
Pagi telah tiba, Hana terbangun karena merasakan silaunya matahari, dia perlahan-lahan membuka matanya.
Hana terlonjak begitu tersadar dirinya tertidur berada dipelukan Galvin sementara Galvin menyandarkan punggungnya ke pohon, pria itu memeluk Hana begitu erat.
Padahal semalam Hana hanya pura-pura tertidur, dia malah ketiduran beneran, mungkin karena dirinya merasa nyaman dipelukan Galvin.
Tidak boleh, aku tidak boleh nyaman di dekatnya.
Hana menguatkan hatinya, dia tidak boleh terbawa perasaan pada Galvin, apalagi sampai jatuh cinta padanya, walaupun dia tahu betul hatinya bergetar setiap bersama pria itu, tapi dia selalu menyangkalnya.
Galvin bersalah ataupun tidak, tetap saja Hana memutuskan untuk pergi dari hidup Galvin. Apalagi kalau sampai terbukti ucapan Galvin benar, bahwa dirinya tidak bersalah. Hana akan sangat merasa malu dan bersalah pada Galvin karena telah mengacaukan hidupnya.
Hana melepaskan pelukan Galvin, namun Galvin malah menariknya lagi kepelukannya. "Kamu mau kemana?" tanya Galvin sambil tersenyum manis, dia membuka matanya.
Pria itu dari semalam selalu bersikap manis padanya. Membuat perasaan Hana tak karuan.
"Emm... sudah pagi, lebih baik kita cari jalan keluar dari hutan ini." Hana mengatakannya dengan terbata-bata. Dia melepaskan pelukan Galvin, dan segera berdiri.
Galvin ikut berdiri, dia merenggangkan kedua tangannya yang pegal karena Hana tidur di pangkuannya semalaman. "Semalam kamu tidur nyenyak sekali sampai memeluk erat tubuhku."
Hana jadi salah tingkah mendengarnya, mengapa juga dia harus tertidur di pelukan Galvin. Padahal Hana sangat takut suasana yang begitu gelap, tapi kehadiran Galvin membuat rasa takut itu hilang.
"Hmm... semalam aku kelelahan, makanya aku tertidur." Hana berpura-pura bersikap biasa saja. Bahkan dia sudah bilang semalam pada Galvin kalau dirinya tidak akan mengharapkan cinta Galvin lagi. Karena faktanya Hana sudah tidak ingin lagi melanjutkan misi balas dendam ini.
Hana ingin pergi melangkah, namun dia sedikit meringis begitu merasakan kakinya yang terasa begitu perih karena terluka saat terjatuh semalam. "Shhh... ahh!"
Galvin begitu mengkhawatirkan Hana, dia membuka kain yang menutupi luka Hana, Hana baru sadar melihat Galvin yang kemejanya robek bagian lengannya karena untuk menutupi luka di betis Hana.
"Luka kamu harus segera diobati. Jangan sampai terinfeksi." Galvin menutupi luka Hana kembali dengan kain.
"Emm...iya, tentu saja." Perhatian Galvin membuat Hana gugup. Biasanya pria itu selalu merendahkannya dan bersikap arogan, namun sekarang benar-benar berubah, bersikap begitu manis padanya. Hampir saja membuat hatinya meleleh, pantas jika banyak wanita yang tergila-gila padanya.
Galvin tau apa yang dirasakan Hana, dia segera berjongkok di depan Hana. "Ayo naik!" Dia menyuruh Hana untuk naik ke punggungnya.
Tentu saja Hana langsung menolak, "Oh tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri."
"Kalau kamu berjalan seperti itu, yang ada kita akan kemalaman lagi disini. kamu mau menginap di hutan lagi bersama aku?" Galvin malah menggodanya.
"Aku bisa berjalan kok." Hana mencoba melangkah lagi.
Galvin malah gemas pada istrinya itu, dia segera membalikan badannya, dan memangku Hana ala bridal style. Membuat Hana terkejut.
"Galvin lepas!" Hana ingin mencoba berontak.
Tapi Galvin tidak mendengarkan, dia berjalan dengan santai sambil menggendong dirinya. Hana terpaksa melingkarkan kedua tangannya pada leher Galvin karena takut terjatuh.
Galvin hanya tersenyum saja, entah mengapa sekarang ini sikap Hana begitu menggemaskan untuknya.
"Galvin..."
"Hm?"
"Lepaskan aku!"
Galvin berbisik pada Hana "Apa kamu ingin menginap lagi disini? Aku sih nggak. Apalagi semalam aku melihat di atas pohon..."
"Stop! Jangan diteruskan!" Hana malah menyuruh Galvin berhenti bicara, bulu kuduknya mendadak merinding gara-gara mendengar cerita dari Galvin. Dia pasrah saja membiarkan Galvin menggendong dirinya.
Galvin malah menahan tawa melihat Hana yang mendadak jadi penurut. Padahal semalam dia tidak melihat apa-apa.