apalagi semalam itu pertama untuknya, pastinya masih terbayang dan terasa rasanya sampai sekarang.


Galvin semakin tidak bisa melupakan kejadian panas semalam itu gara-gara tadi pagi dia melihat Hana yang telanjang di kamar lewat kamera CCTV.


Namun Galvin tidak ingin melakukannya lagi dengan Hana, apalagi setelah tau wanita itu mempermainkan dirinya, dan bekerjasama dengan Samuel.


Galvin memutuskan untuk pura-pura tidak tau apa-apa soal Hana dan Samuel, dan dia memilih untuk mengikuti permainan mereka. Yang pastinya akan membuat mereka menyesal karena telah berani mengusik kehidupannya.


Siang ini ada Lea datang ke kantor, seperti biasa wanita itu selalu duduk di pangkuan Galvin dengan memakai pakaiannya yang seksi.


Galvin memang membutuhkan pelampiasan untuk melepaskan hasratnya apalagi setelah dia tau bagaimana nikmatnya bercinta, dia pasti ingin melakukannya lagi dan lagi. Tapi dia tidak sudi lagi menyentuh Hana.


"Apa kamu mau tidur denganku?"


Pertanyaan Galvin tentu saja sebuah anugrah buat Lea karena dari dulu dia meminta Galvin untuk bercinta dengannya tapi Galvin selalu menolak untuk berbuat lebih.


"Kamu serius?"


"Hmm... ya." Walaupun sebenarnya Galvin masih ragu karena jujur saja saat Lea duduk di pangkuannya. Galvin tidak bern@fsu sama sekali.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"


Galvin rasa Lea malah jadi banyak tanya, padahal dirinya sedang kesal merasa dibohongi oleh Hana. "Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa cari wanita lain."


"Tentu saja aku mau." Lea membelai pipi Galvin dengan mesra, "Kamu tau kan dari dulu aku sudah bilang kalau aku tidak virgin lagi. Tapi aku suka bermain sangat liar. Pastinya kamu akan puas dan ketagihan."


Lea mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Galvin namun lagi-lagi dia selalu merasa terganggu dengan kedatangan Hana.


Ceklek!


Hana membuka pintu dan masuk ke dalam tanpa permisi lebih dahulu, dia terkejut saat melihat Lea yang duduk di pangkuan Galvin.


Hana mengerutkan keningnya saat mendengar kata hotel, apa yang akan Galvin lakukan bersama Lea di hotel nanti malam.


Setelah Lea pergi, Hana langsung duduk di samping Galvin, menatapnya dengan kesal. "Untuk apa kamu janjian di hotel bersama kekasih kamu itu?"


Galvin tidak langsung menanggapinya, dia memilih menyibukan dirinya dengan laptop di hadapannya.


"Galvin!"


Galvin menghela nafas dalam-dalam, "Nanti malam aku tidak akan pulang ke rumah. Jadi kamu tidak perlu menunggu aku pulang."


Entah mengapa Hana sakit mendengarnya, dia yakin dia bukan sakit karena mencintai pria itu, tepatnya karena Galvin mengkhianati pernikahannya. Dia saja dengan Samuel selalu menghindar saat Samuel akan mencium bibirnya atau memeluknya.


"Kau tau selama satu bulan ini kamu adalah suami aku, jadi aku berhak melarang kamu untuk tidak berbuat keterlaluan dengan wanita lain selama menjadi suami aku."


Galvin menatap tajam pada Hana, Lalu bagaimana dengan kamu, apa kamu juga tidak bermesraan dengan Samuel di belakang aku?


"Kamu tidak berhak mengatur aku. Aku sudah bilang dari dulu jangan larang aku untuk bersenang-senang dengan wanita lain."


"Aku istri kamu, jadi aku berhak lah mengatur kamu. Pernikahan kita tinggal hampir dua minggu lagi, apa tidak bisa selama itu kamu menjadi suami yang baik untuk aku?"


Galvin tersenyum kecut, dia rasa mungkin Hana sedang mencoba untuk mengambil hatinya. "Kalau begitu apa kamu bisa menjadi istri yang baik untuk aku? Apa aku boleh meminta hak aku?"


Hana terbelalak mendengar pertanyaan dari Galvin. Hak apa yang Galvin maksud? Membuat wajah Hana memerah. "Emm... aku harus kembali mejaku dulu." Hana segera beranjak.


Namun Galvin menarik Hana hingga wanita itu terduduk di pangkuannya, membuat Hana terkejut menatap Galvin dengan hati yang berdebar-debar.


Tangan Galvin melingkari pinggang Hana yang terduduk di pangkuannya itu, "Jika kamu tidak ingin aku berbuat macam-macam dengan wanita lain. Aku ingin nanti malam kamu memakai lingerie pemberian dari Oma Rosa, berdandan lah sangat cantik, karena nanti malam kita akan menghabiskan malam bersama. Apa kamu mau?" Setelah mengatakan itu, hati Galvin tertawa melihat wajah Hana yang memerah, dia yakin Hana tidak akan mau melakukannya, dia pasti tidak mungkin mau mengkhianati Samuel.