
Sikap Galvin membuat Hana kebingungan. Namun jujur saja pelukan Galvin sangat membuat Hana nyaman dan tenang.
Akhirnya aku menemukan kamu, Hana. Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Tapi aku pasti akan melindungi kamu.
Jujur saja Galvin merasa ada kejanggalan dengan apa yang terjadi pada keluarga Hana, dan juga mengapa sampai harus ada kuburan palsu untuk membohonginya seolah-olah Hana sudah meninggal. Dan mengapa Samuel mengirim Hana padanya? Apa karena Samuel tau Hana itu cinta pertamanya?
Namun Galvin tidak bisa menceritakan itu semua pada Hana sekarang ini. Pertama, karena tidak memiliki bukti yang kuat, ini baru dugaannya, kalau dia cerita tanpa bukti yang ada akan memperumit hubungannya dengan Hana. Kedua, dia tau saat ini Hana ada di pihak Samuel. Ketiga, Dia takut Hana akan pergi dan takut padanya jika ternyata telah ketahuan apa maksud Hana menjebaknya. Karena itu Galvin harus pura-pura tidak tau tentang semua ini, agar Hana tetap berada di sisinya. Tapi dia tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari bukti yang kuat sampai Hana bisa mempercayainya dan tentu saja berharap Hana bisa membalas perasannya.
Untuk sementara itu Galvin akan bersikap seperti biasa saja pada Hana. Namun dia berjanji dia akan melindungi Hana, dan tidak akan menyakitinya lagi, karena sesungguhnya walaupun seandainya dia bukan Hana cinta pertamanya, wanita ini sudah berhasil membuat hatinya berdebar-debar dan cemburu setiap dia berada di dekat pria lain. Walaupun dia tau dan hatinya terluka karena wanita itu datang padanya untuk menghancurkan hidupnya.
Hana melepaskan pelukan, dia menatap Galvin dengan tatapan penuh keheranan, mengapa Galvin berada disini, apa Galvin mencarinya? Apa Galvin peduli padanya? Kenapa pria itu memeluknya?
"Kenapa kamu berada disini?"
Galvin tersenyum manis, "Tentu saja mencari istriku."
"Tapi kenapa? Bukannya aku gak ada harganya di mata kamu? Buat kamu, aku hanya partner ranjang saja." Hana malah meluapkan kekesalannya pada pria itu.
Melihat Hana kesal seperti itu malah terlihat mengemaskan, Galvin hanya tersenyum saja.
"Dan aku ini bukan tipe kamu. Dimata kamu aku hanya wanita miskin..."
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di bibir Hana, membuat Hana diam. Matanya membulat.
"Diamlah. Kamu menggemaskan kalau sedang marah." ucap Galvin sambil tersenyum menggoda.
Hana mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti mengapa Galvin tiba-tiba bersikap manis padanya.
Hana langsung mundur. "Apa kamu benar-benar Galvin?"
Galvin tertawa kecil, dia berjalan mendekati Hana. "Kalau bukan, bagaimana?"
Oh sunguh wanita itu sangat menggemaskan kalau ketakutan seperti itu, karena biasanya Hana selalu terlihat seakan wanita yang begitu kuat. Coba kalau bukan di hutan, mungkin dia sudah...ah pokoknya begitu lah.
Hana memperlihatkan kedua tinjunya pada Galvin. Namun sayangnya dia tidak bebas bergerak karena kakinya kesakitan gara-gara dia terjatuh tadi. "Shhh...arrrggghhh!"
Galvin langsung panik melihatnya, "Kamu kenapa?"
Galvin menyorotkan cahaya senter ke kaki Hana. Dia kaget saat melihat kaki Hana berdarah, tepatnya di bagian betisnya. "Kaki kamu berdarah Hana!"
Hana menahan rasa sakit itu dengan mengigit bibir bawahnya, "Emm... aku tidak apa-apa kok."
"Tidak apa-apa bagaimana, ini kaki kamu berdarah lho." Setelah berkata begitu, Galvin berjongkok, dia meniupi kaki Hana yang terluka.
Hana benar-benar tidak mengerti dengan pria ini, mengapa dia tiba-tiba berubah sikapnya. Tapi tetap saja belum bisa mengobati rasa sakit hati saat Galvin berbicara seenaknya, sangat merendahkan harga dirinya.
Galvin menarik tangan Hana, dia membawa beberapa batu yang berukuran sedang agar bisa di jadikan tempat duduk oleh Hana.
Sreek...
Galvin merobek bagian lengan di bajunya, dia menggunakan kain itu untuk menutupi luka Hana, melingkari betis Hana dengan kain itu. Agar tidak banyak mengeluarkan darah.
Sikap Galvin benar-benar berubah, Hana tidak mengerti mengapa dia berubah seperti itu. Tapi yang pasti dia menjadi takut, dia takut akan terjebak dengan permainannya sendiri, malah dia yang jatuh cinta pada Galvin. Dia tidak ingin jatuh cinta pada pria itu.
Hana memegang dadanya yang berdebar-bedar. Tidak, jangan sampai aku jatuh cinta pada pria ini.