
...Mumpung pagi, buat yang sudah nikah, kurung suami atau isterinya, asal jgn kurung tetangga hehe......
...Buat yang belum nikah kita nangis bareng dipojokan sambil ngemil es batu 😅...
Kemudian Galvin melepaskan kecupan itu, memegang wajah Hana, memandangnya dengan begitu intens, "Mau aku buktikan kalau ucapan aku itu benar bahwa kamu memang tidak virgin lagi, hm? Siapa tau dengan begitu kamu bisa perlahan mengingat aku. Bahkan aku tau ada bekas luka kecil, seperti bekas luka bakar di punggung kamu."
Sebenarnya Zhoya sudah menjelaskan panjang lebar untuk meyakinkan kalau Hana adalah istrinya Galvin, dia yakin Zhoya tidak mungkin membohonginya. Apalagi melihat perjuangan Galvin segitu besarnya padanya, bahkan saat mendengar nama Galvin saja membuat hati Hana bergetar, apalagi setelah bertemu dengannya waktu di rooftop itu membuat jantung Hana berdetak begitu hebat. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan pada Samuel, padahal Samuel sudah meyakinkannya beberapa kali kalau dia adalah kekasihnya Hana.
"Maafkan aku yang belum bisa mengingat kamu, tapi walaupun aku belum bisa mengingat kamu, hati aku tau siapa pemiliknya, yaitu kamu." Hana mengatakannya dengan tatapan sendu.
Hana menatap Galvin dengan mata berkaca-kaca, "Selama di Jerman pikiran aku kosong, hati aku rasanya sangat hampa, seakan merindukan seseorang tapi entah siapa itu. Tapi setelah bertemu dengan kamu, akhirnya aku tau siapa yang hati aku rindukan."
Galvin merasa terharu mendengarnya, padahal selama ini Hana tidak pernah menatapnya seperti itu. Apalagi berkata manis seperti itu. Bahkan dulu dia pikir Hana mencintai Samuel karena Hana bekerjasama dengan Samuel untuk menjebaknya, dia tidak tau hati Hana sedalam itu padanya, padahal dia masih amnesia, tapi hati Hana masih tertuju padanya.
Hana rasa ajakan Galvin tidak ada salahnya, mungkin dengan melakukan apa saja yang pernah dilakukan bersama Galvin, bisa membuat Hana mengingat kenangannya bersama Galvin sedikit demi sedikit.
Galvin mencium Hana dengan begitu lembut, melu-mat dan menyesapnya dengan penuh perasaan, membuat Hana terbuai dengan ciuman itu.
Hana mulai gugup begitu Galvin membuka bathrobenya, hingga bathrobe itu berhambur ke lantai, membuat Hana sangat gugup sekali, walaupun Galvin bilang mereka dulu sering melakukannya, tapi baginya saat ini adalah pertama untuknya, karena dia sama sekali tidak ingat saat melakukannya bersama Galvin. Hingga sampai Galvin mengira dirinya tengah hamil.
Galvin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hana yang jenjang, menghirup aroma wanita yang begitu sangat dia rindukan itu, kemudian menyesapnya, membuat Hana terhanyut semakin dalam, tidak ada lagi rasa canggung, tubuh dan nalurinya mulia bergerak mengikuti hasratnya bahkan kini dia terus mengeluarkan suara erotis begitu Galvin mulai melahap buah dadanya.
Lidah itu begitu lihai mengetarkan jiwa, bergerak dengan begitu menggoda, membuat tubuh Hana bergetar, apalagi saat Galvin menghisap dengan kuat bagian puncaknya yang berwarna merah jambu itu, rasanya sangat memabukkan.
Hana tak kuasa saat merasakan jemari Galvin bergerak dengan begitu lembut di area sensitifnya. Membuat Hana semakin menggila, rasanya dia sudah tak sanggup berdiri lama-lama dalam keadaan seperti ini.
"Emmhhh... ahhh... Galvin!" Hana reflek menyebutkan nama Galvin, rasanya dia pernah mendes-ah seperti itu sebelumnya, atau bahkan sering.
Hampir saja Hana kehilangan keseimbangan, beruntung Galvin memeluk erat punggung Hana, kemudian pria itu menggendong Hana ala bridal style. Membawanya ke atas ranjang.