Mysterious Wife

Mysterious Wife
80



Dua bulan kemudian....


Sudah dua bulan Hana dinyatakan meninggal, bahkan hasil visum pada sisa tulang belulang yang pada sebuah mayat yang telah habis terbakar itu tak dapat terdentifikasi. Namun sesuai keterangan dari benda-benda yang telah Hana tinggalkan, itu bisa dinyatakan Hana yang meninggal.


Walaupun Galvin sama sekali tidak mempercayainya. Sayang sekali tidak ada CCTV di sekitar gedung tua itu karena jauh dari pemukiman. Bahkan Detektif Al sangat kesulitan untuk memecahkan kasus itu karena Samuel telah mempersiapkannya secara matang.


Terpuruk, tentu saja Galvin sangat terpuruk karena wanita yang dia cintai begitu dalam telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya, walaupun hati kecilnya masih tak yakin Hana meninggal dan masih menyuruh Detektif Al untuk mencari keberadaan Hana. Berharap keajaiban datang.


Samuel telah dinyatakan sebagai buronan atas pembunuhan keluarga Hana dan ayah tiri Samuel, karena pihak dari Pegadaian telah menghubungi nomor Hana, sehingga Galvin menebus ponsel itu dan menyerahkannya ke polisi.


Dan juga nama Pingkan masuk ke dalam daftar pencarian orang hilang, Galvin penasaran mengapa Pingkan mengadaikan ponsel Anya tapi menyuruh pihak Pegadaian untuk menghubungi Hana jika Pingkan tidak dapat menebus ponsel itu dalam satu minggu.


"Aku yakin Hana pasti belum mati, kamu tau kan Detektif Al, dulu Samuel telah membuat kuburan palsu atas nama Hana, aku yakin dia pasti ingin menipuku lagi agar aku tidak mencari Hana. Bahkan keberadaan Samuel belum ditemukan." lirih Galvin, dia terlihat putus asa sekali.


Detektif Al berpikir sejenak, "Saya juga berpikir begitu. Lalu siapa yang Samuel bakar? Apa mungkin Samuel telah membunuh Pingkan? Makanya sulit untuk menemukannya."


"Apa itu masih ada harapan Hana masih hidup kan Detektif Al?" Galvin sangat berharap Hana masih hidup. Dia begitu tersiksa hidup tanpa ada Hana disisinya.


"Saya belum tau Tuan, tapi saya akan berusaha untuk mencari tau itu semua." Seorang Detektif juga manusia biasa, pastinya Detektif Al tidak bisa selalu bisa memecahkan masalah dengan cepat, apalagi jika tersangka sudah mempersiapkan semuanya dari jauh hari tanpa menyisakan barang bukti.


Galvin hanya bisa menganggukkan kepala. Dia benar-benar putus asa, sampai menyuruh banyak Detektif di berbagai penjuru di negeri ini untuk mencari keberadaan Hana, hatinya masih mempercayai Hana masih hidup. Sekaligus membantu polisi untuk mencari Samuel.


...****************...


"Lihat lah anak mama kurus banget, mama jarang melihat kamu makan." Mama Ghea menyuruh Galvin untuk makan. Dia sengaja membawa banyak makanan untuk Galvin.


Akhir-akhir ini Galvin memang sudah tidak berselera makan. Kehilangan Hana sangat menyakitkan baginya. Sungguh sungguh membuat hatinya terasa sakit dan hampa. Apalagi bayangan Hana selalu ada disetiap sudut rumahnya, membuat Galvin semakin tak bisa melupakannya.


Galvin menitikan air matanya, "Aku gak berselera makan sebelum aku bisa menemukan Hana, Mah."


Galvin hanya diam, dia sudah berusaha untuk tidak menangis tapi rasanya tidak bisa. "Rasanya sakit banget, Mah. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita, tapi wanita itu malah pergi untuk selamanya. Walaupun hati kecil aku merasa yakin Hana belum meninggal, Mah."


Kebetulan Morgan sedang berada disana, dia memperhatikan ibu dan anak yang sedang bersedih itu. Morgan sering menginap di rumah Galvin, untuk menghibur Galvin karena saat Hana masih hidup mereka sudah sepakat untuk berteman.


"Ehm!" Morgan berdehem. "Wah masakan tante pasti enak banget ya." Dia ingin mencairkan suasana agar mereka tidak bersedih lagi. Dia memberikan tisu pada mamanya Galvin.


Mama Ghea menerima tisu itu dan menghapus air matanya, "Keluarga tante bilang masakan tante sangat enak, coba aja cicipi!"


Morgan mencicipi masakan Mama Ghea, dia membulatkan matanya begitu merasakan bagaimana rasanya masakan mama sahabatnya itu, "Wah enak banget, tante. Selain cantik, pintar masak juga. Aku jadi mau daftar jadi papa tirinya Galvin, tante." Morgan mengatakannya dengan malu-malu.


Galvin langsung menatap garang pada Morgan, "Langkahin dulu mayatku sebelum kamu menikahi mamaku."


Morgan terkekeh, "Astaga, bercanda kali. Tapi serius juga sih tante Ghea cantik banget, aku pikir tante masih umur 30 tahunan, sayang sekali punya Om Gibran. Tapi punya anak cewek kan, tante?"


Mama Ghea yang tadinya menangis, dia merasa terhibur dengan ucapan Morgan, "Ada, tapi dia sudah menikah."


"Astaga, aku telat ternyata. Padahal aku ingin sodaraan dengan Galvin."


"Nah Galvin punya sepupu, namanya Zhoya...."


Galvin memotong pembicaraan Mama Ghea, "Gak, jangan Mah. Kasihan Zhoya dapat cowok kayak dia."


"Lah aku udah tobat kali, orang yang aku suka sudah meninggal, makanya aku sering menginap kesini buat nangis bareng."


Sebenarnya Morgan memiliki cinta pertama yang sulit dia lupakan, namun entah kemana perginya wanita itu, makanya dia menjadi seorang canasano, karena merasa dipermainkan oleh sang mantan.