
"Ayo ceritakan padaku!" suruh Hana dengan nada serius. Dia menyimpan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
Namun pandangan Hana menjadi kabur, kepalanya terasa pening, sampai dia sedikit kehilangan kesadarannya. Hana terus menggeleng-gelengkan kepala agar dia bisa segera sadar dari telernya.
"Mereka itu dulu berteman..." Morgan tidak meneruskan perkataannya saat melihat Hana yang sepertinya sudah sangat teler, sampai Hana terus memijat-mijat kepalanya karena pusing.
"Ahhh... aku dimana? Mengapa aku disini?" Hana malah mengigau, wanita itu benar-benar sudah mabuk.
Morgan nampak kebingungan, dia mencoba mengecek botol minuman yang dia bawa, dia tercengang, rupanya dia salah bawa minuman.
"Astaga ternyata vodka." Dia pikir tadi dia membawa wine yang kadar alkoholnya rendah.
Hana memperhatikan Morgan yang nampak kebingungan karena ulahnya Hana menjadi mabuk, walaupun dia sering tidur dengan mantan pacarnya, tapi dia memiliki aturan sendiri, tidak pernah memaksa wanita untuk tidur dengannya apalagi memanfaatkan situasi.
Semua wanita yang Morgan kencani dengan suka rela memberikan tubuhnya untuk dijamah oleh Morgan.
"Morgan Xavier?" Hana berseru begitu melihat wajah Morgan dengan jelas. "Astaga mimpi apa aku semalam tiba-tiba duduk berdua dengan seorang aktor haha..." Hana malah terkekeh, dia benar-benar sudah di kuasai minuman beralkohol itu.
Morgan tertegun mendengarnya, "Apa kamu ngefans padaku?"
"Aku sering melihat film kamu, kamu sangat keren sekali. Sepertinya aku memang salah satu fans kamu dulu." Hana terus saja meracau tidak jelas. Dia berkata seperti itu sambil mengacungkan jempolnya.
Morgan sangat tak mempercayainya karena Hana terlihat cuek padanya. "Benar kah?"
"Tentu saja. Apalagi saat aku melihat kamu di film ada apa dengan Sinta."
Morgan berseru, "Wah, ternyata kamu pernah lihat film aku yang itu juga. Bagaimana kalau kita berkencan saja hm? Kamu ngefans sama aku, aku juga suka kamu saat pertama melihat kamu."
Hana menggelengkan kepala, "Aku hanya ngefans sama kamu sebagai aktor, saat ini aku juga seperti sedang bermain film. Aku sedang berakting dan bersandiwara." Hana mengatakannya sambil terkekeh dengan matanya yang sedikit terpenjam, dia bersandar di sofa.
"Maksud kamu?" Morgan tidak mengerti.
Namun Hana sudah tidak sadarkan diri, dia tertidur di kursi sofa.
Morgan memperhatikan wajah Hana yang cantik itu, dia tidak tau harus berbuat apa pada Hana dan harus bawa Hana pulang kemana. Haruskah dia membawanya pulang saja ke apartemennya?
Namun pesona Hana bagi Morgan sangat berbeda dengan wanita yang sering dia jumpai, membuat dia langsung tertarik saat pertama kali melihat Hana, tak peduli dia mau jadi sekretaris musuhnya itu.
"Hana!"
Suara itu mengejutkan Morgan, padahal hampir saja dia mau mencium bibir Hana.
Rupanya Galvin berhasil menemukan keberadaan Hana setelah sekian lama dia mencari ke setiap sudut hotel itu.
"Galvin? Kenapa kamu datang kesini?" tanya Morgan.
Galvin tidak menjawab pertanyaan dari Morgan, Galvin menghampiri Hana yang tengah tertidur bersandar di sofa, di samping Morgan.
"Hana bangun!" Galvin mencoba membangunkan Hana.
"Eeughhh!" Hana rupanya tidak ingin diganggu. Dia menepis tangan Galvin dengan mata terpenjam.
"Apa yang lu lakukan pada Hana?" bentak Galvin pada Morgan.
"Gue salah ambil minuman. Lagi pula kenapa lu harus marah sama gue. Gue rasa lu gak perlu ikut campur urusan sekretaris lu."
Galvin tidak ingin mendengarkan apa yang Morgan katakan, dia memilih untuk segera memposisikan Hana agar dia bisa menggendong Hana di punggungnya.
"Euughh... aku tidak mau pulang. Aku ada urusan penting sama Morgan." racau Hana saat dirinya di gendong oleh Galvin.
Galvin sangat kesal mendengarnya, urusan sepenting apa antara Hana dan Morgan.
Morgan menghalangi langkah Galvin, "Biar gue yang antar pulang. Dia mabuk gara-gara gue. Lu dengar juga kan tadi kata Hana dia ada urusan penting sama gue."
Namun Galvin tidak ingin mendengarkannya. Dia memilih untuk terus berjalan sambil menggendong Hana.
Morgan tak terima dengan sikap Galvin yang menurutnya sangat berlebihan sebagai seorang atasan kepada sekretarisnya, "Gue rasa sikap lu ke sekretaris lu itu terlalu berlebihan. Mengapa lu harus ikut campur urusan gue dan Hana? Gue saja yang antar Hana pulang karena gue lagi pedekate sama dia. Lu kirim alamatnya Hana sama gue."
Galvin terdiam sebentar, sambil menghela nafas, "Dia tinggal di rumah gue. Kita tinggal satu rumah."
Jawaban dari Galvin membuat Morgan tercengang. Mengapa bisa Hana tinggal satu rumah dengan Galvin?