
Semenjak kejadian di apartemen Darius waktu itu, Emilia tak lagi menjalani hari-harinya dengan ceria. Ia lebih banyak berdiam diri dan sering melamun. Tak dapat dipungkiri kalau ia masih sering memikirkan Adam. Ia belum bisa menerima begitu saja keputusan Adam yang memintanya menjauh dengan tiba-tiba.
Sebagai sahabat, Serra tak bisa membantu banyak permasalahan Emilia kali ini. Karena ini urusan hati, jadi ia tak bisa memaksakan Emilia untuk segera melupakan Adam. Serra sudah tau semuanya dari Emilia saat ia curhat padanya. Serra pun ikut prihatin terhadap Emilia.
Saat mereka mendapat libur sehari, Serra mengajak Emilia jalan-jalan keluar rumah. Setidaknya itu dapat mengurangi beban pikirannya menurut Serra. Awalnya Emilia menolak karena Serra juga mengajak kekasihnya. Emilia tidak mau jadi obat nyamuk nantinya. Tapi Serra tetap bersikeras mengajaknya pergi. Akhirnya Emilia luluh juga. Mereka bertiga pun pergi ke sebuah mall terbesar disana.
Sesampainya disana Emilia memilih untuk belanja di supermarketnya. Kebetulan peralatan mandinya sudah habis. Jadi sekalian saja dia belanja disana mumpung sedang keluar rumah. Sementara Serra menemani kekasihnya membeli kemeja untuk kerja. Setelah itu baru ia akan menyusul Emilia.
Emilia sedang mendorong keranjang belanjanya sambil melihat ke samping dimana berjejer berbagai jenis shampoo di etalase itu. Emilia berhenti dan meraih salah satu shampoo disana. Ia membuka sedikit botol shampoo dan menghirup wanginya. Emilia sangat suka dengan wanginya. Kemudian ia membaca tulisan yang ada di botol shampoo itu untuk melihat kegunaannya.
Tengah asyik membaca tulisan di botol itu, tiba-tiba ada yang tak sengaja menyenggol keranjangnya dari arah berlawanan.
“Maaf, maaf Nona. Saya tidak sengaja,” ucap seseorang yang tadi menyenggol keranjangnya.
“Tuan Ian?” kata Emilia memastikan. Ia tak menyangka orang yang menyenggol keranjangnya adalah Ian.
“Nona Emilia? Wah, saya tidak menyangka akan bertemu anda disini, Nona. Anda sendiri?”
“Iya, aku juga tidak menyangka kita bertemu disini. Aku tadi sama temanku, tapi dia sedang mencari kemeja. Hmmm...apa Tuan Ian sendiri juga?”
“Iya, saya sendiri. Saya sedang membeli beberapa kebutuhan saya. Ngomong-ngomong jangan panggil saya Tuan. Panggil Ian saja. Tidak usah terlalu formal.”
“Baiklah. Tapi jangan panggil aku Nona juga. Panggil Emilia saja.”
“Baiklah. Kalau sedang tidak di depan Tuan Adam, aku akan memanggilmu Emilia saja,” ucap Ian yang membuat raut wajah Emilia berubah.
“Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu,” tambah Ian dengan cepat saat melihat Emilia sudah mulai bersedih.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok,” jawab Emilia dengan senyum yang dipaksakan.
Lalu ia mengembalikan shampoo yang ia pegang tadi ke etalase. Ia tidak jadi membelinya karena harganya lumayan mahal baginya.
“Kenapa diletakkan disana lagi?” tanya Ian.
“Terlalu mahal. Harganya 3 kali lipat dari yang biasa aku pakai. Aku beli yang biasa aku pakai saja.”
“Loh, kenapa taruh di keranjangku? Aku tidak jadi beli yang itu,” tanya Emilia dengan heran.
“Biar aku yang bayar belanjaanmu nanti. Ambillah apa yang kau butuhkan. Jangan khawatir soal harganya,” jawab Ian.
“Tidak. Mana bisa begitu. Aku punya uang sendiri. Aku tidak mau dibayarin,” tolak Emilia.
“Sudah, tidak apa-apa. Ini juga sekali-sekali, bukan tiap hari.”
“Tidak, aku tetap tidak mau.”
Mereka pun berdebat soal shampoo hingga membuat kegaduhan. Emilia berusaha meletakkan kembali shampoo itu ke etalase tapi ditahan oleh Ian. Terjadilah tarik menarik saat itu.
Mendengar ada kegaduhan seorang pria yang tengah menemani ibunya belanja mencoba untuk melihat ke sumber suara. Dan begitu melihatnya, ia terkejut dengan apa yang ada di depan matanya. Ia melihat Ian dan Emilia sedang memperebutkan sebuah shampoo. Mereka terlihat bahagia. Saling tarik menarik shampoo dalam jarak yang dekat.
Pria yang melihat Ian dan Emilia adalah Adam. Adam mengepalkan tangannya. Dadanya membusung menahan amarah.
Cih, bukannya dulu mereka bilang tidak ada hubungan apa-apa? Lalu kenapa sekarang mereka berbelanja bersama?Dan itu, apa yang sedang mereka lakukan? Tarik menarik shampoo begitu, seperti tidak ada shampoo lain saja. Cih, norak!
Eh, kenapa aku jadi kesal melihat mereka? Apa aku sedang...cemburu? Tidak Adam, tidak! Kau yang meminta Emilia menjauh darimu. Dia bukan urusanmu lagi. Wajahnya bisa mengingatkanmu tentang pengkhianatan Emelda.
Adam masih melihat ke arah mereka. Matanya fokus menelisik ke wajah Emilia. Dia pikir dia akan mengingat semua pengkhianatan yang dilakukan Emelda padanya. Tapi ternyata tidak. Ia justru mengingat kenangan indahnya bersama Emilia. Adam kini bingung dengan perasaannya.
“Adam, ibu sudah selesai. Ada yang mau kau beli?” tanya sang ibu membuyarkan pikirannya.
“Ah, tidak Bu. Aku tidak mau belanja apa-apa. Ayo kita bayar sekarang lalu pulang,” jawab Adam dengan cepat.
“Kita makan dulu ya. Ibu sudah lapar. Kita cari restoran disini saja.”
“Oke, Bu. Aku tau restoran yang enak disini. Ayo!”
Adam pun cepat-cepat membawa ibunya pergi dari tempat itu setelah membayar belanjaan mereka. Adam tidak mau ibunya juga melihat ada Ian dan Emilia disana.