Mysterious Wife

Mysterious Wife
50



"Ohhh....ahhhh... Galvin!" Hana mencengkram seprai dan tubuhnya bergetar hebat ketika merasakan gelombang hangat itu keluar dari pusat intinya. Dia ingin marah pada dirinya sendiri karena telah menikmati apa yang Galvin lakukan padanya sampai dia basah, namun malam ini Hana seperti kehilangan akal, padahal saat ini dia sadar 100% namun permainan Galvin telah membuatnya lupa diri, begitu memabukan.


Ternyata penderitaan Hana bukan di situ saja, dengan cepat Galvin membuka rok dan kain segita Hana, dia menenggelamkan kepalanya diantara kedua pangkal paha Hana.


"Oh no Galvin!" Hana ingin protes dan berontak, namun Galvin memegang kedua tangan Hana, memegang erat kedua tangannya.


"Ahhh....." Hana menjerit begitu merasakan lidah Galvin menyentuh miliknya.


"Ahhh... stop....ahhhh..." Sialnya diapun begitu menikmatinya, walaupun beberapa kali mencoba untuk mengelak dan menyuruh Galvin untuk berhenti.


Galvin menggoda dirinya dengan indera perasa itu, menari-nari dengan lembut di area sensitifnya, kemudian Galvin menghisap cairan yang telah Hana keluarkan tadi, membuat Hana semakin meremang tak perdaya.


"Emmh..." Badan Hana tak bisa diam, dia terus menggelinjang tak tertahankan.


Galvin semakin puas melihat Hana seperti itu, kemudian dia memasukan lidahnya ke dalam, bergerak keluar masuk dengan ritme yang tidak terlalu cepat.


"Ahhhh...Galvin...sto..phhh." Hana merengek dengan penuh kenikmatan, namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya di genggam oleh Galvin.


Rasanya begitu menggila, benar-benar gila membuat Hana seakan dibawa pergi entah kemana. Dia begitu terhanyut dengan apa yang dilakukan Galvin, bahkan seakan ingin meminta lebih dari ini. Entah apa itu.


Saat ini dia sudah dibuat mabuk kepayang oleh Galvin, dia benar-benar lupa dengan dendamnya, dengan Samuel, dengan harga diri. Hana hanya bisa meremang dan mendes@h berkali-kali. Pria itu sungguh telah menaklukkannya.


"Ahhhh...Galvin...mmmhhh...ahhhh!" Sampai akhirnya badan Hana bergetar hebat begitu merasakan pelepasan keduanya. Dia mengerang dengan begitu panjang.


Blass...


Galvin sudah tak tahan, dia langsung memasukkan miliknya ke dalam.


"Ahhh..." Hana sedikit meringis begitu merasakan milik Galvin masuk sepenuhnya di dalam dirinya.


Dia menyadari betul ternyata mungkin dirinya bukan perawan lagi, mungkin malam itu Galvin telah merenggut kesuciannya saat dia mabuk.


Rupanya dia telah terjebak dengan permainannya sendiri, dulu dia berpura-pura telah kehilangan kehormatan oleh Galvin, sekarang telah menjadi kenyataan. Seakan dia mendapatkan karmanya karena dia tidak ingat betul bagaimana Galvin membuat dirinya tidak perawan lagi.


Hana sudah tidak bisa berontak lagi karena pria itu sudah membuatnya semakin meremang di dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Galvin menggerakkan pinggulnya, menghantam lebih dalam, kemudian bergerak keluar masuk dengan begitu bergairah. Dia membuka kemeja Hana, membuangnya ngasal, kemudian membuka bra yang masih membungkus dua bongkahan indah di dada Hana, sehingga kini kedua melon itu menyembul dengan begitu menggoda.


Galvin bergerak dengan tempo sedang-sedang saja, dia tidak ingin langsung mencapai pelepasan karena masih betah berada di dalam Hana. Ingin lama berada didalam sana. Begitu menggila, membuat dia mengerang merasakan kenikmatan yang luar biasa seakan Hana telah meremas miliknya dengan bagian yang begitu sangat terasa lembut itu.


Galvin melahap buah dada Hana yang sebelah kiri, bagian yang satunya lagi dia mainkan dengan tangannya.


"Ahhh... Galvin!" Hana semakin dibuat tak perdaya merasakan kenikmatan di bawah sana dan di bagian dadanya.


Pria itu dengan begitu gagah mengguncang dirinya, sementara mulutnya terus memanjakannya dengan menjilati bagian pu tingnya, lalu menghisapnya dengan kuat. Sungguh membuat Hana telah kehilangan akal.