
Sementara di tempat yang berbeda, Hana nampak shock dengan apa yang dia lihat malam ini.
"Jadi... jadi cowok itu... Galvin?"
"Tapi kenapa Sam gak cerita ke aku kalau dia satu sekolah dengan Galvin?"
Apalagi di foto itu kelihatan sekali Samuel sangat dekat dengan Galvin.
Hana tak mungkin bertanya langsung ke Galvin, yang ada Galvin akan marah karna sudah lancang membuka lemari pribadinya. Karena Galvin melarang Hana untuk menyentuh semua barang Galvin yang bersifat pribadi, termasuk masuk ke kamarnya.
Hana juga bisa berada di kamar Galvin karena keadaan, takut ketahuan oleh Oma Rosa dan Opa Reza bahwa mereka menikah hanya untuk sementara, hanya untuk memastikan Hana hamil atau tidak anak Galvin.
Hana membawa ponselnya di atas nakas, dia memotret foto itu, dia harus minta penjelasan pada Samuel mengapa Samuel bersikap seolah-olah tidak mengenali Galvin.
Bagaimanapun juga Hana mencintai Samuel, Samuel adalah lelaki yang begitu baik padanya dari dulu, dia tidak ingin berpikir yang macam-macam dulu padanya hanya karena sebuah foto saja.
"Apa lebih baik aku bertanya pada Morgan saja?" Hana nampak bimbang malam itu.
Hana segera menyimpan kembali foto itu, ke dalam album foto milik Galvin. Lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari. Dia segera membaringkan badannya di atas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia takut Galvin akan segera kembali ke kamar.
Benar saja tak lama dari itu Hana mendengar suara decitan pintu terbuka.
Ceklek!
Terlihat Galvin menyembul masuk ke dalam dengan posisi hanya memakai handuk saja menutupi bagian pinggang sampai ke lutut. Apalagi rambutnya terlihat basah seperti habis keramas.
Hana menelan saliva melihat penampilan Galvin, pria itu memiliki badan yang atletis, dengan kondisi dadanya yang bidang dan perutnya kotak-kotak. Dia langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kau belum tidur?" tanya Galvin dengan nada ketus , dia melihat Hana yang tengah terbaring dia atas kasur dengan kondisi badannya yang ditutupi selimut tebal, setidaknya bisa membuat Galvin tidak tersiksa lagi karena tidak terlihat badan seksi Hana yang memakai lingerie.
"Emm... belum." jawab Hana, kikuk.
"Lain kali jangan pakai pakaian terbuka di depan aku. Kalau bisa pakai pakaian yang serba tertutup." ucap Galvin sambil membuka lemari bajunya. "Dan satu lagi, jangan tersenyum kepadaku!"
"Lho memangnya kenapa?" Hana tidak mengerti. Apa senyumannya begitu mengerikan.
Mata Hana terbelalak begitu melihat Galvin membuka handuknya, sehingga dia melihat kembali sosis berurat itu.
Sungguh tak tak malu, pikir Hana.
Mungkin Galvin pikirnya Hana sudah melihat semua tubuhnya, jadi buat apa dia malu di depan Hana. Bahkan Hana sudah merasakannya.
Wajah Hana memerah melihatnya, dia segera mengalihkan pandangannya ke langit-langit sambil menarik nafas.
Galvin terkekeh melihat Hana yang kelihatan salah tingkah begitu, dia dengan santai memakai boxernya. "Kenapa salah tingkah begitu? Bukannya kamu sudah melihatnya bahkan merasakannya?"
"Kamu juga seharusnya malu di depan aku, tidak boleh terlalu terbuka seperti itu." protes Hana.
"Aku yang memiliki aturan, kamu tidak boleh mengatur aku." Galvin mengatakannya dengan santai sambil memakai piyamanya.
"Mana bisa begitu!"
"Itulah resiko menikah dengan aku. Karena aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menikah. Jangan pernah kamu berpikir untuk bisa hidup bahagia menikah dengan aku. Itu salah besar."
"Lalu kenapa kamu tidak mandi di kamar mandi yang ada di kamar ini?" Hana sama sekali tidak tau bahwa Galvin habis melakukan senam lima jari gara-gara Hana yang telah memancing hasratnya.
"Terserah aku lah, aku mau mandi di kamar mandi mana."
Hana kaget karena Galvin malah berbaring di sampingnya, walaupun terhalang sebuah guling.
"Bukannya kamu ingin tidur di sofa?"
"Kamu saja. Aku tidak terbiasa tidur di sofa. Badan ku pasti akan pegal-pegal." jawab Galvin sambil memposisikan kedua tangannya sendiri diatas kepala.
Hana menghela nafas, pria ini selain arogan, dia juga egois. Tapi dia harus sabar menghadapi Galvin.
"Aku juga sama, aku selalu tidur di atas kasur. Tidak terbiasa tidur di sofa." Mungkin karena dulu Hana terlahir dari orang berada makanya begitu.
Galvin berdecak. "Ck! Aku kita orang seperti kamu terbiasa tidur dimana saja, apa karena terobsesi menjadi orang kaya?"
Hana hanya mengigit bibir bawahnya menahan emosi. Ingin sekali dia menghajar pria itu sampai puas.
Tahan Hana, hanya satu bulan oke.
Hana teringat kembali dengan foto Galvin, Samuel dan Mitha. Mereka bertiga terlihat begitu dekat sekali. Dia jadi penasaran sekali dengan hubungan mereka, terutama antara Galvin dan Samuel.
"Boleh aku tau kamu sekolah dimana?"
"Aku rasa kamu tidak perlu tau dan jangan bertanya hal pribadi tentang aku. Ingat kita ini hanya menikah sementara."
"Hmm...oke aku paham, tapi sekali saja aku ingin bertanya, apa kamu selalu ingat nama mantan kamu siapa saja?"
"Untuk apa kamu bertanya begitu?"
"Emm... maksud aku, siapa tau kan ada mantan kamu yang bunuh diri gara-gara kamu memutuskannya."
Selama Hana menilai, sepertinya Galvin tidak memiliki bakat menjadi seorang pembunuh. Apa mungkin Anya meninggal karena bunuh diri? Tapi mengapa ponsel Anya hilang? Itu yang jadi tanda tanya. Kalau Galvin yang menyembunyikannya, untuk apa? Apa karna ada rahasia besar di ponsel itu. Hana tidak mengerti.
Belum lagi kini ada pikiran yang mejanggal dengan foto Galvin, Mitha dan Samuel. Membuat hatinya terus bertanya-tanya.
"Untuk apa bertanya aneh seperti itu?"
"Seandainya ada wanita yang mati gara-gara kamu, apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah sudah menyakitinya? Setidaknya kamu pasti mengingat namanya?"
...****************...
Visual Galvin...