My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
92. Perawatan Bersama Mertua



Sesuai dengan perkataan Anita kemarin, hari ini ia mengajak Emilia untuk melakukan perawatan spa khusus bagi calon pengantin. Anita ingin membuat Emilia terlihat cantik dan bersinar di hari pernikahannya nanti.


Anita tak mau kalah. Ia juga ikut melakukan perawatan di salon itu.


“Emilia, apa Adam ada menghubungimu?” tanya Anita yang berada di sebelah Emilia. Mereka saat ini sedang melakukan perawatan manicure pedicure.


“Ada, tante. Tadi malam dia mau video call,” jawab Emilia.


“Jangan panggil tante! Panggil ibu,” kata Anita membenarkan.


“Oh iya, lupa. Ada, Bu. Tadi malam Adam video call tapi Emilia tidak angkat. Kan kata ibu tidak boleh,” jawab Emilia dengan polos.


Anita terkekeh. “Bagus, biar saja begitu. Ingat ya, kalian jangan bertemu dulu. Tunggu sampai hari H baru boleh bertemu. Jadi pas Adam melihatmu, dia akan makin terpesona.”


Emilia hanya tertawa saja menanggapi calon mertuanya itu. Sepertinya Anita memang senang membuat Adam tersiksa karena merindukan Emilia.


Tiba-tiba muncul ide jahil di kepala Anita. Ia mengambil handphone-nya dan memfoto kaki Emilia. Yang terlihat di foto itu hanya hanya punggung kaki dan kuku kaki Emilia yang sudah cantik dan bersih setelah mendapat perawatan. Setelah itu ia mengirimkan foto itu kepada Adam.


Saat menerima foto dari ibunya, Adam tengah berdiskusi bersama Ian di ruang kerjanya. Adam tampak mengerutkan darinya saat melihat foto yang baru saja ibunya kirimkan. Dia belum mengerti kenapa tiba-tiba ibunya mengirimkan foto kaki.


“Apa maksud ibu?” ucap Adam dengan pelan tapi masih dapat didengar Ian yang duduk berhadapan dengannya.


“Kenapa Tuan?” tanya Ian.


“Ibu mengirimkanku foto kaki. Tidak jelas sekali,” gerutu Adam lalu meletakkan handphone-nya di atas meja.


Tak lama handphone-nya bergetar lagi. Ada pesan masuk dari ibunya.


✉Kau tidak penasaran dengan foto yang ibu kirim?


✉Tidak.


Cih, sok-sok cuek. Lihat saja apa dia masih bisa cuek saat tau itu foto kekasih pujaan hatinya yang dia rindukan. Gumam Anita dalam hati.


✉Ya sudah, padahal ibu rencananya mau mengirimkan foto bagian lain dari calon istrimu.


Adam membelalakkan matanya saat membaca pesan itu. Dia tidak menyangka kalau itu adalah foto kaki Emilia. Adam kembali membuka foto kaki yang ibunya kirimkan. Kaki putih yang mulus dengan kuku kaki yang bersih dan mengkilap. Adam pun menelan salivanya dengan susah payah.


Kakinya saja sebagus ini. Apalagi bagian yang lain. Batin Adam.


✉Tidak.


✉Please, foto juga wajahnya, bu. Aku sangat rindu padanya.


✉Tidak bisa. Kami sedang perawatan. Sudah ya, jangan mengganggu dulu.


“Huft, apa-apaan ini ibu. Masa aku cuma dikirimi foto kaki,” keluh Adam.


“Ada apa, Tuan?” tanya Ian yang bingung melihat tingkah bosnya.


“Ibu sepertinya mengerjaiku. Bisa-bisanya ibu cuma mengirim foto kaki Emilia saja,” jawab Adam.


Kemudian ia melihat lagi foto itu. Entah kenapa hanya foto kaki saja sudah membuatnya tertarik hingga ia tidak sadar senyum-senyum sendiri. Ian hanya terkekeh melihat tingkah bosnya.


“Kau menertawaiku?” tanya Adam.


“Tidak, Tuan. Saya hanya aneh saja melihat Tuan senyum-senyum sendiri. Seperti bukan Tuan saja,” jawab Ian.


“Ya begitulah namanya orang sedang jatuh cinta. Kau mana tau, kau kan jomblo tidak punya kekasih. Makanya carilah wanita untuk dijadikan kekasih. Nanti baru kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta. Saat kau melihatnya, mengingatnya, bahkan menyebut namanya saja bisa membuat jantungmu berdebar-debar,” jelas Adam seperti orang yang sudah sangat pengalaman soal percintaan.


Berdebar? Alyssa?


Entah kenapa Ian tiba-tiba mengingat nama itu. Ian teringat saat pertama kali ia bertemu di depan minimarket, lalu saat bertemu di depan lift rumah sakit. Tanpa sadar Ian menarik ujung bibirnya.


“Kenapa sekarang kau yang senyum-senyum sendiri?” tanya Adam.


“Ah, tidak, Tuan. Bukan apa-apa,” jawab Ian berkilah.


“Sore nanti apa ada jadwal meeting?”


“Tidak ada, Tuan. Sore ini tidak ada jadwal meeting.”


“Kalau begitu, nanti sore aku ingin mengunjungi makam ayahku. Tolong antar aku kesana nanti.”


“Baik, Tuan.”