
Hana tidak diberi kesempatan untuk menjawab karena pria itu langsung menariknya, menyambar bibir Hana dengan sangat brutal. Bahkan tangannya membuka kancing gaun Hana, sampai gaun yang dipakai Hana kini berhambur jatuh ke lantai.
Galvin sudah dikuasai n@fsu, pria itu masih mencium bibir Hana sangat teramat dalam, *****@* bibirnya, mainkan lidahnya menulusuri disetiap inci rongga mulut Hana. Menginvasi bibirnya dengan sepuas mungkin.
Galvin menyeretnya menuju ranjang, menghempaskan tubuh Hana ke kasur yang empuk itu, Hana tak bisa melawan ataupun menolak karena dia terbawa ke dalam lingakaran api gairah yang Galvin ciptakan. Akal pikiran Hana tak ada disana karena dia benar-benar sudah mabuk malam ini, apalagi kepalanya terasa sangat pening.
Galvin memandangi Hana yang hanya memakai bra dan kain segita saja, wanita itu sungguh sangat menggoda, apalagi sekarang terlihat begitu jelas kemolekan tubuh Hana. Galvin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi Hana sedang mabuk, mungkin saja besok Hana tidak ingat dengan apa yang dia lakukan pada Hana.
Galvin membuka kemeja dan celananya, dia hanya memakai boxer saja, pria itu merangkak membuat posisinya berada di atas Hana, dia mencium bibir Hana kembali, tak peduli dengan bau alkohol dibibir Hana, meyapu bibir Hana dengan begitu n@fsu.
Sementara tangannya mulai merem@s sesuatu yang masih terbungkus bra itu, Hana memiliki ukuran dada yang lumayan besar, pastinya membuat Galvin tidak sabar ingin menikmati buah melon yang selalu menjadi benda favoritnya itu.
Tangan Galvin kini telah membuka pengait bra di punggung Hana, dia lemparnya dengan ngasal ke lantai, dan langsung melahap buah melon yang sangat teramat indah, putih dan mulus itu. Apalagi bagian puncaknya masih berwarna merah jambu, sungguh sangat menggoda iman.
"Emmhhh... ahhh!" Hana dengan sedikit mata yang terpenjam, antara ngantuk dan bergairah menjadi satu, tapi mulutnya mengikuti apa yang dia rasakan. Apalagi dia sedang mabuk, dia tidak malu mendes@h dengan sesuka hatinya.
Des@han Hana bagaikan alunan musik indah ditelinga Galvin, membuat Galvin semakin bersemangat lagi untuk membuat Hana semakin mendes@h.
Galvin memainkan bulatan indah di dada Hana dengan lidahnya, menari-nari menyapu bagian puncaknya. Membuat Hana semakin meremang. "Ahhhh...mmhhh..."
Hana membusungkan dadanya ke atas seakan meminta Galvin untuk lebih memuaskannya lagi bermain dengan buah melonnya. Kemudian dia menekan kepala Galvin saat Galvin menghisap bagian puncaknya. Galvin menghisapnya dengan kuat seperti bayi kehausan. Sungguh membuat Hana semakin mabuk kepayang.
Galvin tak ingin menyia-nyiakan momen ini, dia rasa cukup satu kali saja dia kembali bercinta dengan Hana, kerena yang pertama dia sama sekali tidak ingat, dia ingin membalikan keadaan, biar Hana yang tidak ingat dengan apa yang dia lakukan pada Hana malam ini. Biar impas. Karena setelah ini Galvin tidak akan lagi menyentuh Hana, sesuai dengan ucapannya dulu.
Galvin menghujani seluruh tubuh Hana dengan banyak kecupan, dia tidak ingin meninggalkan tanda merah di tubuh Hana, ingin melakukannya tanpa meninggalkan bekas. Apalagi melihat Hana yang sudah setengah tidak sadarkan diri. Dia jamin Hana tidak akan ingat tentang kejadian malam ini.
Galvin meraba disetiap lekukan tubuh yang indah itu, tiada hentinya dia menciuminya di mulai dari rambut Hana, kening Hana, hidung, pipi, bibir, leher, dada, perut, kemudian ciuman itu turun ke kaki Hana, Galvin menciuminya sampai ke telapak kaki. Hana hanya bisa pasrah dengan des@hannya yang semakin menggila.
Kini posisi Galvin berada diantara kedua paha Hana, dia membungkukan badan, mulai menciumi kain segita yang masih membungkus sesuatu yang ingin dia jelajahi hari ini. Membuat des@han Hana terdengar begitu keras memenuhi kamar.
"Oohh... ahhh... Galvin!" Hana semakin menjerit saat merasakan lidah Galvin yang basah dan teramat lembut itu menelusup masuk ke dalam.