
Flashback On...
Seperti Hana dan Galvin, semalam Samuel telah menghabiskan malam bersama Pingkan di apartemen Pingkan. Pria itu selalu datang padanya saat hanya membutuhkan tubuhnya saja.
Pagi-pagi sekali Samuel harus segera pergi dari rumah Pingkan, dia ingin tiba lebih awal ke kantor karena akan bertemu dengan Hana, apalagi dia harus membuat makanan kesukaan Hana, yaitu pasta.
"Ini masih jam 7 lho, kenapa harus buru-buru pergi?" tanya Pingkan, dia merasa Samuel datang padanya hanya menginginkan kepuasan saja.
"Aku ada urusan." jawab Samuel dengan nada datar, dia begitu tenang memakai pakaiannya.
"Apa akan bertemu kak Hana?"
"Memangnya kenapa tanya itu?"
"Lihatlah wajah kamu di cermin, kau seakan terlihat senang akan bertemu seseorang, apa kak Hana special untuk kamu?" Pingkan akui dia memang mencintai Samuel, tapi dia tau sekali Samuel tidak pernah mencintainya, Samuel hanya butuh tubuhnya untuk pelampiasan.
Samuel tidak terima dengan perkataan Pingkan yang mengira Hana special untuknya, dia menatap tajam pada Pingkan, "Maksud kamu apa berkata begitu heuh? Kamu pikir aku menyukainya?"
"Dari cara kamu menatap kak Hana itu aku tau kamu bukan sekedar menyukainya, tapi kamu mencintainya, Sam. Apa kamu tidak sadar itu?"
Samuel sangat marah karena Pingkan berani sekali menuduh dia mencintai Hana, sampai kapan pun dia tidak akan sudi memberikan hatinya pada Hana.
Samuel melempar vas bunga ke arah Pingkan yang masih duduk di pinggiran ranjang.
Prang...
Vas bunga itu hancur berserakan di lantai, untung tidak sampai mengenai Pingkan.
"Sam..." Pingkan sangat terkejut sekali, dia tidak tau bagaimana nasibnya jika vas bunga itu mengenai kepalanya.
Samuel mencengkram leher Pingkan membuat Pingkan kekelabakan, "Emmhhh....emmhhh..."
"Jangan berkata begitu lagi. Aku tidak akan pernah mencintai wanita bodoh itu. Sekali lagi kamu berani menuduh aku seperti itu, aku akan mematahkan leher kamu, mengerti?" Samuel tampak mengerikan sekali pagi itu.
Pingkan terpaksa menganggukan kepalanya.
Samuel melepaskan cengkramannya, dia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menghilangkan emosinya, kemudian dia baru sadar telah membuat Pingkan ketakutan.
Samuel langsung memeluk Pingkan, "Maafkan aku, aku membuat kamu takut. Tapi tolong jangan membuat aku marah lagi. Jadilah Pingkan yang penurut dan gak banyak tanya."
Pingkan sangat takut Samuel akan membunuhnya jika dia tidak nurut, Pingkan terpaksa menganggukan kepala lagi.
Samuel tersenyum, dia mengusap wajah Pingkan dengan lembut, "Good Girl. Aku sangat senang kamu seperti ini."
Pingkan hanya diam tak berkata apa-apa.
"Hari ini aku kebetulan mau ke hotel, apa kamu mau bercinta dengan aku lagi disana, bukannya sangat menyenangkan saat kita bercinta disana?" Samuel memang memiliki tempat khusus untuk bercinta dia dengan beberapa wanita termasuk Pingkan di hotel itu, disana ada beberapa alat yang biasa dia gunakan untuk BD-SM.
"Sayang sekali, padahal tadinya sekalian aku datang kesana untuk mengecek lagi CCTV saat aku melenyapkan Anya."
Pingkan terbelalak mendengarnya, itu artinya nyawanya akan terancam jika Samuel melihat dia yang membawa ponsel Anya, di dalam lift itu.
Flashback Off...
Saat ini Pingkan sedang berada di dalam bus menuju luar kota, dia harus segera melarikan diri dari Samuel, dia yakin Samuel saat ini sudah melihat rekaman CCTV saat dia membawa ponsel Anya.
Pingkan rasa Hana harus mengetahui semua kejahatan Samuel, dia mengirim pesan pada Hana untuk mengajaknya ketemuan.
[Kak Hana, apa kita bisa bertemu?]
Hana mengerutkan keningnya, untuk apa Pingkan ngajak ketemuan dengannya. Dia pun membalas pesan dari Pingkan.
[Boleh, kamu mau kita bertemu dimana? Dan kapan?]
Pingkan mendengar ponselnya bergetar, rupanya ada balasan dari Hana. Dia segera membalas pesan itu.
[Nanti saja aku kasih tau kak Hana waktu dan tempatnya]
Pingkan tidak boleh bertemu sekarang-sekarajg dengan Hana karena dia yakin pasti Samuel akan mengikuti Hana, Samuel pasti takut Pingkan akan menceritakan semuanya pada Hana. Dia harus menunggu Samuel lengah dulu. Apalagi saat ini dia harus fokus mencari tempat persembunyian.
[Oh ya sudah. Kabari saja nanti.]
Pingkan membalas pesan dari Hana kembali.
[Oh iya kak, tolong jangan kasih tau siapa-siapa kita mau ketemuan.]
Hana mengerutkan keningnya begitu melihat balasan dari Pingkan.
[Kenapa?]
Pingkan membalas pertanyaan dari Hana kembali.
[Biar nanti aku jelaskan saat kita bertemu. Hanya kita berdua yang tau ya kak.]
Hana menjadi tidak enak hati mengapa Pingkan tidak ingin siapapun tau mereka akan ketemuan. Tapi dia harus mengikuti permintaan Pingkan itu.
[Baiklah, hanya kita berdua yang tau.]
Pingkan merasa lega melihat jawaban dari Hana, dia tidak mungkin mengatakan soal Samuel lewat telepon pada Hana karena dia yakin Hana tidak akan mudah mempercayai ucapannya, dia harus bertemu dengan Hana secara langsung.
Pingkan langsung menonaktifkan ponselnya, agar Samuel tidak mudah melacak keberadaannya.