
Sudah hari kedua Emilia menghilang, belum ada yang tau dimana dirinya sekarang. Ian bahkan memerintahkan anak buahnya mendatangi kota tempat Emilia berasal, tapi menurut tetangga, Emilia belum terlihat menjejakkan kaki disana setelah pergi beberapa bulan lalu. Serra juga tak kalah bingung dengan hilangnya Emilia. Bagaimanapun, dia sudah sangat dekat dengan Emilia. Emilia sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Adam? Adam tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa pikirannya juga selalu dipenuhi pertanyaan “dimana Emilia”, tapi lagi-lagi pengkhianatan Emelda terhadap dirinya muncul sehingga ia bingung harus bersikap bagaimana.
Drrrt drrttt drrttt drrttt.
Handphone dalam saku jas Ian bergetar. Dilihatnya Serra yang meneleponnya. Pasti mau menanyakan tentang perkembangan pencarian Emilia.
“Hallo, Tuan Ian. Ini saya Serra. Bagaimana Tuan? Apa ada perkembangan tentang keberadaan Emilia?” Serra langsung mencecar Ian dengan pertanyaan saat Ian menerima teleponnya.
“Anak buahku sudah mencari ke tempat asal Emilia, tapi mereka tidak menemukan apa-apa disana. Aku yakin Emilia masih ada di kota ini. Aku akan menyuruh mereka mencari lagi,” jawab Ian.
“Baiklah, Tuan. Maaf saya mengganggu waktu anda, Tuan. Perasaan saya belum tenang kalau belum mendapat kabar dari Emilia. Saya menyesal meninggalkannya begitu saja malam itu setelah pulang kerja,” kata Serra dengan nada menyesal.
“Kapan terakhir kau bertemu dengannya dan dimana tempatnya? Apa kau mencurigai sesuatu? Apa Emilia ada bilang sesuatu padamu sebelum dia menghilang?” tanya Ian penasaran. Mungkin saja dia bisa mendapat suatu petunjuk, pikirnya.
“Sebelum menghilang dia terlihat baik-baik saja, Tuan. Memang dia lebih pendiam setelah ada masalah dengan Tuan Adam. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Terakhir saya bertemu dengannya di depan restoran malam hari pas jam pulang kerja. Waktu itu saya dijemput Doni karena ada urusan lain dan Emilia tinggal sendiri disana. Dia bilang akan langsung pulang,” jawab Serra panjang lebar sambil mengingat kejadian malam itu.
“Di depan restoran, ya? Disana ada CCTV kan? Apa kau sudah memeriksa CCTV disana?” tanya Ian tiba-tiba.
Serra menepuk jidatnya. Bagaimana bisa dia lupa memeriksa CCTV. Restoran besar seperti mereka pasti memasang CCTV yang merekam kejadian disana termasuk di depan restoran.
“Saya belum memeriksanya, Tuan. Kenapa baru kepikiran sekarang ya? Baiklah Tuan, saya akan meminta manajer disini untuk memeriksa rekaman CCTV nya,” jawab Serra.
“Ya, kau cek dulu. Nanti laporkan informasi yang kau dapat padaku. Kalau manajermu menolak memberikan rekaman CCTV, bilang padanya ini ada kaitannya dengan Tuan Adam,” kata Ian memberikan saran.
“Baik, Tuan.”
Serra segera mencari manajer restoran tempat ia bekerja. Setelah bertemu ia pun menceritakan semua yang terjadi dari awal. Syukurnya sang manajer mudah diajak kerjasama. Mereka pun menuju ke sebuah ruangan tempat rekaman CCTV di simpan.
Manajer tersebut meminta salah satu pekerja untuk memutar ulang rekaman CCTV tepat pada hari dimana Serra terakhir kali melihat Emilia. Rekaman pun diputar. Terlihat rekaman saat Serra berpamitan pada Emilia lalu meninggalkan Emilia sendirian disana. Tak lama datanglah sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depan Emilia. Lalu tampak seorang pria keluar dari dalam mobil dan menghampiri Emilia. Mereka tampak mengobrol sebentar.
“Siapa pria itu?” tanya Serra tiba-tiba.
“Aku seperti pernah melihat pria itu. Sepertinya dia pernah beberapa kali makan di restoran ini,” jawab manajer.
Tak lama Emilia terlihat meninggalkan pria itu sendirian. Setelah itu pria tersebut ternyata mengikuti Emilia dari belakang lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Serra dan manajernya mendadak tercengang melihat kejadian berikutnya dimana pria tersebut membekap Emilia dan menggendongnya masuk ke dalam mobil. Serra sampai terbelalak dan tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata Emilia diculik, begitu yang ada dibenaknya.
Serra segera mengambil gambar beberapa kejadian yang dilihatnya di CCTV. Tak lupa ia meminta rekaman wajah dan mobil pria yang tak lain adalah Darius diperbesar. Selanjutnya ia pun segera mengirim semua foto dan rekaman itu kepada Ian. Serra juga menelepon Ian beberapa kali tapi tidak dijawab. Ia harus menghubungi Ian dulu pikirnya, baru ia akan melapor ke polisi.
Sementara itu Ian sendiri sedang sibuk meeting di kantornya. Tentu saja ada Adam juga ikut meeting disana. Oleh sebab itu ia tidak mengangkat telepon dari Serra. Sebenarnya ia tau Serra sedang meneleponnya. Handphone-nya yang tergeletak di atas meja meeting beberapa kali bergetar, tapi ia tak berani mengangkatnya saat Adam menatapnya dengan tatapan tajam. Ia tau, Adam paling tidak suka urusan pekerjaan terganggu dengan kepentingan pribadi.
Ian mengikuti meeting dengan gelisah. Ia tak sabar ingin mengecek handphone-nya. Setelah sejam lebih berlalu, meeting pun selesai. Semua yang hadir dalam ruang meeting, satu per satu keluar meninggalkan ruang meeting termasuk Adam. Ian sendiri masih berada disana. Ia penasaran sekali ingin melihat pesan dari Serra.
Darius? Orang ini cari mati rupanya. Aku harus memberitahu Tuan Adam sekarang.
Ian langsung menuju ke ruangan Adam dengan tergesa-gesa. Ia bahkan tidak sempat mengetuk pintu. Adam yang baru saja akan duduk di kursinya membatalkan niatnya untuk duduk. Ia berdiri melihat Ian dalam keadaan saat panik.
“Tuan.....”
“Apa kau sudah lupa kalau masuk ke ruanganku harus mengetuk pintu dulu?” potong Adam.
“Maaf, Tuan. Saya terburu-buru. Saya mau memberitahu tentang keberadaan Nona Emilia. Dia.....”
“Sudah kubilang itu bukan urusanku lagi,” potong Adam lagi.
“Tapi dia diculik, Tuan. Dan yang menculiknya adalah Darius. Saya yakin ini ada hubungannya dengan penarikan saham yang kita lakukan. Dia pasti dendam pada anda, Tuan. Dan Nona Emilia diculiknya. Saya punya buktinya. Saya punya rekaman CCTV penculikannya,” kata Ian menjelaskan dengan cepat takut Adam memotong pembicaraannya lagi.
Adam mengerutkan keningnya. Ia berusaha mencerna penjelasan Ian. Apakah benar Emilia diculik karena Darius dendam padanya? Kemudian Ian menunjukkan bukti CCTV di handphone-nya kepada Adam. Sama seperti reaksi Ian tadi, Adam juga sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Darius pada Emilia saat itu.
“Darius?” ucap Adam dengan amarah yang tertahan.
“Benar, Tuan. Itu Darius. Dia menculik Nona Emilia. Kita harus segera menyelamatkannya.”
“Tapi bagaimana jika ini adalah tipuan dari mereka? Walau bagaimanapun Emilia adalah saudara kandung Emelda. Dan Darius tinggal bersama Emelda. Apa menurutmu Emelda akan membiarkan Darius menculik Emilia? Atau mereka sedang bekerjasama mempermainkanku?”
Ian jadi bingung dengan pertanyaan Adam. Bagaimana bisa ia berpikir seburuk itu pada Emilia meskipun kemungkinan itu terjadi memang ada mengingat Emilia dan Emelda adalah saudara kandung.
“Tuan, saya rasa Tuan lebih mengenal Nona Emilia. Apa Nona Emilia seburuk itu di mata anda, Tuan?” tanya Ian dengan serius.
“Wah, kelihatannya kau sangat membelanya.” Lain yang ditanya lain pula yang dijawab Adam sehingga membuat Ian gerah.
“Baiklah kalau Tuan merasa begitu. Yang pasti saya akan segera menolong Nona Emilia. Saya tidak mau terlambat menolongnya lagi seperti kejadian dulu saat Nona Emilia masuk ke rumah sakit. Tuan sadarkan itu karena kita terlambat menolongnya?”
Adam tidak menjawab. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Karena tidak mendapat jawaban apapun dari Adam, Ian langsung berpamitan pada Adam dan hendak pergi meninggalkan ruangan Adam. Tapi suara Adam membuat langkahnya tertahan.
“Tunggu! Aku ikut denganmu. Aku harap kali ini aku tidak mendapat kekecewaan lagi,” kata Adam.
Ian pun berbalik melihat ke arah Adam.
Aku tau Tuan belum bisa melupakan pengkhianatan Emelda. Tapi aku juga yakin Emilia tidak sejahat itu padamu, Tuan. Batin Ian.
Ian mengangguk pada Adam. Lalu Adam pun mengikuti Ian untuk segera menolong Emilia. Dan lagi-lagi tempat pertama yang mereka tuju adalah apartemen Darius.