
"Selamat malam Pak Galvin!" Sapa Hana, dia tersenyum ramah pada Galvin, dia bersikap profesional seperti seorang sekretaris menyapa atasannya.
Hana juga menyapa Nikhita, "Selamat malam Bu Nikhita, saya Hana, sekretarisnya Pak Galvin." Hana mengulurkan tangannya pada Nikhita.
Nikhita terpaksa harus berjabatan tangan dengan Hana dengan ekspresinya yang dingin, "Emm... oke." Hanya itu yang keluar dari bibir Nikhita, dia langsung menarik tangannya kembali karena tidak ingin bersentuhan lama dengan Hana.
Sementara Galvin hanya diam, memperhatikan penampilan Hana.
"Galvin, sebentar lagi akan ada acara dansa. Aku ingin berdansa dengan kamu." pinta Nikhita.
"Emm... oh tentu saja, boleh." Galvin mengatakannya sambil melirik Hana.
Hana hanya menghela nafas, pria itu memang tidak berperasaan, seorang suami akan berdansa dengan wanita lain padahal ada istrinya hadir di pesta ini. Hana sadar itulah sifat aslinya seorang Galvin, tidak berperasaan, makanya Anya bunuh diri gara-gara pria tak berperasaan itu. Rasa benci Hana semakin menumpuk pada pria itu.
Hana rasa lebih baik dia fokus mencari Morgan, dia memilih pergi meninggalkan Galvin dan Nikhita.
Nikhita dari tadi mengajak Galvin berbicara, sementara Galvin tidak fokus dengan pembicaraan mereka, karena matanya tak bisa diajak kompromi, dari tadi dia sibuk mencari ke arah mana Hana pergi. Apalagi di pesta itu banyak sekali yang hadir, membuat Galvin kesulitan mencari Hana.
...****************...
Hana berhasil menemukan orang yang dia cari, saat itu Morgan sedang berkumpul dengan para selebritis lainnya sambil menikmati minuman disana.
"Morgan!" Hana memberanikan diri untuk menyapa Morgan.
Morgan menoleh ke arah Hana, dia terperangah saat melihat penampilan Hana, "Emmm... Hana?" Morgan mencoba menebak, dia takut salah orang.
"Hmm... iya aku Hana, sekretarisnya Pak Galvin."
"Oh iya tentu saja aku ingat."
Para pria yang sedang bersama Morgan, mereka pada berbisik, "Dia siapa Gan?"
Morgan membalas pertanyaan mereka dengan bisikan juga, "Gebetan gua."
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Hana rasa lebih baik dia to the point saja, karena itu tujuan dia menemui Morgan.
"Baiklah, kita bicara jangan disini!"
Morgan rasa dia lebih baik menjauhkan Hana dari teman-temannya yang kadang terlihat konyol itu , bisa-bisa mereka menggagalkan acara pedekate dia dengan Hana dengan membuka kartu As nya yang sering tidur dengan banyak wanita.
Morgan membawa Hana ke atas rooftop, agar mereka bisa lebih dekat, agar bisa berduaan dengan Hana, sambil membawa sebotol minuman dan dua gelas kecil.
Mereka duduk di kursi sofa yang ada di rooftop sana.
"Nah lebih baik kita mengobrol disini, disini kita bisa bicara dengan bebas." ucap Morgan. Dia menuangkan minuman ke dalam dua gelas secara bergiliran di atas meja, lalu memberikannya pada Hana.
"Soal apa?"
Hana memperlihatkan ponselnya pada Morgan, rupanya disana ada foto Galvin, Mitha, dan Samuel. "Apa kamu tau tentang mereka?"
Morgan terkekeh, "Tau lah, tapi buat apa kamu menanyakan soal mereka?" Morgan malah balik tanya.
"Aku ingin kamu menceritakan soal mereka padaku!" Hana mengatakannya dengan bersikukuh.
"Oke, aku akan cerita. Tapi kita harus bersulang dulu. Ini minuman kadar alkoholnya rendah, gak akan buat kamu mabuk."
Hana tetap menolak untuk meminumnya, "Tapi tetap saja aku gak suka meminum minuman seperti itu."
"Ya sudah, aku tidak akan cerita." Morgan menatap Hana dengan tatapan gemas.
Hana menghela nafas, karena wanita itu sangat berambisi, dia terpaksa mengambil segelas minuman yang ada di genggaman Morgan, dia meneguknya sampai habis.
"Ayo ceritakan padaku!" suruh Hana dengan nada serius. Dia menyimpan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
Sementara di dalam sana, sebuah alunan musik romantis telah memenuhi pesta itu, rupanya acara dansa akan segera berlangsung, Nikhita menarik tangan Galvin membawanya ke arena dansa.
Nikhita mengalungkan kedua tangannya pada leher Galvin, dan meraih tangan Galvin untuk melingkari pinggangnya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang terlihat sangat romantis.
Namun Galvin merasa tidak enak hati, dia masih belum melihat Hana juga dari tadi. Dia sama sekali tidak minat untuk berdansa dengan Nikhita.
Galvin melepaskan Nikhita, dia mundur dua langkah menjauhkan jaraknya pada Nikhita, "Emm... aku minta maaf, aku gak bisa berdansa dengan kamu."
Nikhita mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Aku ada urusan penting."
"Tapi Galvin..."
Belum juga pembicaraan Nikhita selesai, Galvin malah pergi dengan setengah berlari, dia tidak tenang sebelum bisa melihat Hana.
...****************...
Apa kalian kalau baca novel adegan romantis, tersenyum mesem seperti ini hehe...
Selamat beraktivitas di hari senin, semangat pagi 💪