
Galvin, Morgan, dan karyawan lainnya beserta manager Morgan telah sampai di bandara dengan menggunakan pesawat pribadi milik Galvin, mereka turun dari pesawat, kebetulan sudah disiapkan mobil mewah setengah jam sebelum mereka tiba disana.
Selama seharian penuh Galvin memantau proses syuting produk Vixo di kota Berlin sana, tepatnya di daerah Pariser Platz, untuk memperlihatkan bagaimana indahnya kota Berlin, beruntung Morgan berakting dengan sangat baik sehingga tidak begitu memakan banyak waktu. Morgan adalah brand ambassador Vixo makanya dia yang menjadi model iklan dan harus bekerjasama lagi dengan mantan musuhnya itu.
"Kalian kalau mau liburan, liburan saja, atau juga mau pulang, pulang duluan silahkan. Aku ingin menenangkan diri dulu disini." suruh Galvin kepada karyawan TVC Media.
Kebetulan dia harus Berkunjung ke rumah Zhoya karena mamanya menitipkan makanan khas Indonesia untuk keponakannya itu.
Galvin memang lebih suka menyetir mobil sendiri, dia segera masuk ke dalam mobil sportnya, dia kaget tiba-tiba Morgan ikut masuk ke dalam mobil.
"Gue juga mau liburan disini bro, kita liburan bareng aja. Apalagi gue banyak kenalan cewek cakep disini, siapa tau bisa bikin lu move on."
"Gak lah, gue gak berselera buat kenalan sama cewek lain." Galvin segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Hmm... sama, pesona Hana itu memang susah dilupakan. Jujur aja gue naksir bini lu, tapi itu juga salah lu sendiri kenapa dulu gak ngakuin dia bini lu?"
"Itu yang membuat gue semakin menyesal, gue sudah banyak membuat dia sakit hati. Gue belum bisa membuat dia bahagia." Galvin masih mengingat jelas bagaimana perlakuan dan ucapan dia selama ini pada Hana.
Mereka hampir sampai ke kediaman Zhoya, tentunya melewati dulu rumah yang di tempati Hana, rumah mereka hanya terhalangi benteng saja. Galvin tak sengaja melihat ada seorang wanita yang sedang menyiram bunga di depan halaman rumahnya, sayangnya hanya terlihat bagian belakangnya saja, dari postur tubuhnya mengingatkan dia pada Hana. Namun Galvin rasa mungkin dia terlalu merindukan istrinya makanya dia menganggap postur tubuh tetangganya Zhoya itu mirip dengan Hana.
Padahal nyatanya benar, wanita itu adalah Hana. Dia sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya. Sayangnya Galvin tidak sempat melihat wajah Hana.
Galvin menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia dan Morgan turun dari mobil, mereka segera masuk ke dalam rumah walaupun Zhoya belum pulang karena Galvin sudah tau pasword rumah itu.
Morgan nampak takjub melihat isi rumah yang ditempati Zhoya itu, dekorasinya sangat berkelas sekali dan juga banyak barang antik disana. Sampai dia terwah-wah.
Mereka duduk di kursi sofa.
"Ini rumah Omah tapi Zhoya yang sering tinggal disini karena kebetulan dia lagi kuliah disini."
"Zhoya? Sepupu lu itu?"
"Astaga gak percayaan amat sama gue. Eh tapi lucu juga ya kalau bahas tentang masa lalu, kita sering berkelahi, maklumlah pikiran masih labil."
"Hmm... iya kehadiran Hana yang membuat kita bisa berdamai." Saat menyebut nama Hana, Galvin teringat kembali saat tadi dia melihat tetangganya Zhoya yang sedang menyiram bunga. Dari postur tubuh di bagian belakangnya mirip dengan Hana karena dia sangat hapal disetiap lekuk tubuh istrinya itu. Bagian depan, pinggir dan belakang. Dia hapal betul.
"Kamar mandi dimana? Gue mau mandi nih!" Morgan merasa gerah sekali.
Galvin menunjukan dimana letak kamar mandi di rumah itu, "Nah lu lurus aja kesana, lalu belok kiri."
"Oh ok!" Morgan segera pergi ke kamar mandi.
Sementara Galvin nampak penasaran, dia ingin melihat wajah tetangganya Zhoya itu.
Galvin segera naik ke atas rooftop, kebetulan dia melihat ada tetangganya Zhoya naik ke atas rooftop juga, dia sedang berteleponan dengan seseorang, sayangnya wajahnya tidak terlihat lagi karena posisinya membelakangi Galvin. Apalagi suaranya gak begitu jelas terdengar.
Sebenarnya malam ini Hana lagi berteleponan dengan Samuel, karena Samuel sangat merindukan Hana.
"Aku merindukamu sayang." ucap Samuel diseberang sana.
"Aku juga sama." Jawab Hana, walaupun sebenarnya dia tidak tau apa yang dia rasakan pada Samuel.
Sementara Galvin, dia masih terus memperhatikan Hana, rooftop mereka memang berdekatan hanya terpaut jarak 1 meter saja.
Setelah berteleponan dengan Samuel, Hana segera menutup panggilan telepon. Dia memperhatikan hingar bingarnya suasana kota Berlin di atas rooftop sana sambil menghirup udara, merasakan udara di malam hari itu.
Sementara Galvin, dia masih memperhatikan Hana walaupun dia belum bisa juga melihat wajahnya, dia sangat penasaran dengan wanita itu.
Hana rasa dia harus masuk ke dalam rumah, dia membalikkan badannya membuat Galvin bisa melihat dengan jelas wajah Hana, Hana tak sengaja melihat Galvin yang sedang memperhatikannya dari jarak yang lumayan berjauhan di seberang rooftop sana.
Mata Galvin membola, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini begitu melihat wajah tetangganya Zhoya dengan jelas. Sampai mata Galvin berkaca-kaca, "Ha-Hana?