Mysterious Wife

Mysterious Wife
45



Tangan Galvin melingkari pinggang Hana yang terduduk di pangkuannya itu, "Jika kamu tidak ingin aku berbuat macam-macam dengan wanita lain. Aku ingin nanti malam kamu memakai lingerie pemberian dari Oma Rosa, berdandan lah sangat cantik, karena nanti malam kita akan menghabiskan malam bersama. Apa kamu mau?" Setelah mengatakan itu, hati Galvin tertawa melihat wajah Hana yang memerah, dia yakin Hana tidak akan mau melakukannya, dia pasti tidak mungkin mau mengkhianati Samuel.


Perkataan Galvin sungguh membuat hati Hana deg-degan, pasti akan ketahuan dia masih perawan oleh Galvin. Dia tidak mengerti mengapa Galvin tiba-tiba berubah pikiran untuk menyentuhnya. "Sudah ku katakan aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh aku jika belum mencintaiku. Apa kamu sudah mencintai aku?"


"Bahkan kau yang bilang sendiri tidak sudi menyentuh aku lagi." Hana meneruskan perkataannya.


"Hmm... ya sudah, kalau begitu kamu jangan pernah mengatur aku." Galvin melepaskan Hana membiarkan wanita itu berdiri kembali di hadapannya.


Siapa juga yang ingin menyentuh kamu lagi. Bahkan aku bisa tidur dengan banyak wanita yang lebih dari kamu._ kata hati Galvin, dia hanya ingin membuat Hana gelagapan saja karena mungkin Hana mengira dirinya masih perawan, akan ketahuan telah menjebak Galvin.


Sebenernya Hana sangat kesal, dia semakin membenci pria itu karena tak bisa sedikit saja menghargai pernikahannya, malah akan tidur dengan wanita lain. Tapi kenapa dia harus kesal padahal dia sudah tau dari dulu kalau Galvin ini laki-laki yang benar-benar brengsek.


"Tolong buatkan aku kopi." suruh Galvin, dia memilih fokus kembali pada laptopnya.


Hana hanya bisa menatap geram pada Galvin, dia terpaksa harus pergi ke pantry sambil uring-uringan.


"Dasar lelaki tidak berperasaan, lelaki bajingan. Huhh hhh..." Hana terus mengumpat lalu menghirup nafas dalam-dalam, dia benar-benar kesal karena Galvin tidak sedikit saja menghargai kehadirannya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Galvin menyentuhnya, dia akan merasa bersalah pada Samuel jika sampai Galvin menyentuh tubuhnya.


Hana segera membuatkan kopi untuk Galvin, dia mengaduk-aduk kopi itu agar larut ke dalam air panas, tiba-tiba dia teringat dengan racun yang Samuel berikan padanya.


Hana membawa botol kecil yang berisi racun itu dari tasnya, dia membuka tutup botolnya, dia rasa pria brengsek seperti Galvin memang pantas mati.


Namun entah mengapa dia merasa berat untuk melakukannya, apalagi mengingat ada hal yang menjanggal yang belum dia ketahui antara Galvin dengan Samuel. Hana menutup botolnya kembali dan memasukan kembali botol itu ke dalam tasnya.


Hana mengantarkan kopi buatannya ke ruang CEO, dia menyimpan gelas itu dengan kasar di atas meja sampai terdengar suara bunyi saat gelas itu menyentuh meja.


Galvin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia langsung menatap Hana dengan tatapan penuh keheranan karena melihat Hana yang seperti kesal sekali padanya. Tanpa berkata apa-apa Hana pergi begitu saja dari ruangannya.


"Ada apa dengan dia? Apa dia cemburu karena aku akan tidur dengan Lea?"


Galvin menyeruput kopi panasnya. Beruntung Hana tidak jadi memasukkan racun ke dalam kopi itu.


...****************...


Hmm...oke lupakan saja, terserah dia mau ngapa-ngapain dengan kekasihnya itu.


Hana mencoba menenangkan hatinya, saat ini dia sedang duduk di meja khusus sekretaris.


Hana rasa ada yang lebih penting dari ini, dia lebih baik menghubungi Morgan sekarang. Dia rasa hanya Morgan yang bisa dia andalkan untuk mengetahui hubungan apa antara Galvin, Samuel dan wanita yang belum dia ketahui namanya itu.


"Hallo Morgan, ini dengan Hana, apa kamu masih ingat?"


Galvin yang baru keluar dari ruangannya karena ingin menanyakan schedule hari ini pada Hana, dia langsung berhenti melangkah begitu mendengar Hana yang sedang berteleponan dengan Morgan.


"Wanita ini benar-benar ya, apa belum cukup dengan Samuel? Dan mempermainkan aku? Sekarang dia embat Morgan juga." gerutu Galvin dengan nada pelan.


Tentu saja Morgan sangat senang begitu mendapatkan telepon dari Hana. "Oh Hana, akhirnya kamu meneleponku juga. Aku mencoba mencari nomor telepon kamu tapi susah sekali."


Hana memilih lebih baik dia to the point saja pada Morgan, "Aku ingin bertemu dengan kamu, apa kamu punya waktu malam ini?"


"Kebetulan malam ini aku free, baiklah kita nanti ketemu." Morgan kegeeran, dia pikir Hana menemuinya karena merindukannya. "Mau ketemu dimana?"


"Di cafe Star saja, aku tunggu kamu disana."


Galvin masuk kembali ke dalam ruangannya, dia tidak ingin Hana tau bahwa dia tadi menguping pembicaraan Hana dengan Morgan.


"Sebenarnya apa rencanamu Hana? Mengapa sampai ingin mendekati Morgan juga?" Galvin semakin kesal pada istrinya itu.