Mysterious Wife

Mysterious Wife
49



Galvin melepaskan ciumannya, dia memandangi Hana yang telah ia himpit di dinding itu, mereka saling menatap dengan nafas terengah-engah.


"Galvin..." Hana sebenarnya ingin marah pada pria itu karena telah berani menciumnya, namun dia seperti telah kehilangan kata-kata, ingin marah tapi dia juga menikmati ciuman Galvin.


Tanpa berpikir panjang, Galvin langsung menggendong Hana ke bahunya, membuat Hana kaget, Hana mencoba untuk berontak, dia memukul-mukul punggung Galvin.


"Galvin, lepaskan!"


"Brengsek, lepaskan aku!"


Galvin tidak ingin mendengarkan protes dari Hana, dia masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh Hana ke kasur.


Malam ini benar-benar membuat Hana deg-degan, dia penasaran apa benar malam itu dia telah melakukannya dengan Galvin, apa iya dia harus melakukannya agar tau malam itu terjadi atau tidak, tapi dia tidak mungkin sudi memberikan tubuhnya pada Galvin.


Hana ingin beranjak, tapi Galvin menahannya, dia mencium bibir Hana kembali. Hana mencoba berontak, namun tenaga pria itu sangat besar mampu membuat Hana terbaring kembali walaupun dia beberapa kali berusaha untuk bangun, sayangnya Galvin sudah menindih tubuhnya.


Hana sangat frustasi, saat Galvin menindih tubuhnya, dan menciumnya dengan penuh gairah, mungkin karena dia pria yang ahli melumpuhkan seorang wanita, membuat Hana terbawa suasana saat pria itu menciumnya, menyesap bibirnya dengan begitu lembut tapi memabukkan.


Hana sadar, dia tidak boleh seperti ini, dia mengigit bibir Galvin, sampai Galvin melepaskan ciumannya karena bibir bawahnya berdarah.


"Shhh..." Galvin sedikit meringis.


"Lepaskan aku!" ucap Hana dengan nafasnya yang sengal-sengal.


Galvin tersenyum kecut, dia tau dari wajah dan nafas Hana, bahwa wanita itu sudah terangsang dengan ciumannya, namun Hana masih mengelak karena takut dia semakin terbuai dengan permainan Galvin.


"Kamu yakin?" tanya Galvin sambil tersenyum menggoda, dia mengelap darah di bibirnya dengan bajunya.


"Iya, kamu tidak bisa memaksa aku seperti ini, kalau tidak aku bisa melaporkan kamu karena telah berani memperkosa aku!"


Galvin tertawa kecil, "Apa ada suami yang memperkosa istrinya sendiri?"


Hana diam, dia baru sadar saat ini status dia adalah istrinya dari seorang Galvin.


Hana tak ingin berkata-kata apa-apa lagi, dia tak bisa menyerahkan tubuhnya pada Galvin, namun Galvin menahannya, pria itu sangat kuat.


"Galvin, lepaskan!"


"Galvin..." Hana ingin marah dan protes, tapi saat dia merasakan jemari Galvin mulai bergerak di daerah kewanitaannya membuat Hana nampak ling lung, dia ingin marah tapi gerakan jemari Galvin membuat dirinya merasakan sesuatu yang membuat dirinya meremang.


Galvin memperhatikan Hana yang berada di kungkungannya, dia ingin menyaksikan bagaimana wajah itu memerah dan berusaha untuk tidak terbuai dengan gerakan jemari Galvin yang bergerak dengan pelan hilir mudik, maju mundur dengan begitu menggoda.


"Galvinhhh...lepas..hhh kan!" Sungguh membuat Hana gila, bibir dan tubuhnya telah berlawanan, badannya menegang dan menggeliat, dia mencoba ingin melepaskan tangan Galvin agar jemarinya tidak lagi bermain dengan benda yang paling berharga untuknya.


Namun Hana di buat semakin kehilangan akal saat Galvin sedikit mempercepat gerakan jemarinya, "Galvinhhh..."


"Kenapa? Kau menyukainya?" ucap Galvin, dia semakin ingin membuat Hana tersiksa dengan menciumi leher Hana, menghisapnya dan memberikan gigitan kecil disana sampai terlihat ada beberapa tanda merah yang telah dia ciptakan.


"Ahhh... Galvin jangan!" Hana sebisa mungkin ingin protes, namun gerakan jemari Galvin di bawah sana begitu mendominasi, bergerak semakin liar sampai Galvin memasukkan kedua jemarinya ke dalam, bergerak keluar masuk dengan begitu lembut.


"Galvin, lepas...ahh... Galvin!" Hana terus meracau, tubuh Hana sudah tidak ada penolakan lagi namun mulutnya masih berusaha untuk menolak.


Galvin tersenyum puas karena sukses membuat Hana terbuai dengan permainannya.


Gerakan jemari itu semakin lama semakin membuat Hana gelisah, sungguh tidak nyaman namun membuat dirinya saekan telah terbang melayang.


Tiba-tiba Galvin mendiamkan tangannya, menghentikan aktivasinya, membuat Hana kebingungan, bukannya itu yang dia mau, namun kepalanya terasa pusing rasanya ingin marah pada Galvin entah marah karena telah mempermainkannya atau apa, dia tidak mengerti.


Galvin tersenyum memperhatikan Hana yang nampak kebingungan, Hana terlihat ingin marah tapi dirinya telah dikuasai nafsu. Galvin mencium bibir Hana, dia menggerakkan kembali jemarinya, bergerak keluar masuk dengan mempercepat ritme gerakannya.


"Emmmhhh..." Hana mendes@h di sela-sela ciuman mereka. Membuat Galvin melepaskan ciumannya, bibirnya kembali menyapu leher Hana.


Tubuh Hana tak bisa diam, badannya menggelinjang ke atas, saat dia merasakan ada sesuatu yang lolos dari tubuhnya, rupanya Galvin telah berhasil membuat Hana mencapai pelepasannya.


"Ohhh....ahhhh... Galvin!" Hana mencengkram seprai dan tubuhnya bergetar hebat ketika merasakan gelombang hangat itu keluar dari pusat intinya. Dia ingin marah pada dirinya sendiri karena telah menikmati apa yang Galvin lakukan padanya sampai dia basah, namun malam ini Hana seperti kehilangan akal, padahal saat ini dia sadar 100% namun permainan Galvin telah membuatnya lupa diri, begitu memabukan.


Malam ini Galvin ingin menyiksa Hana karena telah berani bekerjasana dengan Samuel mempermainkan hidupnya, namun bukan dengan siksaan fisik, melainkan dengan membuatnya tunduk diatas ranjang.