
"Apa kamu mau berdansa dengan aku?" Morgan berdiri di hadapan Hana, dia mengulurkan tangannya pada Hana.
Hana nampak bimbang antara harus menerima ajakan Morgan atau tidak, karena dia merasa masih membutuhkan Morgan, dia ingin tau lebih dalam lagi tentang Samuel dan Galvin.
Namun mereka dikagetkan dengan kehadiran Galvin yang tiba-tiba datang meraih uluran tangan Morgan.
"Sepertinya Hana tidak mau berdansa dengan kamu, bagaimana kalau kita berdansa?" tanya Galvin pada Morgan sambil mengangkat kedua alisnya.
Seketika Morgan melepaskan tangan Galvin, "Ih najis gue berdansa dengan lu!" Dia langsung merinding disko.
"Hana itu bukan tipe wanita yang lembut seperti kebanyakan wanita. Jadi kamu salah kalau ingin mengajak berdansa dengannya." ucap Galvin sambil duduk di samping Hana, dia menyeruput minuman milik Hana.
Hana hanya diam, dia tidak mengerti mengapa Galvin tiba-tiba datang kesini. Apa karena dia ingin pamer padanya kalau dia sebentar lagi akan nganu dengan Lea? Hana menatap Galvin dengan tatapan sebal.
Morgan menghela nafas, dia duduk kembali, "Aku tidak mengerti mengapa kamu itu seperti jaelangkung, selalu tiba-tiba saja datang setiap aku berduaan dengan Hana." Morgan sangat terganggu dengan kehadiran Galvin.
"Karena aku seorang bos yang baik, aku tidak akan membiarkan sekretaris aku dekat dengan pria seperti kamu." Galvin menjawabnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa bedanya dengan kamu?" Morgan tak mau kalah.
Hana merasa jengah dengan Galvin dan Morgan yang malah berdebat terus dari tadi. "Stop! Stop! Udah, gak usah berantem lah!"
Morgan teringat dengan perkataan Galvin yang malam di pesta itu bilang kalau Hana dengan Galvin ini tinggal satu rumah. Dia ingin menanyakan itu pada Hana. "Oh iya aku penasaran, malam itu Galvin bilang kalian itu tinggal satu rumah, apa benar?"
"Iya dia satu rumah dengan aku." Malah Galvin yang menjawab.
Morgan merasa kesal mendengar jawaban dari Galvin. "Kenapa kalian bisa satu rumah?"
Galvin menjadi bimbang, haruskah dia bilang pada Morgan agar Hana itu istrinya,agar Morgan menyerah pada Hana, itung-itung menolong Morgan karena Hana itu adalah wanita yang sangat berbahaya. "Dia i..."
"Aku pembantu di rumahnya." jawab Hana sambil menatap Galvin, dia teringat saat Galvin yang mengakui Hana pembantunya saat Lea datang ke rumah.
Galvin langsung berbisik pada Hana. "Mengapa kamu mengaku jadi pembantuku?"
Hana menjawab bisikan Galvin, "Bukannya kamu sendiri yang mengakui aku pembantu kamu pada kekasih kamu itu?"
Hana dan Galvin segera menormalkan duduknya kembali.
"Jadi kamu selain jadi sekretarisnya Galvin, kamu juga bekerja di rumahnya Galvin?" tanya Morgan pada Hana.
"Ya begitu lah." jawab Hana.
Morgan sama sekali tidak berpikir macam-macam karena dia tau karakter Galvin, Galvin tidak pernah berkencan dengan wanita kalangan menengah ke bawah. Jadi sudah dipastikan Galvin tidak akan mungkin menjadikan Hana salah satu wanita yang akan dikencani Galvin.
"Tapi malam itu kamu aman kan waktu pulang bersama Galvin? Kan kamu mabuk." tanya Morgan lagi.
Seketika wajah Galvin dan Hana memerah. Galvin jadi teringat kembali gara-gara Hana mabuk dia tak bisa mengendalikan hasratnya sampai harus meniduri Hana. Dan Hana wajahnya memerah karena gara-gara mabuk dia jadi bermimpi m3sum dengan Galvin.
"Ya gak mungkin lah Pak Galvin ngapa-ngapain aku. Aku ini bukanlah levelnya bos aku." Hana mengatakannya sambil terkekeh.
Morgan ikut terkekeh, "Kamu benar juga. Galvin gak mungkin ngapa-ngapain kamu."
Drrrtt...Drrrtt...
Ponsel Morgan bergetar. Rupanya ada telepon dari managernya.
"Emm... aku ke belakang dulu ya." Pamit Morgan pada Hana.
Hana hanya menganggukan kepala.
Setelah Morgan pergi, Hana merasa heran karena tiba-tiba Galvin tertawa kecil begitu mendengar percakapan Hana dan Morgan.
Hana mengerutkan keningnya menatap Galvin dengan penuh keheranan.
"Kau yakin malam itu tidak terjadi apa-apa diantara kita?" tanya Galvin sambil tersenyum smirk.
"Maksud kamu?" Hana tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Galvin.
Galvin mencondongkan badannya pada Hana, "Malam itu kamu menggoda aku, kamu sama sekali tidak ingat bagaimana cara kamu menggoda aku? Apa kita harus melakukannya lagi biar kamu ingat, hm?"