My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
88. Menginap di Rumah Emilia



Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya, mereka pun tiba di stasiun tujuan. Mereka sampai disana hampir jam 7 malam. Disana sudah ada anak buah Adam yang sudah menunggu mereka.


“Ini Tuan, kunci dan tasnya.” Nampak seorang pria memberikan sebuah kunci dan tas ransel pada Adam.


“Oke. Terimakasih.”


Setelah itu pria itu pun pergi. Adam pun menuntun Emilia ke salah satu motor vespa berwarna abu-abu.


“Aku tau tempatmu tinggal jalannya tidak cukup besar untuk sebuah mobil. Jadi kita akan kesana dengan ini. Bagaimana?” tanya Adam sambil menunjuk vespa di depannya.


“Kau sudah menyiapkannya?” tanya Emilia.


Adam mengangguk. “Ayo, naik! Kita harus segera pulang ke rumahmu. Hari semakin gelap.”


Adam menyerahkan helm pada Emilia lalu ia juga memakai helmnya. Adam duduk di depan sedangkan Emilia duduk di belakangnya. Sebelum jalan, Adam sempat menarik tangan Emilia agar memeluknya dari belakang.


“Pegangan yang erat, agar tidak jatuh,” kata Adam sambil menarik tangan Emilia. Emilia pun menurut dan langsung memeluk Adam dari belakang.


Barulah Adam menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan stasiun kereta. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan mengobrol. Sesekali mereka harus bicara dengan suara yang keras agar terdengar satu sama lain. Adam yang mengendarai vespa, Emilia yang jadi petunjuk jalannya. Mereka terlihat bahagia sekali berboncengan dengan vespa di bawah langit malam yang berbintang. Hembusan angin yang semakin dingin membuat pelukan Emilia pada Adam semakin erat.


Hingga akhirnya sampailah mereka di depan rumah bercat putih. Rumah berukuran 6 x 12 meter itu terlihat rapi dari depan meskipun sudah lama tak ditinggali. Itu karena Emilia membayar tetangga sebelahnya untuk merawat rumah itu saat dia tidak ada.


“Ini rumahmu?” tanya Adam.


“Ya. Jangan kaget kalau rumahku bahkan tak sebesar kamarmu,” jawab Emilia merendah.


“Hei, tidak boleh bicara seperti itu. Bisa punya rumah saja sudah syukur,” kata Adam.


Emilia hanya terkekeh mendengarnya. Ia pun mengajak Adam masuk ke dalam. Rumah itu meski tak besar tapi cukup nyaman untuk ditempati. Hanya ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi yang biasa dipakai bersama.


“Kau mandi dulu, ya. Disini hanya ada satu kamar mandi saja. Itupun tidak pakai shower, kau harus mandi pakai gayung. Aku mau membereskan kamar dulu, mau mengganti spreinya,” kata Emilia.


Tiba-tiba Adam tersenyum. “Baiklah, Sayang.”


“Kenapa kau senyum seperti itu?”


“Tidak ada. Baiklah aku mau mandi. Tolong siapkan baju gantiku ya, calon istriku,” kata Adam sambil mengedipkan matanya. Lalu ia pun pergi ke belakang dan masuk ke kamar mandi. Emilia hanya geleng-geleng saja melihat tingkah calon suaminya itu.


Emilia pun masuk ke kamar tempat orang tuanya dulu. Ada rasa haru saat ia masuk lagi ke kamar itu. Ia masih ingat beberapa minggu sebelum ibunya meninggal, ia sering tidur bersama ibunya di kamar itu untuk menemani sang ibu. Tak sadar airmatanya menetes mengingat kenangan bersama sang ibu.


Tak ingin larut dalam kesedihan, Emilia kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia mengganti sprei yang lama dengan sprei yang baru agar nanti Adam tidur nyenyak. Ia tau bagaimana biasanya Adam tidur dengan tempat tidur yang sangat empuk dan sprei yang sangat lembut. Meski tak bisa disamakan dengan punya Adam, paling tidak ranjang itu bisa membuatnya tidur nyenyak malam ini.


Kemudian Emilia mengambil tas Adam lalu mengeluarkan pakaian gantinya. Ia sempat terkekeh sendiri saat harus menyiapkan dalaman Adam juga.


“Bisa-bisanya aku menyiapkan ********** juga hahahaha.”


“Apa yang lucu?” tanya Adam yang baru masuk ke kamar itu.


Emilia cepat-cepat meletakkan dalaman yang baru saja dipegangnya ke atas tempat tidur. Dia tidak mau nanti Adam berpikir yang aneh-aneh tentangnya karena memegang pakaian itu.


“Tidak. Tidak ada apa-apa kok.”


Gleg.


Emilia tertegun saat melihat Adam hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, sementara dadanya yang bidang terekspos sangat jelas. Ini kali pertama Emilia melihat Adam dalam keadaan seperti itu. Tubuhnya yang kekar mampu membuat Emilia tak berkedip melihatnya.


Emilia langsung tersadar dan segera membelakangi Adam.


Ya ampun, Emilia. Kenapa kau berpikir yang tidak-tidak, sih? Bikin malu saja. Gerutu Emilia dalam hati.


Adam menaikkan sebelah alisnya saat melihat reaksi Emilia. Kemudian ia tersenyum saat menyadari Emilia sedang salah tingkah karena ketahuan melihat tubuhnya.


Emilia segera berdiri dan cepat-cepat keluar dari kamar.


“Pakaianmu di atas tempat tidur. Aku mau mandi dulu,” ucapnya dengan cepat lalu menghilang di balik pintu.


Adam hanya terkekeh melihat kelakuan Emilia yang menggemaskan di matanya.


Sekarang giliran Emilia yang mandi. Sementara Adam masih berada di kamar setelah berpakaian. Adam pun mengirim pesan kepada anak buahnya untuk membelikan makan malam mereka.


Karena bosan terus di kamar, Adam pun keluar ingin duduk di depan sambil menunggu makanannya datang. Saat dia keluar dari kamar ia malah disuguhkan  dengan pemandangan yang membuatnya keringat dingin.


Ia berpapasan dengan Emilia yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi dada sampai lututnya saja. Saking buru-buru Emilia lupa membawa baju gantinya tadi. Ia pikir Adam masih di kamar, ia juga tak menyangka kalau Adam akan keluar dari kamar itu.


Adam menelan salivanya dengan susah payah. Ia ingin mengalihkan pandangannya, tapi terasa berat. Bukan berat, lebih tepatnya ia merasa rugi kalau tak melihatnya. Baru kali ini ia melihat kulit mulus milik calon istrinya itu.


Emilia melangkahkan kakinya dengan cepat dan langsung masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar yang Adam tempati. Saking paniknya ia menutup pintu dengan agak keras.


Brakkk!


Barulah Adam tersadar dari imajinasinya. Adam terlihat mengelus-elus dadanya berulang kali. Jantungnya terasa berdetak sangat cepat. Nafasnya terasa gelisah tak beraturan.


Ya Tuhan, tolong kuatkan imanku ini. Pemandangan apa itu tadi? Itu membuatku panas dingin tidak karuan. Aku bisa khilaf kalau begini. Tenang Adam, kau harus tenang. Jangan sampai kau nekat menerobos pintu kamar itu!


Hufffttt, ada-ada saja cobaan sebelum menikah. Sabar Adam, kau akan memilikinya nanti. Jangan sekarang! Sabar! Sabar!


Tok tok tok.


Terdengar pintu diketuk dari luar. Rupanya itu anak buah Adam yang mengantarkan makanan.


Setelah kejadian tadi mereka berdua tampak lebih diam. Bahkan saat makan malampun tak ada yang bersuara. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.


Saat makan Adam melihat Emilia yang sedang makan sambil menunduk. Tapi matanya tertuju pada rambut Emilia yang masih lembab tergerai. Pikiran yang aneh-aneh kembali menghantuinya. Adam dengan cepat menggeleng lalu melanjutkan makannya dengan lahap.


Sekarang mereka sudah berada di kamar masing-masing. Mereka terpisah oleh dinding kamar yang saling bersebelahan. Adam tidur menghadap dinding pemisah, begitupula dengan Emilia.


Memalukan sekali. Tadi aku ketahuan melihatnya tidak berpakaian, setelah itu aku malah lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Kira-kira apa yang Adam pikirkan tentangku, ya? Jangan sampai dia berpikir aku ini mesum. Huaaaa sangat memalukan. Batin Emilia.


Huhhh, padahal tadi aku sangat ingin menggodanya karena menginap berdua disini. Tapi setelah melihatnya hanya menggunakan handuk seperti itu, aku jadi tidak sanggup. Bisa-bisa aku khilaf. Ternyata kau sangat cantik, Emilia. Pulang dari sini aku harus segera menikahimu. Batin Adam.


Akhirnya merekapun sama-sama memeluk guling sebagai teman tidur lalu mulai memejamkan mata.


***


Yang nunggu Adam dan Emilia sah, sabar ya, sabar... Adam aja bisa sabar hihihi 🤭


Jangan lupa abis baca di like ya, mau kasih vote atau gift juga boleh 😄


Happy reading 🤗