
Mata Hana berkaca-kaca mendengarnya, jadi cinta pertama Galvin adalah dirinya? Hana sama sekali tidak menyangka cinta Galvin begitu besar padanya.
Galvin memandangi Hana dengan tatapan yang begitu dalam membuat mereka saling berpandangan. "Gadis itu adalah cinta pertama aku."
Deg...
Deg...
Deg...
Hati Hana berdebar-debar saat dia dan Galvin tidak sengaja saling berpandangan. Dan kata-kata Galvin menggetarkan hatinya.
Hana sangat tidak mengerti mengapa bisa dia jadi cinta pertamanya Galvin, dia tau namanya memang sama tapi bukan kah Galvin pernah bilang kalau cinta pertamanya sudah meninggal. Sungguh Hana tak dapat berpikir dengan jernih, mengapa Galvin menganggap dirinya mati? Ada apa sebenarnya? Apa Galvin mengira dirinya ikut mati menjadi korban peristiwa kebakaran rumah itu?
Hana tidak tau harus bersikap apa pada Galvin. Karena saat ini dia seakan dilanda kebingungan. Seandainya Hana adalah cinta pertamanya, dia akan sangat merasa bersalah pada Anya karena dia taunya Anya memiliki perasaan pada Galvin makanya dia menggenggam foto Galvin sampai menghembuskan nafas terakhir.
Hana berusaha bersikap biasa-biasa saja, dia rasa tidak mungkin Galvin mengenalinya karena dari dulu pria itu selalu bersikap angkuh padanya, mungkin karena mengira Hana cinta pertamanya sudah mati. Padahal dia sudah memutuskan untuk menyerah untuk tidak melanjutkan balas dendamnya pada Galvin walaupun masih ada sedikit rasa benci dihatinya, mengapa Anya harus mati sambil menggengam foto Galvin? Apalagi Pingkan bilang Anya telah disakiti oleh Galvin makanya Anya bunuh diri.
Hana mengalihkan pandangannya, memandangi api unggun. "Mengapa kamu bisa jatuh cinta padanya? Bukannya dulu kamu seorang playboy?"
"Dulu saat aku jatuh cinta padanya aku belum pernah berkencan. Aku hanya ingin mencoba untuk melupakannya makanya mengencani banyak wanita."
Hana tertawa kecil, "Apa kamu puas mempermainkan mantan-mantan kamu itu?"
"Sebelum aku berkencan dengan mereka, aku sudah membuat kesepakatan dulu untuk berkencan selama satu bulan dan jangan mengharapkan cintaku. Apa itu masih bisa disebut mempermainkan? Padahal kami sudah membuat kesepakatan sebelumnya?"
Hana mengerutkan keningnya, lantas apa yang membuat Anya bisa bunuh diri, apa karena tidak terima dengan kesepakatan itu makanya Anya bunuh diri. Tapi hatinya sangat yakin Anya bukan wanita yang bisa serapuh itu, rela kehilangan nyawa demi seorang pria.
Galvin terdiam sebentar, mengapa pertanyaan Hana seolah-olah merasa bahwa dirinya pernah memiliki hubungan dengan adiknya. Padahal dia baru tau nama adiknya Hana hari ini dari data yang dikirim oleh Detektif Al.
Anya?
Anya?
Anya?
Galvin berpikir keras begitu dia teringat pernah mendengar nama itu sebelum tau adiknya Hana bernama Anya. Tapi kapan?
Mata Galvin membola begitu teringat saat kejadian satu bulan yang lalu waktu tiba-tiba ada polisi datang ke rumahnya untuk memeriksanya. Polisi mengatakan ada seorang gadis yang bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari rooftop hotel sambil menggengam foto Galvin, dan wanita itu bernama Anya. Beruntung saat kejadian itu Galvin sedang berada di luar kota, sehingga polisi hanya sekali memeriksanya.
Dan informasi dari Detektif Al juga sama persis mengenai adik Hana yang mati karena bunuh diri, namanya juga Anya.
Tapi kenapa Anya bisa menggengam foto Galvin padahal seingat Galvin, dia tidak pernah berkencan dengan gadis bernama Anya. Dia tidak pernah berkencan dengan gadis yang masih kuliah, karena dia seorang playboy kelas elit dan hanya mengencani wanita yang sudah dewasa.
Sebenarnya ada apa ini? Mengapa Anya bisa menggengam fotoku saat dia bunuh diri? Apa mungkin itu yang menjadi alasan Hana masuk ke dalam kehidupanku, dia ingin balas dendam padaku atas kematian adiknya?
Kini Galvin mengerti, Hana datang ke kehidupannya bukan demi Samuel tapi demi adiknya, tepatnya ingin balas dendam padanya. Yang padahal dia sendiri tidak mengenali Anya.
Apa ini semua ulah Samuel?
Galvin memandangi Hana dengan tatapan penuh kesungguhan, dia menjawab pertanyaan dari Hana. "Tidak, aku tidak pernah berkencan dengan seorang wanita bernama Anya."