
Begitulah Darius menceritakan semua rahasia yang ia simpan selama ini bersama Emelda. Tak ada lagi yang ia tutup-tutupi dari Adam. Adam berhak tau semua yang terjadi selama ini.
Adam sendiri tertegun mendengar cerita Darius. Entah apa yang harus ia katakan. Yang pastinya dia sangat kecewa karena terlalu lama dibohongi oleh sahabat dan tunangannya sendiri. Apa dia terlalu baik sehingga semudah itu orang lain tega membohonginya?
“Itulah yang terjadi sebenarnya, Adam. Aku minta maaf karna terpaksa menyembunyikan ini darimu,” kata Darius dengan tulus.
Adam terdiam sejenak. Ia tampak menghela nafas dalam-dalam. “Setelah apa yang kalian lakukan kepadaku, aku tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi di antara kita. Kau bukan lagi tunanganku, Emelda. Dan kau juga bukan lagi sahabatku, Darius. Persahabatan kita putus sampai disini. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu.”
“Ian,” panggil Adam kepada asistennya.
“Iya, Tuan,” sahut Ian seraya mendekat ke Adam.
“Tarik semua sahamku di perusahaannya. Dan batalkan seluruh kontrak kerjasama antara perusahaanku dengan perusahaannya. Aku tidak mau bekerjasama dengan pengkhianat,” titah Adam yang membuat Darius tercengang.
Dia tidak menyangka Adam akan bertindak sejauh ini. Kalau Adam menarik semua sahamnya dan membatalkan kerjanya di antara mereka, perusahaannya bisa diambang kebangkrutan.
“Apa maksudmu Adam? Ini masalah pribadi. Aku harap kau tidak membawa urusan bisnis dalam hal ini,” kata Darius.
“Kau pikir aku sudi melanjutkan kerjasama dengan orang yang sudah mengkhianatiku?” tanya Adam yang membuat Darius bungkam.
“Tapi....”
Belum selesai Darius bicara Adam sudah mengangkat tangannya memberi isyarat agar Darius tak melanjutkan perkataannya.
“Setelah ini terimalah kehancuran kalian. Anggap itu hadiah dariku atas pengkhianatan kalian. Dan satu hal lagi, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku muak melihat wajah kalian berdua.”
Setelah memberi ancaman seperti itu Adam pun berniat pergi meninggalkan apartemen itu. Tapi sebelumnya ia sempat melihat ke arah Emelda. Timbul kekecewaan saat ia melihat wajah mantan tunangannya itu. Rasa sakit di hatinya belum hilang begitu saja. Kemudian matanya tertuju pada Emilia, wanita yang selama ini menghiasi hari-harinya. Ketika melihat Emilia dia bingung dengan perasaannya. Mungkinkah dia bisa mencintai wanita yang wajahnya mirip dengan wanita yang telah mengkhianatinya?
Adam pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen disusul oleh Ian dibelakangnya. Ian awalnya sempat bingung mengapa Adam tidak mempedulikan Emilia sedikitpun, tapi dia harus cepat-cepat pergi mengikuti bosnya itu.
Emilia melihat ke arah kembarannya itu. Ada rasa kasihan dalam benaknya. Ia tidak menyangka saudara kembarnya itu harus mengalami hal yang serumit ini. Sesekali ia lihat Emelda mengusap perut buncitnya dengan perlahan. Lalu ia juga teringat Adam. Ia khawatir Adam akan bertindak yang tidak-tidak. Ia berbalik hendak meninggalkan tempat itu, tapi suara Emelda menahannya.
“Emilia,” panggil Emelda.
Emilia berhenti dan berbalik melihat Emelda.
“ Tolong rahasiakan ini dari ibu,” ucap Emelda yang tidak mengetahui bahwa ibunya sudah meninggal dunia.
“Kau tidak usah khawatir. Ibu tidak akan pernah tau hal ini. Karena ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini,” kata Emilia yang membuat Emelda sangat terkejut. Darius juga tak kalah terkejut mendengar berita itu.
“Apa? Ibu sudah meninggal? Kapan ibu meninggal? Kenapa kau tidak memberitahuku, Emilia?” tanya Emelda yang saat ini sudah berdiri menatap kembarannya. Mendengar ibunya sudah meninggal, ia pun kembali menangis.
“ Tolong beritahu aku bagaimana cara memberitahukan orang yang dikabarkan sudah mati kalau ibunya meninggal?” sindir Emilia dengan kesal.
“Kau pergi selama tiga tahun lebih tanpa memberi kabar. Kau tau ibu sedang sakit waktu itu. Ibu selalu bertanya tentangmu. Ibu selalu bertanya kapan kau pulang. Tapi kau...kau disini enak-enakan hidup mewah tanpa mengingat kami. Lalu tiba-tiba aku dapat kabar kau bertunangan dengan pengusaha kaya. Apa kau malu punya keluarga miskin seperti kami, hah? Jawab Emelda! Jawab!” pekik Emilia dengan airmata yang berderai-derai. Ia tak sanggup lagi menyimpan kepedihan di benaknya selama ini.
Emelda tak mampu berkata apa-apa. Ia menyesal telah mengabaikan ibu dan saudaranya. Sekarang apalagi yang mampu ia lakukan selain menangisi penyesalannya.
“Tak lama setelah itu, kau dikabarkan meninggal karna kecelakaan. Aku sengaja tak memberitahu ibu. Aku tidak mau kondisi ibu semakin parah. Tapi aku tidak bisa menutupinya lebih lama. Sampai akhirnya ibu tau kalau kau sudah meninggal dan itu membuat kondisi ibu semakin parah. Ibu terus menerus menyebut namamu setiap malam. Ibu terus mengigau dan memanggil namamu, Emelda. Sampai akhirnya ibu meninggal. Dan aku sendiri saat itu. Aku benar-benar sendiri saat itu.”
“Maafkan aku, Emilia. Maafkan aku.”
“Buat apa sekarang kau minta maaf? Ibu tidak akan hidup kembali dengan maafmu. Sekarang yang harus kau lakukan adalah renungkan kesalahanmu. Dan jangan pernah bertindak bodoh lagi. Jangan pernah berpikir untuk menggugurkan anakmu sendiri, Emelda! Dia tidak berdosa. Jangan biarkan kau menyesal dua kali!”
Emelda terisak mendengar perkataan Emilia. Ia tak sanggup menjawab lagi. Ia hanya terduduk lemas di atas sofa. Sementara Darius ikut duduk di sampingnya untuk menenangkannya. Perlahan ia mengusap punggung Emelda, mencoba untuk memberinya ketenangan.
Setelah mengatakan itu Emilia menyeka airmatanya, lalu ia pun segera pergi meninggalkan Emelda dengan segala penyesalannya. Tempat yang pertama ingin dia tuju adalah apartemen Adam. Dia yakin Adam pasti ada disana. Dia tidak ingin Adam dalam keadaan terpuruk sendirian. Ia ingin menemani Adam. Tapi apakah Adam mau melihat wajahnya lagi? Bukankah wajah itu sangat mirip dengan Emelda? Maukah Adam menerimanya?