
"Ahhh...." Hana telah mencapai pelepasan untuk ketiga kalinya. Dia memeluk erat punggung Galvin untuk menahan segala rasa kenikmatan malam ini.
Galvin tersenyum puas, ada kebanggaan tersendiri saat dia bisa menaklukkan seorang Hana, bahkan bisa bercinta dengannya. Mau bagaimana lagi tubuhnya hanya menginginkan wanita itu, sampai pikirannya tak bisa move on saat pertama kali mereka bercinta.
Galvin memutuskan untuk tidak akan berkencan lagi dengan siapapun selama dua minggu ini. Dia ingin fokus pada masalahnya dengan Samuel dan Hana.
Galvin masih begitu perkasa memompa tubuh Hana, dia menegakan badannya kemudian mengangkat kedua kaki Hana, dia memasukan kembali sang jantannya, kali ini lebih terasa sangat sangat sempit membuat nafas Galvin tersengal-sengal karena dia sendiri begitu sangat menikmati percintaannya malam ini. Yang entah akan terulang lagi atau tidak ke depannya.
Bahkan pria itu bukan hanya membuat Hana mencapai pelepasannya tiga kali saja, tapi lebih dari itu. Galvin begitu kuat sehingga membuat Hana lelah dan tertidur.
Sampai Hana tidak tau jam berapa Galvin mengakhiri percintaan mereka malam itu, karena Galvin sangat membuatnya kelelahan.
Hana kaget tiba-tiba Galvin menggendong tubuhnya ke kamar mandi, rupanya sudah pagi, sementara mereka masih telanjang.
Galvin memasukan Hana ke dalam bath up yang sudah terisi air, di dalam sana mereka bercinta lagi, Hana yang masih ngantuk hanya bisa pasrah karena diapun menikmatinya, dia hanya bisa menyadarkan kepalanya di pinggiran bath up, dan kedua tangannya memegang erat pinggiran bath up itu.
Guncangan Galvin membuat air didalam bath up itu bergelombang, perlahan-lahan ada yang tumpah keluar dari bath up sana.
Bukan hanya disitu saja, Galvin mulai membersihkan tubuh Hana dibawah guyuran air shower, dia mengusap seluruh tubuh Hana dengan sabun cair, sampai badannya berbusa, kemudian dia menyeret Hana ke dinding, dan menyatukan kembali kedua miliknya.
"Ahhh....ahhh...ahhh..."
Des@han mereka memenuhi kamar mandi itu. Hana memeluk punggung Galvin, sementara Galvin terus menekannya sampai bisa masuk sepenuhnya dan bergerak dengan begitu cepat.
Walaupun hati dan pikirannya tidak sejalan dengan tubuhnya, dia sangat menikmatinya, bahkan sampai dia tidak sempat menangis karena Galvin telah membuat dia tidak perawan lagi. Hana bukan wanita yang gampang nangis seperti itu, lagi pula dia juga menikmati apa yang Galvin lakukan kepada tubuhnya walaupun dia mengelak.
Walaupun dia telah merasa mengkhianati Samuel. Samuel pasti akan marah jika tau dia dan Galvin telah bercinta. Tapi jujur saja setelah mendengar keterangan dari Morgan tentang Galvin, Mitha, dan Samuel membuat ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Hana.
Aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku Hana, aku akan membuat kamu tergila-gila padaku._ kata hati Galvin.
Bagi Galvin membuat wanita jatuh cinta padanya itu sangat mudah sekali. Dia yakin dia bisa menaklukkan Hana, malah membuat Hana mengkhianati Samuel, Galvin tidak ingin membuang banyak tenaga untuk menghadapi mereka, cukup dengan mengacaukan rencana mereka saja, dengan membuat Hana jatuh cinta padanya, itu sudah membuat Galvin pemenangnya.
Apalagi Galvin sudah janjian dengan seorang detektif, untuk mengurus semuanya. Dia ingin tau latar belakang tentang Hana, dan juga ingin tau lebih dalam apa rencana mereka sampai Samuel mengirim Hana padanya. Tak habis pikir mengapa bisa ada seorang kekasih mengirim kekasihnya pada musuhnya. Galvin ingin menggali lebih dalam lagi soal itu.
"Ahhh....Ahhh..." Keduanya mengerang panjang saat merasakan gelombang dahsyat itu keluar dari tubuhnya, tepatnya memuntahkannya di dalam Hana, entah ke berapa itu.
Galvin mencium bibir Hana yang tubuhnya telah dia kunci di dinding kamar mandi, kemudian dia menatap intens kedua bola mata Hana, "Sekarang kamu sadar kan, kamu sudah membohongi aku. Rupanya malam itu kamu hanya menjebak aku. Kenapa malam itu kamu menjebakku, Hana?"
"Mengapa kamu ingin menikah dengan aku sampai menjebakku seperti itu?"
Galvin ingin tau apa Hana akan menjawabnya dengan jujur atau membohonginya lagi.
Hana jadi sedikit gelagapan saat menyadari dirinya telah ketahuan menipu Galvin, "A-aku..."