Mysterious Wife

Mysterious Wife
21



Deg...Deg...Deg...


Jantung Galvin tiba-tiba berdetak begitu kencang. Dia menatap kedua bola mata Hana dengan begitu dalam.


Begitu Galvin tersadar, dia langsung menepis tangan Hana yang memegang dasinya, dia kelihatan salah tingkah sekali, sampai wajahnya memerah, Galvin kembali menegakan badannya. "Apa yang kau lakukan? Kau ingin menggodaku agar bisa tidur denganmu lagi? Jangan pernah berharap begitu, bahkan aku tidak akan pernah menyentuh apapun yang ada di dirimu. Camkan itu!"


Galvin merapikan dasi dan kemejanya sambil menatap tajam pada Hana.


"Oke, baguslah. Aku juga tidak akan mau disentuh oleh pria seperti kamu. Aku sudah pastikan tidak akan mencintai kamu lagi. Seharusnya malam itu aku menolak kamu." Hana menyinggung tentang satu malam yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Oke, tentu saja. Kamu harus tau diri." Galvin mengatakannya dengan penuh penekanan pada Hana agar Hana sadar siapa Hana saat ini.


Astaga, Anya mengapa kamu bisa jatuh cinta pada pria seperti ini? Apa dulu kamu tidak jujur pada pria brengsek ini kalau kamu juga bukan dari kalangan orang berada Anya, makanya dia memutuskan kamu begitu tau kamu orang miskin?


Sebenarnya dulu Hana pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang kaya raya, dia dan adiknya pernah di manja dengan begitu banyak harta. Namun semenjak kebakaran itu hartanya habis terbakar, dan perusahaan kedua orang tuanya di sita karena memiliki banyak hutang. Disana lah Samuel datang seperti dewa penolong, dia banyak menolong Hana, makanya Hana tak bisa menolak saat Samuel mengajaknya berkencan, dan dia belajar untuk membalas perasaan Samuel.


Ya bagi Hana Samuel adalah pria yang paling baik di dunia ini. Samuel seperti seorang pahlawan bagi Hana. Sangat berbeda dengan Galvin, sama sekali tidak ada sisi baiknya dari pria ini, walaupun dia akui Galvin memang tampan.


"Saya dengar Vixo akan launching produk baru dan membutuhkan jasa periklanan." Hana mencoba menjelaskannya sambil menunjukkan apa yang di bahas di laptop yang dia letakan diatas meja.


"Vixo? Perusahaan tentang apa itu?"


"Saya dengar itu di bidang fashion, CEO nya sangat selektif sekali."


Galvin manggut-manggut, dia berpikir semenjak, "Emm...coba kamu lihat siapa nama CEO disana?"


Hana segera mencari tau siapa nama CEO Vixo itu, "Namanya Nikitha Watty."


"Hmm... oke, biar nanti aku datangi langsung orangnya. Siapa tau dia minat bekerjasama dengan kita."


"Sudah aku bilang dia itu orangnya sangat selektif, dia tidak gampang menerima tawaran kerja sama dengan siapapun."


Galvin terkekeh, urusan menarik hati wanita itu adalah perkara yang mudah buat Galvin, "Sepertinya kamu lupa dengan ketampanan dan pesona suamimu ini. Itu semua biar aku yang urus." Galvin mengatakannya dengan percaya diri.


Galvin teringat dengan kerjasamanya dengan Morgan Xavier, "Apa kamu sudah bertemu dengan Morgan Xavier lagi?"


"Belum, memangnya kenapa?"


"Untuk memastikan sebentar lagi akan diadakan syuting iklan."


"Oke baik, nanti aku akan menemui dia."


...****************...


Siang ini Hana menemui Morgan, seorang aktor papan atas itu di kantor managementnya, dia ingin menjelaskan tentang proses syuting iklan nanti dan juga dimana tempat yang akan dijadikan syuting iklan itu.


"Jadi nanti kita akan mengadakan syuting iklan di Hutan Green Forest di kota C milik Alaska Corp." Hana mencoba menerangkan apa saja yang harus dia sampaikan pada Morgan.


Namun Morgan malah lebih fokus kepada orang yang sedang berbicara padanya, apalagi Hana memiliki bibir yang tipis, sangat terlihat imut kalau berbicara.


"Saya Hana Patricia, sekretarisnya Pak Galvin."


"Emm...." Morgan menopang dagu, "Coba berdiri."


"Untuk apa?"


"Berdiri saja."


Hana hanya menghela nafas, dia rasa aktor ini tidak jauh berbeda dengan Galvin. Hana terpaksa berdiri dengan penuh tanda tanya.


"Coba kamu berputar!"


"Untuk?" Hana mengerutkan keningnya.


"Berputar saja."


Hana terpaksa berputar di depan Morgan, hanya satu putaran.


Morgan menepukan tangannya, "Wah...wah...wah... pintar sekali si Galvin nyari sekretaris."


Morgan terpukau dengan penampilan Hana.


Padahal Hana bukan hanya sekretaris tapi istrinya Galvin juga.


Hana jadi penasaran ada hubungan apa Galvin dan Morgan sampai Galvin tidak sanggup untuk membujuk Morgan sebagai model di sepeda Speed itu. "Kalau boleh tau mengapa kalian terlihat seperti bermusuhan!"


"Maksud kamu aku dan Galvin?"


"Iya."


Morgan berpikir sejenak, "Hmm... kami dulu satu sekolah. Kita bermusuhan karena sama-sama berkuasa di sekolah, apalagi kami bersaing soal ketampanan." Morgan berkata begitu sambil mengangkat kedua alisnya.


Morgan menambahkan perkataannya, "Padahal kamu lebih cocok jadi model ketimbang jadi sekretaris."


Hana tersenyum, tersipu malu. "Padahal kalian lebih cocok berteman, satu tipe."


"Oh tidak lah, aku tidak ingin berteman dengan dia. Bahkan gara-gara dia teman satu kelas kami meninggal."


Hana tercengang mendengarnya, rupanya selain Anya, ada korban Galvin juga yang sampai meninggal seperti itu. Hana semakin yakin kalau Galvin penyebab kematian Anya.


"Bahkan sekarang dia jadi bermusuhan dengan temannya itu."


"Temannya? Siapa temannya Galvin?" Hana jadi penasaran dengan cerita Morgan.


"Namanya..."


...****************...