Mysterious Wife

Mysterious Wife
60



Hari ini Pingkan sedang mencari kontrakan, di tempat yang agak sepi, jauh dari keramaian agar Samuel tidak mudah menemukannya.


"Bagaimana neng, apa kamu mau mengambil rumah kontrakan yang ini?" tanya calo kontrakan.


Pingkan yang biasa tinggal di apartemen mewah, dia nampak keberatan tinggal di kontrakan yang kumuh itu. Dia memperhatikan lingkungan di sekitar kontrakan itu, seperti bangunan tua.


"Apa tidak ada kontrakan lain lagi di daerah sini?" tanya Pingkan kepada calo kontrakan itu.


"Tidak ada lagi neng, disini juga hanya tersisa satu unit lagi. Kalau neng gak mau ambil, masih banyak yang ngantri kok."


"Emm... ya sudah, aku ambil." Saat ini Pingkan terpaksa tidak ingin menunjukkan wajahnya, dia harus memakai masker menutupi wajahnya. Takut Samuel menyewa orang untuk memata-matainya.


Dia harus memikirkan cara bagaimana agar dia bisa bertemu Hana dengan aman, karena saat ini hatinya sangat tidak tenang dan ketakutan. Dia takut Samuel menemukannya. Makanya dia tidak pernah mengaktifkan ponselnya.


...****************...


Drrttt... Drrrttt...


Ponsel Galvin bergetar. Dia melihat ada pesan dari Detektif Al, Galvin segera membuka pesan itu.


[Aku sudah menemukan data tentang Hana Patricia.]


Galvin tersenyum puas, akhirnya dia bisa mendapatkan data tentang Hana. Karena selama menjadi istrinya, Hana itu sangat misterius sekali.


Galvin segera mengetikkan jemarinya untuk membalas pesan dari Detektif Al.


[Good job, kirim saja datanya padaku. Hari ini aku mau ke Green Forest. Jadi tidak bisa bertemu langsung dengan anda.]


Sayang sekali, begitu pesan Galvin terkirim, ponselnya malah mati gara-gara lowbet. Karena semalam Galvin lupa tidak mengcharger ponselnya.


"Aishhh.... sial!" Galvin malah mengumpat. Dia segera Mencharger ponsel itu di mobilnya.


Dia melihat seorang supir masuk ke dalam mobil, "Mau berangkat sekarang Tuan?"


Galvin memang lebih suka menyetir mobil sendiri, tapi jika perjalanan jauh, dia lebih memilih menggunakan jasa supirnya.


Galvin berpindah posisi duduk di kursi kedua, sementara ponselnya dia biarkan baterainya penuh dulu.


"Emm..." Galvin terdiam sebentar, dia melihat Hana yang baru keluar dari rumah bersama Morgan.


"Kita berangkat duluan saja." Galvin menyuruh supirnya untuk segera menjalankan mobilnya.


"Gak usah banyak tanya, cepat jalan!" Galvin mengatakannya dengan sedikit meninggikan volume suaranya.


Galvin sudah tidak peduli lagi siapa yang menang atau kalah. Yang pasti saat ini dia sangat kecewa kepada istri sirinya itu. Dia akan bersikap seperti dulu, tak peduli apapun soal Hana.


Sang supir pun menganggukan kepala, "Baik Tuan." Dia begitu patuh kepada majikannya.


Hana melihat mobil Galvin melaju melewati dirinya dan Morgan. Hana menatap mobil itu dengan tatapan sendu, dia tidak mengerti mengapa Galvin seperti membenci dirinya.


Benci? Bukan kah memang itu akan terjadi jika suatu saat rencananya sukses dan menghancurkan Galvin, Galvin pasti akan lebih membencinya. Mengapa dia harus mempermasalahkan itu semua?


"Kenapa tuh anak dari tadi jutek mulu?" gerutu Morgan.


Beruntung semalam supir Galvin membawa mobil Morgan jadi mereka bisa berangkat memakai mobil Morgan, walaupun sebenarnya disana ada berjajar beberapa mobil sport milik Galvin.


"Berangkat bareng aku aja!" Morgan menawarkan tumpangan pada Hana.


"Emm...gak enak kalau nanti ada yang pada lihat, di kira kita ada apa-apa. Apalagi kamu seorang aktor." Hana tidak ingin berduaan dengan Morgan di dalam mobil.


"Gak apa-apa. Kita berangkat gak berdua kok. Ada manager aku juga akan ikut."


Hana terpaksa mengiyakan saja setelah tau mereka berangkat ke Green Forest tidak hanya berduaan dengan Morgan. Hana masuk ke dalam mobil di kursi kedua. "Aku duduk disini saja."


Morgan terkekeh geli, dia malah seakan seperti supir Hana, "Apa kamu punya pacar?" tanya Morgan sambil menoleh ke belakang.


"Kenapa tanya itu?" Hana malah balik tanya.


"Kamu seakan menjaga jarak dengan aku. Seperti ada hati yang ingin kamu jaga. Apa dia Galvin?"


Wajah Hana memerah, tidak boleh ada satu orang pun yang tau hubungan dia dengan Galvin karena Galvin ingin merahasiakan pernikahan siri mereka tanpa meninggalkan bekas jika mereka bercerai nanti.


Hana pura-pura terkekeh, "Kamu ini bicara apa? Mana mungkin seorang Pak Galvin memiliki hubungan khusus dengan aku."


"Aku harap begitu. Aku tau sekali Galvin seperti apa, dia seorang playboy elit yang sangat pemilih. Cuma aku merasa ada sesuatu diantara kalian berdua. Aku harap itu hanya perasaanku saja."


Hana hanya diam, dia memeriksa ponselnya, rupanya ada pesan dari Samuel yang belum dia baca.


[Pagi sayang, aku ingin kamu secepatnya menemukan file penting TVC Media. Kita bukan hanya menghancurkan orangnya tapi perusahaannya juga.]


Hana menghela nafas membaca pesan itu. Dulu dia begitu senang jika mendapatkan pesan dari Samuel. Tiap pagi Samuel selalu mengirim pesan padanya. Namun saat ini entah mengapa dia seperti kebingungan harus membalas apa, sampai akhirnya dia memilih untuk tidak membalas pesan itu.