My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
63. Iri pada Emilia



Besoknya Emilia benar-benar menjemput Emelda untuk tinggal bersama di apartemen Adam. Kali ini Adam tidak mengantarnya karena masih malas bertemu dengan Emelda. Adam beralasan dia sedang ada rapat penting sehingga Emilia diantar oleh supir Adam.


Emelda tidak menyangka bahwa Emilia sangat peduli padanya. Ia bahkan rela mengajak tinggal bersama di apartemen Adam. Kalau dia di posisi Emilia, belum tentu dia mau mengajak tinggal bersama. Awalnya Emelda menolak ajakan Emilia karena masih merasa bersalah padanya, tapi setelah Emilia memberi penjelasan akhirnya dia mau juga.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Adam jadi malas pulang ke apartemen karena sudah ada Emelda disana. Kalau bukan karena Emilia, dia tidak akan mau berurusan dengan Emelda lagi.


Tok tok tok.


Pintu diketuk. Lalu masuklah Ian ke dalam ruangan Adam. Ian merasa aneh bosnya itu belum mematikan laptopnya, padahal tadi dia meminta Ian untuk mengantarnya pulang.


“Tuan, jadi pulang sekarang?” tanya Ian.


“Entahlah. Aku jadi malas pulang ke apartemen sejak ada Emelda disana,” jawab Adam.


“Kalau begitu, kenapa Tuan tidak pulang ke rumah saja?” Ian mencoba memberi saran.


“Tapi aku ingin bertemu Emilia. Aku tidak mau jauh-jauh darinya lagi. Padahal sudah bagus-bagus bisa tinggal dengannya di apartemen. Sekarang malah ada si pengacau yang ikut tinggal disana,” jawab Adam yang mengeluh seperti anak kecil.


Ian terkekeh mendengar jawaban bos nya itu. Sekarang dia berkata seperti itu, padahal dulu orang yang dia bilang pengacau itu pernah bertunangan dengannya.


“Jadi, apa Tuan mau menginap di kantor saja?” tanya Ian lagi.


“Tidak. Yang benar saja. Aku pulang ke apartemen saja,” jawab Adam sembari mematikan laptop dengan cepat lalu berdiri.


“Baiklah. Tuan, nanti hati-hati, ya,” kata Ian.


“Hati-hati kenapa?” tanya Adam sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti maksud Ian.


“Hati-hati jangan sampai tertukar, kan wajah mereka mirip,” jawab Ian sambil terkekeh.


“Kau sudah bosan kerja denganku, ya? Hanya orang bodoh yang tidak bisa membedakan mereka. Jelas-jelas Emelda lagi hamil, tentu saja perutnya besar, sedangkan Emilia tidak. Rambut mereka juga berbeda,” kata Adam dengan ketus.


Bukan itu maksud saya, Tuan. Ini bukan hanya soal fisik, tapi soal perasaan. Saya harap Tuan bisa membedakan mana yang benar-benar tulus mencintai, Tuan. Dan itu adalah Nona Emilia. Batin Ian.


“Sudahlah, ayo antar aku pulang!” kata Adam yang sudah berjalan melewati Ian.


Ian pun mengikuti Adam dari belakang. Sebelum pulang, Adam meminta Ian untuk singgah dulu ke toko bunga karena ia mau memberikan sebuket bunga lily putih untuk Emilia. Selanjutnya Ian mengantar Adam pulang ke apartemen sesuai permintaan Adam.


Sesampainya di apartemen, Adam langsung disambut oleh Emilia. Emilia sengaja menyambut Adam pulang kerja sebagai tanda terimakasih karena Adam mau mengijinkan Emelda tinggal disana.


“Kau sudah pulang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini, semuanya lancar?” tanya Emilia dengan senyum manis di bibirnya.


“Semua lancar. Tidak ada masalah. Ini bunga untukmu,” jawab Adam lalu memberi sebuket bunga lily kepada Emilia.


Emilia menerima bunga itu dengan sangat bahagia lalu ia memejamkan mata sejenak mencium bunga yang harum itu.


“Terimakasih saja, nih?” tanya Adam lalu menunjuk pipinya dengan jarinya.


Sebenarnya Adam hanya bergurau saja saat mengatakan itu. Tapi ia tidak menyangka Emilia dengan cepat maju ke depan dan mengecup pipinya sekilas. Adam sampai mematung sambil memegang pipinya yang dicium Emilia.


“Begitu kan?” tanya Emilia sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kenapa kau menggemaskan sekali? Bisa copot jantungku kalau kau bersikap manis seperti ini, Emilia. Batin Adam.


“Oh, kau sekarang sudah berani, ya. Apa kau sedang berusaha menggodaku? Hmmm?” tanya Adam dengan senyum jahilnya.


“Tidak. Aku hanya berterimakasih karena kau sudah membawakanku bunga ini dan mengijinkan Emelda tinggal disini,” jawab Emilia jujur.


Raut wajah Adam berubah seketika saat mendengar nama Emelda.


“Aku melakukan semua ini demi kau. Hanya demi kau. Karena aku benar-benar mencintaimu dan akan melakukan apapun asal kau bahagia, Emilia,” kata Adam dengan sungguh-sungguh membuat wajah Emilia merona merah.


“Aku juga mencintaimu, Adam. Sekali lagi terimakasih untuk semuanya,” balas Emilia.


Adam sangat senang mendengar perkataan Emilia. Lalu Adam mendekat dan memeluk Emilia dengan erat. Emilia pun membalas pelukan itu. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam.


Mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang mengintai dengan penuh iri. Emelda bersembunyi di balik dinding dan melihat kemesraan yang Adam berikan kepada Emilia sejak ia sampai di apartemen.


Raut wajahnya menunjukkan ekspresi tidak senang. Hatinya terasa panas melihat Adam sangat peduli pada Emilia. Apalagi ia tau kalau keberadaannya disana hanya karena permintaan Emilia pada Adam. Dan Adam menyetujui itu bukan karena peduli padanya melainkan karena rasa cintanya pada Emilia.


Adam, apakah sudah hilang rasa cintamu padaku? Apa kau sama sekali tidak mencintaiku lagi, Adam? Bisa-bisanya kau bermesraan dengan Emilia. Seharusnya aku yang ada di posisi itu, bukan Emilia. Kalian menyakiti hatiku.


Emilia, kau memang saudara kandungku, dan kau sudah sangat baik padaku, tapi aku tidak bisa pungkiri kalau aku iri padamu. Kau mengambil Adam dariku dan sekarang Adam sangat mencintaimu melebihi saat Adam bersamaku dulu.


 Aku ingin tau, apakah benar Adam sudah tidak lagi mencintaiku? Karena aku adalah cinta pertamanya. Aku yakin masih ada ruang di hatinya yang ia sisakan untukku.


Emelda hanya mampu berdialog dalam hati. Ia kesal melihat pemandangan di depan matanya. Bahkan saking kesalnya matanya sudah berkaca-kaca.  Ia tak mau lebih lama lagi disana. Ia pun meninggalkan tempat itu lalu masuk ke kamarnya.


***


Hai semua 🤗


Selamat menyambut bulan ramadhan bagi yang merayakan, ya 💙


Selama bulan ramadhan mungkin akan slow update, ya 🙏


Happy reading 🤗