Mysterious Wife

Mysterious Wife
53



Hana terpaksa harus datang ke kantor One-R, dia harus menemui kekasihnya itu, dia ingin menghargai Samuel yang sudah memasak untuknya.


Hana sengaja menutupi lehernya dengan syal agar Samuel tidak melihat banyak stempel merah di lehernya itu. Dia takut Samuel marah padanya. Walaupun dia selama ini tidak pernah melihat sekalipun bagaimana ekspresi Samuel seperti apa kalau dia sedang marah.


Bagi Hana, Samuel adalah pria yang sangat baik dan pengertian, Samuel tidak pernah marah padanya, pria itu begitu lembut. Namun karena dia melihat foto Galvin, Mitha dan Samuel membuat ada sesuatu yang mengganjal di benaknya, apalagi setelah mendengar dari Morgan rupanya Samuel dan Galvin dulu bersahabat namun persahabatan mereka menjadi renggang karena Mitha yang mati kecelakaan.


Apakah Samuel juga memiliki dendam pada Galvin makanya dulu dia mengajukan ide kepada Hana untuk balas dendam pada Galvin?


Kalau memang mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu balas dendam pada Galvin, mengapa Samuel tidak berterus terang saja padanya?


Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Samuel, namun Hana rasa dia tidak bisa menanyakan itu karena Samuel sepertinya tidak ingin Hana tau tentang masa lalu Samuel.


"Bagaimana pastanya?" tanya Samuel pada Hana yang terlihat sedang melamun mengaduk-aduk pasta buatannya.


"Emm... sangat enak." jawab Hana.


Samuel memperhatikan Hana, sepertinya Hana kurang tidur makanya kekasihnya itu terlihat seperti sedang kelelahan. "Apa semalam kamu bergadang?"


"Kenapa tanya itu?" Hana malah balik tanya.


"Kamu terlihat seperti kelelahan sekali, apa Galvin membuatmu bekerja sampai malam?"


Wajah Hana memerah begitu mengingat semalam dia telah menghabiskan beberapa ronde bercinta dengan Galvin. Tidak, bukan bercinta, Hana meyakinkan dalam hati bahwa itu bukanlah bercinta. Karena bercinta itu dilakukan oleh dua orang yang sama-sama menginginkannya. Sementara dia tidak sudi jika Galvin menyentuhnya lagi. Tepatnya Galvin telah memaksanya untuk berhubungan int*m.


"Emm... iya semalam pekerjaan aku banyak sekali, makanya aku harus sampai bergadang semalam." Hana terpaksa berbohong pada Samuel.


"Lalu bagaimana dengan racun yang aku berikan, kamu sudah memberikannya pada Galvin?"


Hana terpaksa berbohong, "Sudah."


Samuel tersenyum mendengarnya, "Bagus, pria seperti itu memang harus mati. Mati secara perlahan setelah mendapatkan penderitaan karena kehilangan kamu nanti, kamu harus membuat dia patah hati."


Hana terdiam , padahal itu tujuan awalnya, namun entah mengapa dia masih ragu untuk memberikan racun itu pada Galvin padahal dia sudah bernekad akan menjadi wanita yang jahat.


Samuel memegang tangan Hana, dia mencium tangan kekasihnya itu. "Jaga kesehatan kamu, jangan sering lembur. Kamu terlihat kelelahan sekali sayang."


Bagaimana mungkin Hana mencurigai Samuel seorang penjahat, pria itu selalu memperlakukannya sangat lembut dan penuh kasih sayang, berbeda dengan Galvin. Galvin selalu terlihat brengsek di mata Hana dari awal mereka bertemu di Jepang. Tidak, pertemuan mereka bukan di Jepang, tepatnya 8 tahun yang lalu saat Galvin di kejar para gengster dan berlari ke halaman rumahnya. Hana sangat merasa yakin dari dulu Galvin adalah pria yang nakal dan bermasalah.


(Perlu diketahui agar tidak salah paham.Hana adalah cinta pertama Galvin. Tapi Galvin bukan cinta pertama Hana. Makanya Hana biasa-biasa saja saat tau Galvin adalah pria yang pernah bersembunyi di halaman rumahnya.)


Samuel memperhatikan syal yang menutupi leher Hana, "Tumben sekali kamu pakai syal?"


Hana terpaksa berbohong lagi pada Samuel, "Emm... cuaca pagi ini dingin sekali, makanya aku pakai syal."


"Padahal sekarang musim panas, apa kamu sakit gara-gara semalam bergadang?" Samuel menyentuh kening Hana. Rupanya kekasihnya baik-baik saja, suhu badannya normal.


"Kenapa?"


"Sebelum berkencan dengan aku, apa dulu kamu pernah mencintai seseorang, atau mungkin ada seorang wanita yang berarti di dalam hidup kamu?"


Pertanyaan Hana malah mengingatkan Samuel pada Mitha, setiap ingat Mitha, matanya selalu berkaca-kaca, bagaimana tidak sedih karena Mitha adalah perempuan yang selalu ada untuknya dan sangat perhatian padanya.


Hana menyadari betul ekspresi Samuel seperti itu, dia yang dari tadi tersenyum, namun wajahnya berubah seperti terlihat sangat sedih. Walaupun Samuel berusaha untuk menyembunyikan kesedihan itu.


"Tidak, hanya kamu yang aku cinta. Hanya kamu yang aku miliki. Hanya kamu yang berharga buat aku."


Entah mengapa perkataan Samuel sama sekali tidak membuat hati Hana bergetar, biasanya seorang wanita akan senang jika mendengar ucapan seperti itu. Hana pura-pura tersenyum dan menganggukan kepala.


"Kau tau tidak Sam, hari ini hari apa?"


"Hari apa memangnya?"


"Tanggal dan bulan yang sama saat rumahku kebakaran 6 tahun yang lalu." Hana mengatakannya dengan nada sedih.


Samuel pura-pura sedih mendengarnya. Dia mengusap-usap lembut punggung Hana untuk menenangkannya.


"Aku yakin itu bukan kecelakaan, pasti ada yang sengaja membakar rumah aku."


"Mengapa kamu berpikir seperti itu?"


"Anya bilang dia melihat ada pria yang berlari keluar dari rumah saat terjadi kebakaran, tapi Anya tidak melihat wajahnya karena ditutupi oleh masker. Kata Anya pria itu memegang pisau. Apa mungkin dia membunuh mama papa ku dulu lalu membakar rumah?"


Saat itu Anya keluar dari kamar karena ingin ke kamar mandi, dia masih berusia 10 tahun. Dia terkejut saat melihat ada api yang berkobar-kobar di dalam rumahnya, saat itu lah dia melihat seorang pria berlari dari dalam rumah untuk menyelamatkan diri karena sudah membakar rumah Hana. Sekaligus menghilangkan jejak bahwa dia telah membunuh orang tua Anya. Kemudian Anya berlari ke kamar Hana yang masih aman belum di lalui api, saat itu Hana masih tidur, belum menyadari adanya kebakaran. Karena kebakaran rumah terjadi tepat pukul 12 malam. Saat semua orang sedang tidur terlelap.


Samuel menjadi salah tingkah, "Emm... aku tidak tau, tapi jika memang iya aku rasa pria itu sangat sadis sekali."


"Sangat sadis. Bahkan jika aku bertemu dengannya lagi, aku ingin membunuhnya." Hana mengatakannya sembari mengepalkan tangannya. "Dulu aku mencoba melaporkan itu ke polisi. Tapi Anya masih kecil waktu itu, jadi keterangan anak kecil tidak bisa dipercaya."


Hana menangis begitu dia teringat Anya, "Dan tragisnya Anya juga harus mati secara tidak wajar, mengapa keluarga aku harus mati dengan cara yang mengenaskan, Sam?"


Samuel hanya bisa menjawab pertanyaan Hana di dalam hati.


Karena itu hukuman buat keluarga kamu, papa kamu yang telah membuat ayahku mati. Dan saat ini aku menghukum kamu untuk membalaskan dendamku pada Galvin.


Galvin juga harus menerima hukuman karena telah menyakiti hati Mitha. Aku ingin Galvin mencintai kamu begitu dalam. Dan aku akan menghukum kalian. Membunuh kamu di depan Galvin, bukan kah itu balas dendam yang sempurna? Membuat Galvin patah hati melihat kamu mati didepannya, karena memang seharusnya kamu mati menyusul keluarga kamu, Hana. Menebus kesalahan papamu yang brengsek itu.


Setelah itu Galvin akan menderita kehilangan kamu dan mati perlahan dalam penderitaannya. Hahaha...


Aku akan menghukum siapa saja yang berani berbuat kesalahan padaku ataupun menyakiti orang-orang yang sangat penting untukku.