
"Tapi aku penasaran dengan kejadian malam itu? Haruskah kita melakukannya lagi biar aku ingat? Kau tidak tau kan bagaimana permainan bercinta yang sesungguhnya, bagaimana caraku menjelajahi tubuh kamu, menyentuh kamu kebagian yang sangat dalam."
Deg!
Jantung Hana berdetak kencang mendengarnya, apalagi pria itu menatapnya dengan begitu intens.
Tidak, jangan sampai dia menyentuh aku!
"Emm... ta-tapi..." Hana sangat kelihatan gugup sekali, dia pikir di bisa menghajar pria itu namun ternyata Galvin bisa kuat mengunci tubuhnya.
Galvin tak bisa menahan tawa begitu melihat Hana yang terlihat sangat gugup seperti itu, apalagi melihat wajahnya yang merah padam. "Haha kamu lucu sekali kalau gugup seperti itu."
"Hhh..." Hana tidak mengerti dengan sikap pria itu.
Galvin segera bangkit, dia malah menggelindingkan badan Hana, menggulungkan selimut ke tubuh Hana membuatnya seperti lemper besar agar wanita itu tidak terlihat seksi lagi. Padahal Hana sudah berusaha berontak tapi ternyata tenaga Galvin sangat kuat.
"Galvin!" bentak Hana, dia tidak bisa bergerak seperti bayi yang sedang dibedong.
Galvin bisa bernafas lega karena dia bisa lolos dari godaan istri sirinya itu. "Kamu pikir aku bisa tergoda begitu saja oleh kamu? Gak akan, sampai kapan pun aku tidak akan pernah tergoda, apalagi menyentuh tubuh kamu lagi. Apalagi pada wanita yang murahan seperti kamu, rela tidur dengan aku demi bisa menikah denganku."
Jujur saja Hana sangat geram pada Galvin yang begitu memandang rendah padanya. Namun dia tidak ingin memikirkan rasa sakit hatinya pada pria arogan seperti Galvin.
"Lepaskan aku, aku gak bisa bergerak." Hana mengatakannya sambil mencoba melepaskan diri dari gulungan selimut itu.
Galvin malah terkekeh, "Hmm... lepaskan saja sendiri kalau bisa."
Galvin memilih tidur di sofa daripada tidur dengan Hana di atas kasur, apalagi dia wanita itu sukses membuat tubuhnya kepanasan.
"Hmm... ya sudah, lebih baik aku tidur di sofa." Galvin segera bangkit dari ranjang, dia berjalan menuju sofa.
"Galvin!" Hana berteriak, dia tidak bisa bergerak dengan selimut yang menggulung tubuhnya.
Namun Galvin tidak ingin mendengarkannya. Dia malah duduk santai di kursi sofa, dia memilih mengecek instagramnya yang memiliki banyak pengikutnya pastinya banyak sekali yang like dan komentar tiap dia upload foto, padahal hanya upload foto kaki saja tapi sangat rame kolom komentar disana.
Hana terus bergerak agar bisa melonggarkan selimut yang menggulung tubuhnya, sampai dia tak sadar berada di tepi ranjang. Dan..
Bruukkk...
Hana terjatuh ke lantai, tentu saja kepalanya kejedot lantai. "Arrrggghhh!"
Mendengar suara erangan seperti itu malah membuat Oma Rosa dan Opa Reza terkekeh. Padahal mereka sedang berada di kamar tamu.
"Astaga, cucumu itu gak sabaran sekali sampai Hana menjerit seperti itu haha..." ucap Oma Rossa.
"Ya kamu ada-ada saja setiap memberi kado pasti ngasih limeri." celetuk opa Reza.
"Iya itu pokoknya."
"Yang penting kita harus memiliki banyak cicit."
...****************...
Galvin langsung berlari untuk menolong Hana, dia membuka selimut di tubuh Hana sambil ngomel, "Astaga, kamu nekad benar ya."
"Ya kamu terlaluan, kamu pikir aku bayi apa." Hana balik mengomel.
Galvin tak bisa menaha tawa saat melihat ada yang benjol di jidat Hana, "Hahaha... Kening kamu benjol."
"Benjol?" Hana ingin menyentuhnya tapi tangannya ditahan oleh Galvin.
"Biar aku obati."
Hana pasrah saja, dia duduk di pinggiran kasur.
Galvin membawa salep di kotak P3K, dia duduk di samping Hana, dia mulai mengoleskan salep di jidat Hana yang benjol itu.
"Shhh....ahhhh... ahhh..." Hana reflek memegang tangan Galvin saat Galvin menyentuh jidatnya.
Suara des@han Hana membuat Galvin gagal fokus, apa Hana mendes@h seperti itu saat mereka melakukan cinta satu malam waktu itu. Apalagi sekarang dia melihat Hana yang memakai lingerie begitu seksi.
Wajah Galvin menjadi memerah membayangkannya.
"Jangan mendes@h seperti itu!"
"Ya kamunya juga harusnya pelan-pelan mengobatiku."
"Tapi tidak perlu mendes@h begitu!"
"Yang namanya sakit pasti mendes@h lah. Emang kamu pikir aku mendes@h karena apa?"
Mereka malah bertengkar kembali.
Galvin menghela nafas, dia memberikan salep ke tangan Hana, Hana telah memancing hasratnya dengan suara des@han dan penampilannya itu, tapi dia harus sekuat tenaga untuk menahannya, "Ka-kamu obati saja sendiri."
Galvin nampak gelisah sekali.
"Terus kamu mau kemana?"
Galvin tidak menjawab, dia seperti orang yang sedang kelimpungan seakan sedang menahan sesuatu, dia segera keluar dari kamar. Rupanya dia masuk ke kamar mandi yang di dekat di dapur, padahal di kamarnya ada kamar mandi, mungkin karena takut ketahuan Hana bahwa dia harus bersolo karir malam ini.