Mysterious Wife

Mysterious Wife
73



Hari ini, setelah pulang dari Green Forest, Galvin mengajak Hana menemui keluarganya karena mama Ghea ingin sekali bertemu dengan menantunya.


Hana merasa tersentuh atas perlakuan keluarga Galvin padanya. Mereka memperlakukan Hana dengan begitu baik, sama sekali tidak memandang statusnya yang bukan dari keluarga berada dan hidup sebatang kara.


"Galvin itu susah sekali, mama sudah beberapa kali menyuruh Galvin untuk membawamu kesini, tapi gak di respon." ucap mama Ghea, menatap menantunya dengan lembut.


Galvin memiliki orang tua yang memang super sibuk mengurus perusahaan masing-masing, walaupun tetap saja mereka selalu mengutamakan keluarga.


Galvin dulu tak merespon karena merasa pernikahan mereka akan segera berakhir saat dia masih kesal dengan Hana yang merasa menjebaknya.


"Galvin sibuk banget Mah, pekerjaan banyak banget, belum lagi mama dan papa ingin segera punya cucu." canda Galvin.


"Nah kalau itu mama setuju, buat cucu yang banyak, kalau bisa selusin, biar rame disini." Mama Ghea terkekeh.


Hana hanya tersenyum mendengar candaan ibu dan anak itu.


"Bagaimana masakan mamah, Hana?" tanya Mama Ghea kepada menantunya.


"Masakan mama sangat enak, biasanya aku jarang makan banyak, baru kali ini aku makan banyak." Hana memuji masakan mama Ghea, kebetulan hari ini mereka makan siang bersama di kediaman papa Gibran.


"Datang lah kesini tiap hari, mama akan masakin yang banyak buat kamu."


"Iya , mah." Hana merasa diperlakukan istimewa oleh sang mama mertua. Membuat dia semakin merasa bersalah karena telah menipu mereka.


"Dulu Ghisell dan Haikal menikah secara sederhana padahal papa ingin sekali menikahkan anak papa dengan mengudang banyak orang dan sangat istimewa, karena itu papa yang akan mempersiapkan pesta pernikahan kalian." sekarang giliran papa Gibran yang bicara. Sebagai orang tua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk pernikahan anaknya.


Galvin malah terkekeh, "Hmm... ya terserah papa aja sih, lagian bukan pernikahan bujang dan perawan ini." candanya.


Hana replek menginjak kaki Galvin, wajahnya memerah, "Galvin!" katanya dengan pelan sambil memelototkan matanya.


"Ih apaan sih. Mereka tuh udah pada tua, udah pada paham lah." Galvin memang sering bercanda dengan keluarganya.


Ternyata papa Gibran mendengarnya, "Tua kamu bilang? Wajah ganteng begini. Mama mu saja sering cemburu kalau papa ketemu klien wanita."


"Wah dalam sekali nyebut nama mas Romi."


Galvin dan Hana malah tertawa kecil melihat perdebatan mama Ghea dan papa Gibran. Hana merasa pantas saja Galvin memiliki wajah yang begitu tampan karena kedua orangtuanya good looking, bahkan Hana sangat iri dengan kecantikan mama mertuanya itu, walaupun sudah memiliki cucu tapi masih terlihat sangat cantik dan muda, juga bodynya tidak kalah sama ABG.


Kalau pesona papa mertua, jangan ditanyakan lagi, pastinya wah, makanya Galvin nurun menjadi playboy insaf seperti papanya.


Mama Ghea memberikan sebuah tas limited edition dari Adva, yang hanya ada 10 orang saja yang memiliki tas itu di dunia ini. Karena Adva memang sudah mendunia. Tentu saja harganya ratusan juta. "Ini tas buat kamu, mama sengaja menyimpannya satu buat kamu."


"Harusnya gak usah repot-repot mah." Hana nampak sungkan untuk menerimanya.


"Tidak apa-apa, lain kali datang ke Departemen Store Adva, kamu bisa membawa apa saja yang kamu mau."


Mata Hana berkaca-kaca mendengarnya, hari ini rasanya dia memiliki keluarga kembali. Namun apakah mereka akan masih memperlakukan Hana dengan baik jika tau betapa liciknya menantu yang dianggap baik itu? Hana telah menjebak anak mereka dan menempatkan Galvin berada dalam bahaya.


"Ghisell dan Haikal kemana? Aku pikir mereka akan ikut berkumpul, padahal aku kangen keponakan aku, Nicholas." tanya Galvin, dia masih sibuk menikmati masakan buatan sang mama.


"Liburan ke Qatar, sambil nonton piala dunia. Mereka akan tinggal selama satu bulan disana." jawab papa Gibran.


"Wah tega gak ngajak-ngajak nih." keluh Galvin. Tapi Galvin sadar ada yang lebih penting dari itu, yaitu urusan istrinya dengan Samuel.


Tepat jam 2 siang, Galvin dan Hana telah sampai ke rumahnya. Hana terkejut saat melihat ada sekitar 5 bodyguard berdiri di depan rumah Galvin.


"Siapa mereka?" tanya Hana memandangi ke 5 orang yang gagah dan berpakaian kemeja putih plus jas hitam itu.


Galvin masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Hana, dia menjawab pertanyaan dari Hana. "Bodyguard kamu. Mulai hari ini kalau kamu pergi kemana pun harus di kawal oleh mereka, dan harus minta izin dulu sama aku kemana pun kamu pergi." Galvin merasa ada yang aneh pada sikap Hana semalam, makanya dia tidak ingin Hana bebas pergi kemana saja apalagi menemui Samuel.


"Mengapa bisa begitu?" Padahal Hana sudah janjian akan bertemu dengan Pingkan dua jam lagi.


"Karena aku suami kamu. Aku berhak mengawasi kamu."


Hana tidak mengerti mengapa Galvin mendadak bersikap overprotective padanya.