My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
86. Pergi



Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Semalam Adam berjanji akan menjemput Emilia di apartemen setelah jam makan siang, setelah itu barulah mereka akan berangkat ke kota asal Emilia. Tapi hingga kini Adam belum menjemputnya, bahkan handphone-nya juga tidak bisa dihubungi.


Kemana dia, ya? Jam segini belum ada kabar. Apa dia lupa sudah janji padaku?


Emilia mondar mandir di kamarnya sambil menggenggam handphone-nya. Lalu ia  mengecek kembali tas ransel berisi perlengkapannya selama disana. Ia yakin mereka akan menginap semalam karena jarak ke kotanya memakan waktu beberapa jam, jadi lebih baik ia mempersiapkan pakaian dan kebutuhan lain dalam tasnya.


Setelah itu Emilia bersandar di kepala ranjangnya sambil membuka sosial media untuk menghilangkan rasa bosannya. Kelamaan menunggu ia jadi tertidur dengan posisi duduk.


Hampir satu jam berlalu, Emilia tersadar saat Bi Ratna mengetuk pintu kamarnya. Ia melihat handphone-nya, masih belum ada kabar dari Adam. Padahal dia sudah tertidur hampir sejam. Emilia pun turun dari ranjang dan membuka pintu.


“Ada apa, Bi?” tanya Emilia saat membuka pintu.


“Itu Nona, pakaian Tuan Adam semua sudah bibi bereskan. Apa ada hal lain yang bisa bibi bantu?”


“Oh, terimakasih ya, Bi. Itu aja sih, Bi. Bibi istirahat saja kalau tidak ada yang dikerjakan lagi.”


“Baik, Nona. Bibi ke kamar dulu. Kalau ada apa-apa, panggil bibi saja, ya.”


“Oke, Bi. Bi, sebentar. Apa tadi Tuan Adam ada telfon ke apartemen? Dari tadi saya telfon ke hp nya tapi tidak aktif.”


“Tidak ada, Nona. Coba Nona telfon ke kantor saja.”


“Iya juga, ya. Oke Bi, terimakasih.”


Emilia kembali ke kamarnya, duduk di tepi ranjang lalu menelepon ke kantor Adam.


“Hallo, Selamat siang, ERS-company, ada yang bisa dibantu?”


“Selamat siang. Saya Emilia mau bicara dengan Tuan Adam Smith. Boleh disambungkan dengan Tuan Adam?”


“Oh, maaf Nona, Tuan Adam sedang tidak di kantor. Beliau belum pulang makan siang dengan client nya.”


“Kalau tidak salah namanya Nona Sarah. Beliau salah satu client perusahaan ini, Nona.”


Sarah?


Deg. Tiba-tiba jantungnya berdenyut mendengar nama itu. Ia teringat saat di mobil Adam menerima telepon dari seseorang bernama Sarah. Dan wanita itu adalah wanita yang dipeluk Adam di restoran dulu.


“Hallo, Nona. Anda masih disana, Nona?”


“Eh, i-iya. Terimakasih informasinya.”


“Baik, Nona. Selamat siang.”


Panggilan itupun terputus. Emilia menggenggam handphone-nya dengan erat. Rasa cemburu langsung menjalar di hatinya. Padahal mereka sudah janjian akan pergi bersama, tapi bisa-bisanya Adam malah makan di luar dengan wanita itu.


Emilia terlihat kecewa. Ia meraih tas ranselnya dan pergi meninggalkan apartemen. Dia tak mau menunggu Adam lagi. Dia memilih pergi ke kotanya sendirian saja dengan menggunakan kereta.


Tidak ada gunanya aku menunggu orang yang sedang bersenang-senang dengan wanita lain.


Saat ini Emilia sudah berada di stasiun kereta dengan karcis di tangannya. Ia duduk sendiri di kursi sambil menunggu keretanya datang. Hatinya sedang berkecamuk saat ini. Tega-teganya Adam melupakan janjinya dan pergi makan siang dengan wanita itu.


Emilia melihat karcis yang ada di tangannya, lalu ia tersenyum sinis. Beberapa bulan lalu saat ia pergi meninggalkan kotanya untuk mencari kerja di tempat lain, dia juga hanya bepergian sendiri. Ia teringat lagi saat pertama kali bertemu Adam. Waktu itu dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis yang mencari pekerjaan di kota besar. Sekarang pun masih sama, dia bukan siapa-siapa.


Terbersit sebuah pertanyaan dalam benaknya. Apakah dia pantas untuk pria kaya dan tampan seperti Adam Smith? Kenapa tiba-tiba muncul keraguan di hatinya?


Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah rel kereta. Kereta yang akan dia naiki sudah  sudah sampai. Emilia menggendong ranselnya lalu berdiri dari duduknya. Ia melihat ke sekeliling, tapi sosok yang ia tunggu tetap tidak ada.


“Huuuuffffff, sudahlah Emilia. Kau tidak perlu berharap akan kedatangannya. Kalau memang dia serius padamu, dia akan menyusulmu.”


Emilia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kereta. Lalu ia duduk di kursi dekat jendela. Tak lama kereta pun mulai berjalan meninggalkan stasiun.