
Hana dan keluarga Galvin sering mengunjungi makam para bodyguard yang telah meninggal karena ulah Samuel. Mereka turut bersedih atas apa yang menimpa pada mereka.
Yang pastinya semua kejadian ini tidak ada yang mengharapkannya, mereka harus meninggal saat sedang bertugas. Karena itu Hana dan keluarga Galvin tiada hentinya mengucapkan terimakasih karena mereka telah bertugas dengan begitu keras menjaga Hana, dan juga meminta maaf saat mereka bertugas sampai harus kehilangan nyawa, sebuah kejadian yang sama sama sekali tidak diinginkan.
Tepatnya empat orang yang meninggal. Yang lainnya masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Galvin berhasil melewati masa kritisnya, walaupun dengan penuh perjuangan untuk bisa bertahan hidup. Selama menjalani proses operasi dia teringat dengan Hana dan calon bayi yang ada di dalam kandungan Hana, karena itu Galvin memiliki keinginan yang tinggi untuk bertahan hidup demi Hana dan calon bayi mereka.
Walaupun Galvin sempat koma beberapa hari. Tapi dalam tiga hari ini dia sudah sadar, bahkan dia ingin Hana tidur di sampingnya, ingin selalu memeluk sang istri.
"Bagaimana keadaan para bodyguard sekarang?" Itu lah yang sering Galvin tanyakan.
"Mereka sudah baikan."
Galvin sangat bernafas lega mendengar mereka sudah baikan, mereka terluka saat bertugas di rumahnya. Bahkan telah menewaskan empat orang dalam tragedi malam itu. Salah satunya Radi, sang kepala bodyguard. Karena itu kedua orang tuanya beberapa hari ini sangat sibuk, karena Galvin belum sembuh total, mereka yang mengurus semuanya, akan menjamin kehidupan keluarga keempat bodyguard yang sudah meninggal itu, seumur hidup mereka, dalam makan, pendidikan, tempat tinggal dan lainnya. Walaupun nyawa tidak bisa dibeli dengan uang, tapi keluarga Galvin ingin bertanggung jawab untuk itu semua.
"Setelah aku sembuh nanti, ayo kita menikah secara resmi. Aku tidak ingin kamu menjadi istri siriku saja, karena aku ingin hidup dengan kamu selamanya."
Hana tersenyum tipis, dia mengangguk. "Iya, aku tidak ingin menjadi istri siri Mr. Arrogant lagi. Baiklah kita harus menikah secara resmi."
"Bukannya akhir-akhir ini aku selalu memperlakukan kamu dengan baik, aku sudah tidak bersikap arrogant lagi padamu." protes Galvin ketika di panggil Mr Arrogant.
"Iya, hanya saja aku sudah ingat dengan semua ucapan dan perlakuanmu dulu padaku."
Galvin menghela nafas, dia memang tau seorang wanita memang begitu, sedikit saja kesalahan pasangannya pasti selalu diingat apalagi kesalahan besar, Galvin memegang wajah Hana, mengusapnya dengan lembut, lalu mencium keningnya sebentar. "Maafkan aku, atas semua perlakuan aku sama kamu. Aku sangat menyesalinya, sungguh."
"Aku yang harusnya minta maaf. Karena aku hampir saja menghancurkan hidup kamu. Bahkan aku sempat ingin membunuh kamu." Hana mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Galvin malah tertawa kecil mendengarnya.
"Kita lupakan saja masa lalu buruk kita, aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan padaku dulu, sekalipun kamu mau membunuh aku. Yang pasti, sekarang kita saling mencintai. Dan hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."
Hana dan Galvin kemudian saling berciuman. Baru saja bibir mereka menempel, malah ada tamu yang datang. Rupanya Zhoya, dia memang tidak bisa membaca situasi orang dewasa ,padahal hari ini sudah malam.
Hana segera duduk di kursi yang ada di samping Galvin.
"Hai kak." sapa Zhoya pada Galvin dan Hana.
Keluarga Galvin memang hampir tiap hari datang ke rumah sakit, bahkan dari kemarin ikut menginap bersama Hana. Cuma hari ini Galvin melarang mereka untuk menginap, Galvin tidak ingin merepotkan keluarganya. Pasti mereka kelelahan sekali.
"Hmm... tadi Morgan nanyain kamu, katanya si bocil mana." ucap Galvin dengan suara pelan, karena perutnya masih terasa sakit.
Zhoya tersenyum lebar mendengarnya. Buat apa Morgan menanyakan dirinya, apa Morgan merindukannya?
"Dia datang kesini bareng cewek." ucap Galvin lagi, dia tidak tau kalau Zhoya memiliki perasaan pada Morgan.
"Cewek?" Entah mengapa Zhoya merasa tidak suka mendengarnya. Seketika senyumannya memudar.
"Morgan dijodohkan, katanya sih cewek itu anak dari patner bisnis papanya, bakal menjamin perusahaan papanya berjaya kembali. Makanya Morgan tidak bisa menolak."
Hana hanya diam, dia memperhatikan raut wajah Zhoya, sebagai sesama wanita dia pasti tau mengapa tiba-tiba Zhoya terlihat sedih, tapi dia tidak ingin segera menyimpulkan itu semua.
Zhoya pura-pura tersenyum mendengarnya, "Ba-baguslah, aku ikut senang mendengarnya."
...****************...
...Besok tamat...