My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
98. Menjadi Yang Pertama



Pesta pernikahan yang meriah itu pun telah usai. Saat ini kedua mempelai yang telah sah menjadi suami istri itu tampak canggung berada di dalam kamar pengantin yang bernuansa romantis dengan lampu kamar yang temaram.


“Hmmm sepertinya aku akan mandi dulu,” ucap Adam memecah kesunyian.


“Baiklah, aku akan menyiapkan bajumu,” sahut Emilia yang masih mengenakan gaunnya.


Adam mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar itu. Sebelum masuk ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Emilia yang baru saja berdiri dari duduknya.


“Ada apa?” tanya Emilia.


“Mau mandi bersama?” goda Adam sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sontak hal itu membuat Emilia gelagapan dan bingung harus menjawab apa. Pipinya memerah menahan rasa malu. Mau menolak tapi sekarang Adam sudah menjadi suaminya, mau mengiyakan tapi jantungnya terasa belum siap. Sekarang saja jantung itu sudah berdetak cepat tak karuan dibuat pertanyaan Adam.


Adam terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.


“Aku becanda. Aku mandi dulu, setelah itu baru kau yang mandi. Tolong siapkan baju gantiku, ya.”


Emilia hanya mengangguk beberapa kali, barulah setelah itu Adam benar-benar masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Ya ampun, ada apa dengan jantungku?” tanya Emilia pada dirinya sendiri sambil menyentuh dadanya.


“Dia suamimu, Emilia. Kau harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Huhhh, tapi kenapa aku deg-degan sekali, ya? Bagaimana ini? Jantungku tidak bisa dikondisikan. Baru begini saja rasanya jantungku sudah mau melompat keluar, apalagi kalau Adam melakukan yang lebih.”


Eh, yang lebih?


Emilia dengan cepat menggelengkan kepalanya, mengusir otaknya yang sudah mau travelling kemana-mana. Ia pun segera pergi menyiapkan pakaian Adam daripada terus memikirkan hal yang tidak-tidak.


Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Adam untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sementara dadanya yang bidang itu ia biarkan terpampang begitu saja.


Emilia yang melihat kegagahan tubuh suaminya itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak mau jantungnya benar-benar akan melompat keluar.


“Bajunya sudah aku siapkan,” ucap Emilia.


Adam tersenyum lalu mendekat ke arah Emilia. “Terimakasih, istriku sayang.”


Cup. Adam mencium pipi Emilia sekilas. Entahlah, sekarang dia suka sekali menggoda wanita yang baru saja bergelar sebagai istrinya itu. Sementara Emilia hanya mematung dibuatnya. Wangi aroma sabun dari tubuh Adam seakan menghentikan kerja otaknya dalam sekejap.


Setelah itu Adam mengambil baju yang sudah Emilia siapkan lalu masuk ke walk in closet untuk memakainya. Tak lama Adam yang sudah berpakaian datang menghampiri Emilia.


“Kau mandilah dulu. Aku ke bawah sebentar,” ucap Adam dengan lembut.


“Baiklah, aku akan mandi sekarang,” jawab Emilia dengan patuh.


Adam pun keluar dari kamar. Sementara Emilia masuk ke kamar mandi.


Hampir setengah jam Emilia berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia bahkan sempat berendam di air hangat untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah seharian banyak berdiri menyapa para tamu undangan.


Ketika keluar dari kamar mandi, suasana terlihat sepi, ternyata Adam belum masuk lagi ke kamar itu. Emilia pun bergegas menuju walk in closet sebelum Adam datang. Emilia membuka satu lemari, kemudian lemari yang lain silih berganti tapi tak ada satupun piyama untuknya disana.


Ia mencari-cari lagi ke setiap lemari. Hingga akhirnya ia menemukan deretan pakaian tidur tipis yang jika dipakai niscaya akan memperlihatkan tubuhnya dengan jelas.


“Jangan bilang kalau Adam sengaja menyiapkan ini untukku,” gumam Emilia.


“Huh, sepertinya dia memang sengaja mencari celah malam ini.”


Emilia tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan pasrah ia mengambil satu yang berwarna hitam lalu segera memakainya. Ia pun keluar dari walk in closet dengan langkah terendap-endap. Saat tau Adam masih ada di luar, Emilia dengan cepat naik ke atas tempat tidur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut sampai menutup lehernya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Adam masuk ke kamar lalu mengernyitkan dahinya saat melihat sang istri sudah berselimut sampai ke leher.


“Kau kedinginan?” tanya Adam seraya duduk di tepi tempat tidur.


“Hmmm sedikit. Ini membuatku nyaman,” jawab Emilia bohong.


“Aku juga bisa membuatmu lebih nyaman,” ucap Adam yang semakin mendekati Emilia.


“Hmmm oh ya, apa kau lelah? Aku rasa aku sedikit lelah. Dan agak mengantuk juga. Hoaaammmm.” Emilia berpura-pura menguap agar terlihat sedang mengantuk.


Mendengar hal itu Emilia langsung melebarkan matanya. Ia menyingkap selimutnya lalu duduk di hadapan Adam dan menatapnya dengan sinis.


“Apa kau bilang? Teman wanitamu? Jam segini belum pulang? Kan acaranya sudah selesai dari tadi,” tanya Emilia dengan suara yang agak meninggi.


Gleg. Adam menelan salivanya dengan susah payah saat melihat istrinya berpenampilan seperti itu. Ternyata ini alasan istrinya tadi berselimut hingga menutup leher.


“A-aku tidak tau. Mungkin memang mereka masih ingin mengobrol saja,” jawab Adam dengan terbata. Dia sengaja memancing emosi istrinya. Padahal sudah tidak ada lagi tamu  disana.


Emilia memicingkan matanya lalu mendekatkan wajahnya ke arah Adam. Ia tidak tau saja dengan posisi seperti itu bagian dadanya makin terlihat jelas mengintip dari baju yang ia kenakan.


“Kalau kau keluar, kau tidak boleh lagi masuk ke kamar ini. Tidur saja sekalian di luar. Ngobrol sana sampai pagi,” usir Emilia yang terdengar seperti ancaman.


Adam menarik ujung bibirnya. Ia tau Emilia sedang kesal karena cemburu saat ini.


“Mana mungkin aku rela meninggalkan istriku yang cantik dan .......” Adam berbisik tepat di telinga Emilia, “sek*si ini.”


Deg.


Emilia baru tersadar dia sudah melakukan kesalahan. Ia lupa menutupi dirinya dengan selimut. Dengan cepat ia ingin menarik selimut itu lagi, tapi Adam lebih dulu menahannya.


“Tidak perlu ditutupi lagi. Kau tidak mau aku mengobrol di luar dengan teman wanitaku kan?”


Emilia menggeleng. Adam pun tersenyum.


“Tidak perlu malu. Sekarang kau sudah sah menjadi istriku.”


Adam mengucap itu dengan penuh kelembutan sehingga berhasil membuat Emilia tersipu malu.


“Aku tau kau belum siap. Aku tidak akan memaksamu. Aku mau kita melakukan itu saat sama-sama siap. Bukan hanya karena aku saja yang menginginkannya.”


Setelah itu Adam terlihat beranjak dari tempat tidur untuk mematikan lampu tidurnya. Tapi Emilia mengira Adam sedang ngambek dan ingin meninggalkannya. Karena itu Emilia dengan cepat menarik tangan Adam lalu menatapnya.


“Bagaimana kalau aku juga menginginkannya?” tanya Emilia yang membuat jantung Adam berdebar.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba.


“Maka tidak ada alasan bagi kita untuk menundanya,” jawab Adam sambil mengelus pipi halus milik istrinya.


Emilia tersenyum lalu mengangguk seolah memberi signal yang baik pada Adam. Adam yang sudah sejak lama menantikan hal ini tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi.


Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Emilia lalu mengecup bibir manis merah muda itu dengan sangat lembut. Emilia pun membalasnya dengan tak kalah lembut. Mereka saling berbagi kelembutan hingga tak sadar posisi mereka sudah siap untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Dengan jantung yang saling berdebar, dengan nafas yang saling memburu, dengan cinta yang telah membuncah di dada, kini mereka sama-sama mereguk indahnya surga dunia dalam ikatan yang telah sah sebagai sepasang suami istri.


“Terimakasih, Sayang. Terimakasih telah menjaga dirimu dengan sangat baik sehingga aku menjadi yang pertama menyentuh dirimu,” ucap Adam setelah melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Lalu ia mengecup kening Emilia dengan sangat lembut.


“Apa ini juga yang pertama bagimu?” tanya Emilia yang mendapat anggukan dari Adam.


“Aku harap aku akan selalu menjadi yang pertama juga terakhirmu. Jika kau menginginkannya maka datanglah padaku, istrimu, bukan pada wanita lain,” ucap Emilia dengan lirih.


“Sssttt....aku tidak mungkin berpaling darimu, Sayang. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Tidak ada satu orangpun yang mampu mengalihkan pandanganku dari dirimu, istriku sayang.”


“Kita sudah susah payah menjaga hubungan kita hingga ke tahap ini. Mungkin ke depan memang ada banyak lagi rintangan yang kita hadapi. Tapi percayalah, jika kita bisa sabar menghadapinya bersama, rintangan itu akan lebih mudah untuk kita lalui. Aku mencintaimu, Emilia. Mungkin tiap hari kau bisa bosan mendengar kalimat ini, tapi aku memang sangat mencintaimu dan aku tidak akan membagi cintaku pada yang lain selain dirimu, satu-satunya istriku yang sangat aku cintai.”


Emilia tersenyum lebar. Perkataan Adam mampu membuatnya melayang melewati angkasa. Ia merasa senang dan lega secara bersamaan. Ia pun membenamkan wajahnya di dada Adam. Adam dengan lembut mengelus punggung istrinya.


“Hmmm ngomong-ngomong, tadi kau bilang kalau aku menginginkannya maka aku harus datang padamu kan? Kalau begitu, kalau aku ingin mengulanginya lagi, boleh?” tanya Adam dengan seringai di wajahnya.


“Ap-apa? Ulang?”


*****


Bab tersulit yang aku buat sejauh ini 😱


Ngerjainnya dari pagi ketemu pagi 🤭


Jangan lupa like dan vote nya yah, biar semangat lanjut lagi. hihihihi 🤭 Happy reading 💙