
“Sayang, kenapa badanmu bau sekali? Padahal aku kan mau tidur sambil dipeluk,” tanya Emilia tanpa merasa berdosa.
Adam tampak menghela nafas dengan berat. Sejak hamil Emilia sering kali memintanya mandi berkali-kali dengan beralasan kalau suaminya itu bau. Padahal Adam selalu menjaga kebersihan tubuhnya dan rajin mandi, bahkan selalu menggunakan parfum.
Adam mengendus tubuhnya sendiri. Memang tidak bau sama sekali.
“Sayang, ini tidak bau kok. Cuma perasaanmu saja. Sini aku peluk, kita tidur sekarang, ya. Sudah malam,” bujuk Adam dengan lembut.
Adam hendak menarik Emilia ke pelukannya, tapi dengan cepat Emilia menepisnya.
“Ih, tidak mau. Aku tidak bisa tidur sebelahmu kalau kau masih bau,” tolak Emilia.
Adam memejamkan matanya sejenak, mengambil nafas dalam-dalam agar bisa tenang menghadapi istrinya yang sedang hamil itu.
“Baiklah, tunggu sebentar, ya. Aku mandi dulu sebentar.”
Adam pun turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi. Dengan cepat Adam menggugurkan seluruh tubuhnya di bawah shower.
Tiap hari mandi berkali-kali seperti ini, bisa-bisa kulitku jadi terkikis. Huhhh, sabar Adam. Kau harus mengalah demi bayi kembarmu. Gumam Adam dalam hati sambil terus menggosok badannya dan memakai sabun yang banyak biar wangi.
Selesai mandi Adam keluar untuk berpakaian lalu menghampiri istrinya.
“Sayang, aku sudah selesai mandi. Sudah wangi. Sayang....Sayang...”
Emilia tidak menjawab. Hanya terdengar dengkuran halus dari suaranya. Ternyata istrinya sudah tertidur lelap.
Adam lalu mencium perut Emilia yang masih terlihat rata. “Kalian anak-anak ayah, belum lahir saja sudah pintar mengerjai ayah, ya. Kalau sudah besar nanti, ayah akan menjewer kalian kalau tidak patuh sama ayah,” kata Adam sambil terkekeh saat bicara pada perut Emilia, seolah sedang bicara pada anak-anaknya.
Adam pun merebahkan diri di samping Emilia, lalu tangannya mengusap-usap punggung Emilia hingga ia pun ikut terlelap.
***
Bulan berganti bulan terasa berlalu dengan sangat cepat. Emilia yang baru saja kemarin mengetahui bahwa dirinya hamil, sekarang kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan. Perutnya yang dulu selalu langsing, kini tampak lebih buncit. Apalagi dia sedang mengandung dua bayi sekaligus. Tak heran kalau perutnya tampak lebih besar. Selain itu pipinya juga terlihat lebih berisi.
Setiap sebulan sekali Adam tidak pernah absen menemani istrinya ke dokter untuk memeriksakan kehamilan. Itu adalah moment yang paling dinantikan oleh Adam dan juga Emilia. Karena saat itu mereka bisa melihat langsung bayi kembar mereka dari layar monitor saat melakukan USG.
“Lihat Sayang, anak-anak kita lucu sekali. Sepertinya mereka kesempitan di dalam perut ibunya,” ucap Adam saat melihat bayi-bayinya bergerak saling menggeser satu sama lain di perut ibunya.
Emilia tertawa kecil melihat tingkah bayi-bayinya. Memang benar mereka terus bergerak aktif saling menggeser. Pemandangan yang sangat menggemaskan bagi Emilia dan juga Adam.
“Aku jadi tidak sabar melihat mereka segera lahir. Biar tidak kesempitan lagi di dalam,” ucap Emilia sambil mengelus perutnya.
“Aku juga tidak sabar. Sebentar lagi saja. Dua bulan lagi kita akan bertemu mereka. Betul kan, Dokter?” tanya Adam.
“Betul, Tuan. Semoga Nyonya dan bayi kembarnya sehat selalu agar bisa melahirkan tepat pada waktunya,” jawab dokter kandungannya.
“Terimakasih, Dokter,” ucap Emilia yang dibalas senyuman oleh sang dokter.