
Zhoya tak mengerti mengapa Morgan tiba-tiba menutup telinganya, dia berusaha melepaskan tangan Morgan. "Kak Morgan apaan sih... "
Zhoya tak meneruskan perkataannya begitu Morgan mencondongkan wajahnya.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Zhoya berdetak begitu hebat saat wajahnya dengan wajah Morgan sangat dekat sekali.
Jarak hidung mereka hanya terpaut 10 centimeter saja, sayangnya Zhoya tak bisa berkutik, dia mendadak terhipnotis oleh pesona pria itu. Bahkan Zhoya tanpa sadar memejamkan matanya dan memanyunkan bibirnya, dia sebenarnya sangat penasaran bagaimana rasanya berciuman.
"Ada belek di mata kamu."
Kata itu mengagetkan Zhoya, apalagi saat Morgan membersihkan sudut matanya dengan jemarinya.
Morgan sangat bernafas lega karena dia sudah tidak mendengar suara laknat itu lagi. Tangannya tidak lagi menutup kuping Zhoya.
Zhoya langsung membukakan matanya, dia menjadi salah tingkah, dia pikir Morgan akan mencium dirinya namun rupanya pria itu malah membersihkan belek dimatanya.
Morgan terkekeh geli, dia malah meledek Zhoya, "Terus kenapa tadi kamu manyun begitu?"
Zhoya tidak mau mengaku, "Nggak, aku gak manyun."
Morgan menyentil kening Zhoya, "Dasar bocah mesum." Morgan malah semakin terkekeh.
Zhoya memegang keningnya, dia tidak terima dianggap bocah oleh pria yang usianya 6 tahun lebih tua darinya itu, "Kak Morgan itu gak ada bedanya sama kak Galvin, selalu saja anggap aku anak kecil. Aku sudah 20 tahun, sudah dewasa, tau."
"Lah emang masih bocah usia segitu, belajar yang benar, jangan ngurusin pacaran. Apalagi di Jerman, pergaulannya sangat bebas, harus bisa jaga diri." Morgan mengatakannya sambil mengacak-acak rambut Zhoya saking gemasnya.
Morgan akui Zhoya memang cantik, tapi dia tidak ingin merusak pertemanannya bersama Galvin, makanya dia juga sama, akan menganggap Zhoya adiknya.
Zhoya semakin kesal dengan tingkah pria itu, dia menepis tangan Morgan yang mengacak-acak rambutnya. "Ish..."
Ceklek!
Suara decitan pintu kamar terbuka membuat Zhoya dan Morgan segera membenarkan posisi duduknya, Morgan menyalakan televisi kembali.
Hana dan Galvin keluar dari kamar, dengan wajah mereka yang termesem-mesem seakan baru sama-sama jatuh cinta lagi, apalagi kalau mengingat bagaimana mereka bercinta tadi, rasanya ingin mengulanginya lagi dan lagi sampai tiba di Indonesia.
Tapi mereka sadar saat ini mereka berada di dalam pesawat, dan juga Galvin tidak ingin membuat Hana kelelahan karena dia yakin Hana pasti sedang mengandung anaknya.
Galvin dan Hana ikut bergabung duduk di sofa panjang bersama Zhoya dan Morgan.
"Emm... aku gak fokus nonton, soalnya ada suara aneh gitu, kak Morgan malah nutup kuping aku, makanya aku gak dengar jelas suara apa itu."
Galvin dan Hana menjadi salah tingkah mendengarnya, mungkin karena saking nikmatnya sampai lupa dengan kehadiran Zhoya dan Morgan.
"Emm... tadi kak Galvin ngerok punggung Hana, makanya dia mendes-ah, tau kan kalau di kerok itu pasti agak sakit." Galvin tidak ingin pikiran sepupunya itu terkontaminasi. Dia sangat tau Zhoya seperti apa.
"Emang yang sakit mendes-ah ya?" Zhoya baru tau tentang hal itu.
"Lah emang iya, begitu." jawab Galvin lagi. Dia dengan Morgan saling memelototkan mata karena Morgan terlihat sedang mengejeknya dengan cara dia menatap Galvin.
Morgan hanya bisa terkekeh geli mendengar penjelasan dari Galvin. Dia tau Galvin sedang berbohong.
"Ya ampun sampai di kerok ke leher ya, itu leher kak Hana pada merah-merah padahal sebelum naik pesawat kayaknya gak deh." Zhoya memperhatikan leher Hana dengan seksama.
Wajah Hana memerah begitu mendengar ucapan Zhoya, dia menutup lehernya dengan tangan.
Galvin mengalihkan pembicaraan Zhoya dengan menunjuk film yang mereka tonton, dia pura-pura tertawa. "Hahaha... filmnya lucu sekali, hahaha..."
"Ini film Titanic kak, perasaan ini film sedih deh." Zhoya tidak mengerti adegan lucunya dimana.
"Justru adegan sedih di film itu terlihat sangat lucu. Apalagi kalau lihat si Morgan adegan sedih." Galvin ngeles saja.
"Wah wah ketahuan suka nonton film gue ya." seru Morgan dengan penuh rasa bangga karena ternyata Galvin diam-diam pernah menonton filmnya.
"Hanya yang zombie itu, waktu lu hampir mati digigit Zombie. Gue ketawa, gue pikir lu akan mati disana." Galvin mengatakannya dengan tatapan meledek.
"Wah tega lu ya..."
"Stttt... kayaknya filmya seru." Hana menyuruh sang playboy cap nanggung vs Casanova itu untuk diam.
Mereka pun pada mingkem dan ikut fokus menonton film.
Hana kaget tiba-tiba Galvin memeluknya, kedua tangan Galvin melingkari perutnya, mumpung Zhoya dan Morgan fokus menonton film.
Galvin begitu merindukan istri sirinya itu, makanya dia ingin terus mendekap wanita itu. Membuat Hana sangat gugup dan hatinya berdebar-debar.
"Saat kita melakukannya apa kamu mengingat sesuatu?" bisik Galvin.
Hana menggelengkan kepala, "Emm.. belum, hanya saja rasanya seperti tidak asing." Hana mengatakannya dengan malu-malu. Dia mengigit bibir bawahnya ketika membayangkan bagaimana rasanya saat dia bercinta dengan Galvin.
Galvin tersenyum lebar, "Baiklah, nanti di Indonesia kita harus sering melakukannya agar kamu ingat. Kamu harus menjalani terapi dan pengobatan juga." Galvin mengusap perut Hana dengan lembut, dia tak sabar ingin tiba di Indonesia dan memeriksa kondisi Hana, dia yakin Hana sedang mengandung anak mereka.