
Mata Galvin membola, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini begitu melihat wajah tetangganya Zhoya dengan jelas. Sampai mata Galvin berkaca-kaca, "Ha-Hana?"
Hana mengerutkan keningnya, dia tidak mendengar begitu jelas apa yang diucapkan Galvin. Namun dia tidak mengerti mengapa pria itu terus menatapnya.
Galvin yakin wanita disebrang rooftop itu adalah Hana, dia tidak pernah melupakan wajah istri sirinya itu. Matanya beredar mencari sesuatu agar dia bisa menemui wanita itu, sayangnya tidak ada alat apapun yang bisa dia gunakan agar dia bisa loncat ke rooftop seberang sana.
Hana tidak mengerti dengan tingkah laku pria disebrang rooftopnya itu, dia memilih untuk pergi dari rooftop, namun suara Galvin membuat langkahnya berhenti.
"Hei, tunggu dulu!"
"Hana!"
Hana membalikkan badannya, dia kaget karena Galvin nekad loncat kesana, hampir saja dia terjatuh, beruntung Galvin bisa dengan kuat memegang pagar rooftop dan naik ke atas, dia langsung menghampiri Hana dengan nafas terengah-engah.
Karena Hana sama sekali tidak mengingat Galvin, dia pasti kaget tiba-tiba Galvin datang menemuinya dengan cara seekstrim itu, dia pikir Galvin akan berbuat jahat padanya.
Hana berteriak untuk memanggil para bodyguard yang selalu menjaga dirinya, yang kebetulan lagi berada di bawah sana, didepan rumah. "Tol...emmhhh...emhhh!"
Hana tidak sempat minta tolong karena Galvin membekap mulutnya dengan tangan. "Sttt... Hana, kamu ini kenapa? Ini aku Galvin, kamu gak ingat?"
Hana menggigit tangan Galvin yang membekap mulutnya dengan keras, membuat Galvin mengerang kesakitan.
"Shhh...argghhh!" Beruntung dia mengerangnya dengan pelan, karena takut menimbulkan kegaduhan. Galvin tidak mengerti mengapa Hana sama sekali tidak mengenalinya.
Hana teringat dengan obrolannya bersama Zhoya tentang saudara sepupu Zhoya yang bernama Galvin, "Jadi kamu Galvin?"
"Iya, aku Galvin, suami kamu." Galvin mengatakannya sambil meniupi telapak tangannya yang sakit digigit oleh Hana.
Galvin menatap Hana dengan penuh haru, "Ternyata benar kan feeling aku kalau kamu itu masih hidup, kamu gak mungkin meninggalkan aku begitu saja."
Hana terdiam sebentar sambil menatap Galvin, kemudian dia tersenyum kecut. "Aku rasa kamu harus tes kejiwaan, istri kamu sudah meninggal, aku tau kamu itu seorang duti."
"Duti?" Galvin mengerutkan keningnya.
Galvin terdiam memandangi Hana, dia sangat tau Hana tidak sedang membohonginya, apa benar-benar Hana tidak mengenalinya? Apa dia begitu akrab dengan sepupunya itu?
"Oh iya, harus kamu tau aku bukan Hana. Namaku Dara. Karena itu jangan pernah nekad loncat lagi ke rooftop ini. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu pada polisi." Hana mengatakannya dengan nada mengancam.
Galvin masih dalam diamnya. Rasanya dia tidak begitu percaya bagaimana mungkin wanita dihadapannya itu bukan Hana. Apa di dunia ini ada orang yang memiliki wajah yang sama, bahkan suaranya? Tapi dari tatapannya, Galvin melihat wanita dihadapannya itu begitu berbeda, seakan dia memang sama sekali tidak mengenali Galvin.
Walaupun semua orang mempercayai Hana sudah meninggal, hanya dirinya lah yang yakin Hana masih hidup. Tapi wanita dihadapannya ini siapa? Hana atau wanita yang memang mirip dengan istrinya itu?
Hana memperlihatkan cincin di jari manisnya, "Aku sudah memiliki tunangan, namanya Justin. Sebentar lagi aku akan menikah, jadi jangan macam-macam padaku!"
"Justin?" Nama itu sangat asing bagi Galvin. Apa mungkin memang dia salah orang, membuat dia kebingungan.
"Iya, Justin. Karena itu lebih baik kamu pergi dari sini."
"Kamu tidak sedang berakting kan? Aku yakin banget kamu itu Hana."
Hana malah menghela nafas mendengarnya, dia rasa malam ini dia bukan berurusan dengan duda biasa, tapi duda gila, yang berhalusinasi menganggap dia mirip dengan dengan istrinya yang sudah mati itu.
"Aku punya foto kamu!" Galvin ingin meyakinkannya. Dia memang belum pernah berfoto bareng dengan Hana, tapi dia pernah mencuri kesempatan memfoto Hana saat dia sedang tertidur di bubble hotel Green Forest.
Galvin meronggoh saku celananya, sayang sekali ponselnya ketinggalan di mobil. "Ahhh...sial!" keluhnya. "Ponsel aku ketinggilan, biar nanti aku perlihatkan sama kamu."
"Tidak perlu, aku tidak ingin tau. Jangan ganggu aku lagi."
"Hana..."
"Sudah ku bilang namaku bukan Hana. Aku Dara. Dan aku belum menikah, apalagi dengan pria gila seperti kamu." Setelah mengatakan itu Hana langsung pergi dari rooftop, meninggalkan Galvin.
Galvin tidak mungkin gegabah membawa Hana secara paksa begitu saja, apalagi wanita itu terlihat sama sekali tidak mengenali Galvin. Membuat Galvin kebingungan. "Pria gila? Kata-kata nya pedas sekali." Galvin tidak mengerti mengapa Hana menyebutnya pria gila.
Dia jadi teringat saat dia sering berkata pedas pada Hana dulu. Tapi dia tidak akan menyerah, akan mencari cara untuk bertemu wanita yang mirip istrinya itu.