My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
75. Jangan Buat Aku Ragu



Adam bangun lebih cepat pagi ini. Setelah semalam dia tak berhasil mendengar suara Emilia, dia berencana untuk bertemu langsung dengan Emilia di apartemennya. Sehari tidak bertemu saja rasanya ia tidak kuat menahan rindu. Apalagi terakhir bertemu mereka malah bertengkar.


Adam bahkan tidak menunggu Ian datang menjemputnya. Ia memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri menuju ke apartemen.


“Sayang, aku datang,” ucap Adam di dalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet pagi itu, sampailah Adam di apartemennya. Ia sudah memasang wajah yang penuh senyum untuk bertemu dengan Emilia.


Saat menginjak masuk ke apartemen, Adam mendengar suara dari arah dapur. Ia pikir ada Emilia disana. Ia pun segera melihat ke dapur.


“Ada apa ini?” tanya Adam melihat Emelda dan Bi Ratna disana. Bi Ratna terlihat sedang berusaha memapah Emelda.


“Ini Tuan, Nona Emelda perutnya sakit lagi katanya. Bibi mau coba bantu bawa ke kamar tapi Bibi tidak kuat,” jawab Bi Ratna apa adanya. Kali ini memang perut Emelda benar-benar sakit, dia tidak sedang bersandiwara.


“Perutmu kenapa lagi? Kau seharusnya banyak istirahat sesuai kata dokter,” omel Adam.


“Tadi aku cuma mau buat sarapan saja. Mungkin terlalu lama berdiri, jadi perutku sakit lagi. Terasa keram,” kata Emelda sambil meringis kesakitan.


Adam yang tidak tega melihat Emelda seperti itu, segera menghampiri Emelda dan berusaha memapahnya.


“Biar aku bantu ke kamar. Kau bisa jalan?” tanya Adam.


Emelda hanya menggeleng. Mau tidak mau Adam pun menggendongnya dan Emelda dengan senang hati melingkarkan tangannya di leher Adam. Bahkan Emelda juga bersandar di dada bidang Adam.


Kalau sempat Emilia melihatku menggendongnya dengan posisi sedekat ini, bisa-bisa perang dunia lagi. Ah, aku harus cepat-cepat ke kamarnya mumpung Emilia belum bangun. Gumam Adam dalam hati.


Adam pun dengan cepat melangkahkan kakinya membawa Emelda masuk ke kamar. Begitu sampai di kamar, Adam membaringkannya di tempat tidur.


Emelda sudah berbaring tapi dia belum melepaskan tangannya yang masih merangkul leher Adam.


“Ada apa?” tanya Adam yang tau Emelda tidak mau melepaskan tangannya.


“Aku ingin berterimakasih padamu, Adam. Terimakasih karena kau masih mau perhatian padaku,” ucap Emelda dengan tulus.


Emelda merasa bahagia Adam mulai perhatian lagi kepadanya. Ia menatap mata Adam dalam-dalam, ia sangat merindukan perhatian dari Adam. Jarak mereka sekarang sangat dekat, jarak seperti ini yang juga ia rindukan. Ia makin berambisi untuk kembali merebut Adam ke pelukannya.


Emilia yang baru selesai mandi berniat ingin pergi ke dapur. Tapi saat melewati kamar Emelda yang tidak tertutup pintunya, ia disuguhkan dengan pemandangan yang mengiris hatinya.


Tes. Airmatanya dengan serta merta jatuh begitu saja. Ia melihat posisi Adam yang sangat dekat dengan Emelda. Emelda sedang berbaring di tempat tidur dengan tangan yang melingkar di leher Adam, sementara Adam berada tepat di atasnya dengan bertopang pada kedua tangannya yang berada di sisi kiri dan kanan Emelda.


Ternyata kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Kau masih menyimpan perasaan pada Emelda. Batin Emilia.


Hatinya terasa sangat perih, seperti ada ribuan jarum yang menghujamnya saat itu. Dengan berlinang airmata Emilia kembali masuk kamarnya. Ia menyandarkan dirinya di pintu kamar sambil menangis mengingat apa yang baru saja ia lihat.


Setelah semalam ia menunggu Adam pulang, ia bahkan berencana minta maaf pada Adam karena kemarin sudah menuduhnya yang bukan-bukan. Tapi apa yang dia lihat barusan, rasanya cukup membuktikan bahwa tuduhannya kemarin benar adanya.


Sementara itu di kamar Emelda, Adam dengan sedikit kasar melepaskan tangan Emelda dari lehernya. Ia khawatir kalau Emilia melihatnya lagi berduaan seperti itu dengan Emelda.


“Emelda, aku harap kau jangan salah paham. Aku perhatian padamu hanya demi Emilia. Ku ulangi sekali lagi, demi Emilia. Sekarang aku sangat mencintainya, aku akan melakukan apapun yang bisa membuatnya bahagia termasuk mengijinkanmu tinggal disini. Aku harap kau paham itu dan tidak melewati batasanmu,” ucap Adam dengan tegas.


“Apa aku tidak ada artinya lagi di matamu, Adam? Aku yakin kau masih menyimpan namaku di hatimu,” ucap Emelda.


“Ku rasa kau salah paham. Sejak aku tau kau mengkhianatiku, sejak itu pula aku sudah menghapus semua jejakmu dalam hatiku. Dan sekarang, yang memenuhi hati dan pikiranku hanya satu orang, dia adalah Emilia.”


Setelah mengatakan itu, Adam segera keluar dari kamar Emelda. Ia tak ingin lagi membiarkan Emelda terus mengungkit kisah masa lalu mereka.


Emelda mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak suka mendengar Adam begitu mencintai Emilia. Ia menyeka airmatanya yang menetes dengan kasar. Ia semakin geram dan bertekad akan memisahkan mereka berdua.


***


Tok tok tok.


Pintu kamar Emilia diketuk. Emilia tau itu pasti Adam. Ia segera menghapus airmatanya lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya lalu mengunci pintunya.


Adam kembali mengetuk kamar Emilia. Tidak ada jawaban dari dalam. Adam pun memutuskan untuk masuk ke kamar Emilia. Dilihatnya tempat tidur Emilia sudah rapi, tapi ada bunyi air dari dalam kamar mandi. Itu pasti Emilia, tebaknya.


Adam pun mengetuk pintu kamar mandi. Ia ingin memastikan Emilia memang ada disana.


“Emilia... Sayang... kau ada di dalam?” tanya Adam setengah berteriak karena suara air dari dalam kamar mandi cukup berisik. Ia bahkan menempelkan telinganya di pintu.


“Sayang, kau di dalam kan? Aku hanya ingin memastikan kau di dalam sana,” kata Adam lagi saat panggilannya tadi tidak mendapat jawaban.


Emilia yang tengah terisak di kamar mandi, mulai mematikan keran air. Ia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya.


“Iya, aku di dalam. Aku lagi sakit perut,” teriaknya dari dalam.


“Sakit perut kenapa, Sayang? Mau aku panggilkan dokter?” tanya Adam.


“Tidak usah. Aku baik-baik saja. Cuma kebanyakan makan saja tadi malam,” jawabnya bohong.


“Baiklah. Aku menunggumu di dapur. Kita sarapan sama-sama, ya,” kata Adam lagi.


“Jangan menungguku! Kau duluan saja. Nanti kau terlambat ke kantor. Sepertinya aku akan lama ini.”


Emilia tidak mau bertemu dengan Adam. Dia tak mau membiarkan Adam melihat wajahnya yang sembab karena menangis.


“Kau yakin? Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu, Emilia. Aku...aku sangat merindukanmu,” ucap Adam dari luar sambil menyentuh pintu kamar mandi, seolah Emilia akan membukanya segera.


Deg. Hati Emilia berdesir mendengar ungkapan rindu dari Adam. Tapi saat ini ia kembali menangis saat mengingat lagi kejadian di kamar Emelda tadi.


Emilia tak menjawab lagi. Ia kembali menghidupkan keran shower dan membiarkan tubuhnya terguyur basah oleh air yang berjatuhan.


Adam yang mendengar suara air dari dalam, hanya bisa menghela nafas dengan berat. Ia menarik tangannya dari pintu lalu keluar dari kamar Emilia. Sepertinya kali ini dia gagal bertemu Emilia.


Emilia memejamkan matanya, merasakan air dengan deras jatuh membasahi tubuhnya. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Airmatanya yang mengalir sudah berbaur dengan derasnya air dari shower. Ia kembali terisak merasakan sakit dan cemburu yang menjalar di hatinya.


Aku juga merindukanmu, Adam. Aku sangat mencintaimu. Tapi sikapmu akhir-akhir ini selalu mengecewakanku. Jangan buat hatiku sakit lagi, Adam. Aku mohon, jangan buat aku ragu akan cintamu padaku.