
"Seandainya ada wanita yang mati gara-gara kamu, apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah sudah menyakitinya? Setidaknya kamu pasti mengingat namanya?" Hana hanya ingin tau apa Galvin masih memiliki hati nurani kepada adiknya itu.
Pertanyaan Hana malah mengingatkan Galvin kepada Mitha, teman semasa SMA nya yang mati karena kecelakaan, dan kecelakaan itu yang membuat Samuel marah besar pada Galvin dan menyalahkannya juga.
Galvin jadi malas untuk membahasnya, walaupun dia memang merasa bersalah pada Mitha, tapi dia rasa Samuel tidak berhak untuk menyalahkan dirinya, karena dia tidak tau apa-apa soal itu. Dulu Galvin belum menjadi playboy seperti saat ini. Apalagi Galvin memiliki tambatan hati yaitu Hana.
"Untuk apa juga bertanya seperti itu?"
"Hanya bertanya saja, apa kamu akan dihantui rasa bersalah pada wanita itu?"
"Untuk apa juga aku merasa bersalah? Jika dia matipun itu sama sekali bukan kesalahan aku. Aku tidak perlu bertanggungjawab atas kematiannya."
Hana menggela nafas mendengarnya, dia semakin yakin ingin membalas dendamnya pada Galvin, pria itu sama sekali tidak memiliki hati nurani, membuat Hana semakin membencinya.
Galvin teringat dengan undangan pesta ulang tahun perusahaan Vixo, perusahaan yang baru saja bekerjasama dengannya, "Besok malam akan ada pesta ulang tahun perusahaan Vixo, kau harus datang juga kesana."
"Haruskah aku datang juga?
"Tentu saja sebagai sekretaris aku. Ingat sebagai sekretaris!" Galvin mencoba mengingatkan Hana, Galvin tidak ingin ada yang tau bahwa dirinya sudah menikah siri dengan Hana.
Hana jadi teringat dengan brand ambassador di perusahaan Vixo itu, rupanya musuh bebuyutan Galvin, yaitu Morgan Xavier. Hana rasa dia memang harus ikut datang kesana. Ada hal yang ingin dia tanyakan pada Morgan.
"Baiklah aku akan datang, tapi apa kamu tau brand ambassador Vixo itu Morgan Xavier?"
Galvin terdiam sejenak, dia menjawab pertanyaan Hana dengan nada kesal. "Ya aku terlambat mengetahuinya."
Galvin menyadari rupanya dia banyak sekali bicara dengan Hana, "Hm...jangan bicara santai padaku lagi apalagi bertanya apapun, kau harus tau batasan."
Galvin menepuk-nepuk guling yang menjadi pembatas diantara mereka, "Ingat, jangan melewati batas ini!"
"Kalau aku tidak sengaja melewatinya bagaimana?" tanya Hana, mereka saling berhadapan.
"Aku akan menghukum kamu."
"Astaga, hanya karena melewati batas guling saja sampai harus mendapatkan hukuman?" sewot Hana.
"Ya harus!" Galvin menganggukan kepala.
"Apa hukumannya?" Hana jadi penasaran.
"Hmm... oke, tenang saja. Aku kalau tidur itu seperti orang mati. Selalu diam di tempat."
"Oke, baguslah!"
Namun rupanya apa yang Hana ucapkan tidak sesuai dengan kenyataan, malam itu saat tengah malam, mereka akhirnya tertidur pulas.
"Dasar cowok brengsek!"
"Aku tendang kamu ke neraka!" Hana mengigau.
Bughh...
Galvin tersentak kaget saat merasakan ada yang menendang dirinya begitu keras. Sampai di terjun ke lantai.
Tuingg...
Brukkk...
Galvin tergeletak di lantai.
"Arrrggghhh!" Dia meringis memegang punggungnya yang sakit.
Galvin segera bangkit sambil memegang punggungnya, "Aishhh... " Dia menatap Hana dengan tatapan kesal.
Galvin ingin sekali memarahi Hana. Tapi melihat Hana yang tertidur sangat nyenyak, dia tidak tega melihatnya.
"Wanita macam apa yang aku nikahi ini? Apa mungkin dia jelmaan hulk?" Galvin menatap kesal pada Hana sambil berkacak pinggang.
Galvin terpaksa mengalah, dia memilih tidur di sofa, apalagi matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia masih sangat ngantuk.
Rupanya Hana belum tidur, dia menahan tawa menatap Galvin yang berjalan menuju sofa. Dia memang tidak nyaman tidur satu ranjang dengan pria. Apalagi dengan pria brengsek seperti Galvin, pria itu sama sekali tidak merasa bersalah atas kematian Anya, itu lah yang ada dipikirkan Hana.
Hana segera memejamkan matanya kembali takut ketahuan oleh Galvin.
"Awas saja besok aku hukum kamu!" Galvin mengumpat sambil membaringkan tubuhnya di atas kursi sofa.
Hana menelan saliva mendengarnya, emang hukuman apa yang Galvin berikan padanya. Paling juga disuruh beres-beres rumah.