
Ceklek!
Galvin yang sedang duduk diatas kasur, dia lagi asik main game di ponselnya, dia langsung menoleh ke arah Hana yang baru masuk ke kamarnya. Seketika ponselnya terjatuh, matanya membulat, dia terperangah begitu melihat penampilan Hana yang sangat seksi itu.
Galvin meneguk salivanya melihat pemandangan yang indah di hadapannya.
Sontak Hana langsung menyilangkan tangan di dadanya, jangan sampai Galvin tergoda oleh penampilannya, walaupun mereka adalah pasangan suami istri, tapi Hana sama sekali tidak rela harus melayani Galvin sebagai seorang suami. Karena yang ada dipikirannya hanya balas dendam pada pria itu.
"Ke-kenapa menatap aku seperti itu?" protes Hana, dia masih berdiri di depan daun pintu.
Galvin yang dari tadi terfana dengan penampilan Hana, dia tersadar begitu mendengar pertanyaan dari Hana. Dia sadar, dia tidak boleh terpedaya oleh wanita yang menurutnya sangat murahan itu karena menggunakan kesempatan untuk tidur dengannya seakan dia dijebak oleh Hana. Galvin rasa mungkin karena Hana bukan dari orang berada pastinya dia melakukan itu semua demi mendapatkan hartanya.
Galvin berpura-pura biasa saja, dia menghela nafas, "Hm... kamu pikir dengan kamu memakai pakaian begitu, aku akan tergoda dan melakukan malam kedua kita. Tidak akan, jangan pernah berharap aku akan menyentuh kamu lagi sekali pun kamu telanjang di depan aku."
Hana yang awalnya merasa takut karena takut Galvin akan menerkamnya, dia malah jadi ingin mengerjai pria itu, dia ingin tau sebarapa kuat Galvin menahan hasratnya. Tentunya dia akan berjaga-jaga jika Galvin tergoda, dia bisa memukul pria itu sampai pingsan.
"Hmm... kau yakin tidak menginginkan aku Mr Galvin?" Hana berjalan berlenggok menghampiri Galvin.
Oh tidak, jangan mendekat!
Jangan mendekat!
Hati Galvin malah berteriak, padahal dia mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Hana.
Hana duduk di pinggir kasur, tepatnya di depan Galvin, dia tersenyum menggoda menatap Galvin. Membuat ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh Galvin.
Hana mendekatkan jaraknya pada Galvin, kedua tangannya melingkari leher pria itu, menatap kedua mata Galvin, "Kau yakin tidak akan tertarik padaku?"
Wangi nafas wanita itu membuat Galvin semakin gelisah, dia takut tidak bisa mengontrol dirinya.
"Apa aku salah menggoda suami sendiri?"
Galvin menyeringai.
Tak di sangka, Galvin malah menekan punggung Hana membuat jaraknya mereka semakin dekat. Seketika mata Hana membulat begitu Galvin membuat jarak mereka semakin terlihat intens. Ini keluar dari rencana Hana.
"Apa kau yakin akan mengulanginya lagi untuk kedua kalinya?" Galvin terkekeh.
"Em..." Kini Hana yang gugup, rupanya dia terjebak ke dalam permainannya sendiri. Hana mencoba untuk menjauhkan jaraknya dari Galvin.
Tapi seketika Galvin merengkuh tubuh Hana dan membuat wanita itu seketika berbaring dia atas kasur, dan Galvin berada di atasnya.
Sungguh ini bukan rencana Hana, dia sama sekali tidak terpikirkan akan seperti ini, sementara dia tidak bisa menghajar Galvin karena tubuhnya terkunci oleh Galvin.
Jika sampai Galvin menyentuhnya, akan ketahuan bahwa di memiliki rencana jahat pada Galvin karena akan tau Hana rupanya masih perawan, itu artinya malam itu sama sekali tidak terjadi apapun diantara mereka. Dan masalah noda darah di seprai itu adalah skenario yang Hana ciptakan.
Bukan itu saja, tapi Hana tidak rela memberikannya pada pria brengsek seperti Galvin yang telah membuat adiknya meninggal. Walaupun Galvin suaminya.
Hana sangat gugup menatap Galvin yang berada diatasnya, "Emm... tu-tunggu dulu, aku...aku hanya bercanda, aku sudah bilang aku tidak akan memberikannya lagi sebelum kamu jatuh cinta padaku. Kamu belum jatuh cinta padaku jadi..."
"Tapi aku penasaran dengan kejadian malam itu? Haruskah kita melakukannya lagi biar aku ingat? Kau tidak tau kan bagaimana permainan bercinta yang sesungguhnya, bagaimana caraku menjelajahi tubuh kamu, menyentuh kamu kebagian yang sangat dalam."
Deg!
Jantung Hana berdetak kencang mendengarnya, apalagi pria itu menatapnya dengan begitu intens.
Tidak, jangan sampai dia menyentuh aku!