My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
78. Pilihan Adam



“Kau benar, Emelda. Aku rasa aku memang tidak bisa melupakanmu.”


Emelda langsung meneteskan airmata mendengar jawaban Adam. Secara spontan ia memeluk Adam dengan erat. Ia sangat merindukan pelukan ini.


Tapi hal itu hanya berlangsung sekejap. Adam tiba-tiba melepaskan pelukan Emelda. Ia menarik dirinya mundur ke belakang. Emelda yang tadinya sudah sangat senang, kini raut wajahnya tampak kebingungan menatap Adam.


“Aku memang tidak bisa melupakanmu, karena kau pernah berada di sisiku dulu. Ya, dulu,” kata Adam dengan menekankan kata dulu.


“Tapi itu bukan berarti aku masih mencintaimu, Emelda. Karena saat ini, satu-satunya yang ada di hatiku hanya Emilia. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun,” tambah Adam.


“Tidak! Kau bohong! Kau tidak mencintainya!” sangkal Emelda dengan nada tinggi. Ia tak menyangka Adam ternyata tidak mencintainya.


“Aku sangat mencintai Emilia. Aku bahkan sudah sering kali mengatakannya padamu. Dia wanita yang akan ku pilih untuk menjadi istriku.”


“Kau bohong! Katakan aku masih ada di hatimu, Adam! Katakan!” teriak Emelda yang sudah terisak sambil memukul dada bidang milik Adam.


Adam menahan tangan Emelda lalu melepaskannya.


“Pilihanku adalah Emilia. Dan selamanya akan terus begitu. Hanya dia yang ada dihatiku saat ini dan seterusnya. Jadi mulai sekarang, berhenti mendekatiku dan jangan melewati batasanmu lagi. Apa kau tidak sadar? Emilia begitu baik padamu. Kau sudah meninggalkan dia dan ibumu, kau membiarkan Darius menculiknya hingga membuatnya tertembak saat itu. Tapi apa yang dia lakukan padamu? Dia malah mengajakmu tinggal bersama karena peduli padamu dan bayi dalam kandunganmu. Lalu sekarang kau ingin aku kembali padamu dan menghancurkan hatinya?”


Adam menggeleng. “Tidak, Emelda. Aku tidak akan kembali padamu dan menyakiti Emilia. Aku mencintainya. Sangat-sangat mencintainya.”


Setelah puas mengatakan semua itu, Adam segera angkat kaki dari hadapan Emelda. Ia tak mau lagi mendengar semua rayuan Emelda yang hanya membuatnya kesal.


Emelda tak mampu lagi menahan Adam. Ia hanya bisa terduduk lemah di sofa sambil menangisi keputusan Adam. Ia telah salah sangka, ternyata Adam memang sangat mencintai kembarannya itu.


***


Adam saat ini sudah ada di depan pintu kamar Emilia. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sepertinya Emilia sudah tidur, pikirnya. Lalu dengan perlahan ia membuka pintu kamar itu.


Ceklek.


Pintu itu terbuka. Emilia yang sadar ada seseorang yang datang ke kamarnya, memilih untuk pura-pura tidur. Ia memejamkan matanya sambil memeluk bantal guling dengan erat. Rambutnya bagian depan yang sebagian basah terkena airmata menutupi wajahnya. Ia berharap tidak akan ketahuan ia habis menangis.


Adam berjalan mendekati Emilia. Ia melihat Emilia sedang tidur. Lalu ia duduk di tepi ranjang karena ingin sekali melihat wajah wanitanya itu. Saat tangannya terulur merapikan rambutnya Emilia, ia terkejut melihat wajah Emilia yang sangat sembab seperti baru habis menangis. Bahkan rambutnya sebagian juga basah. Meskipun hanya lampu tidur yang temaram saja menjadi penerang saat itu, tapi Adam bisa melihat dengan jelas wajah Emilia.


“Sayang, kau menangis?” tanya Adam.


Tidak ada jawaban dari Emilia. Dia masih berusaha berpura-pura tidur.


“Sayang, aku tau kau belum tidur. Kau pasti sedang menangis kan tadi sebelum aku masuk kesini?” tanya Adam sambil mengguncang tubuh Emilia dengan pelan.


Emilia tak bisa terlalu lama menahan diri. Ia kembali terisak. Lalu ia bangun dan duduk di ranjangnya.


“Sayang, kau kenapa? Ada apa denganmu sampai kau menangis seperti ini? Siapa yang menyakitimu?” tanya Adam dengan pelan sambil menyelipkan rambut Emilia ke telinganya.


Emilia menepis tangan Adam dengan kasar. Ia menyeka airmatanya lalu memandang Adam dengan penuh benci.


“Kau masih bertanya siapa yang menyakitiku? Kau yang sudah menyakitiku! Kau menghancurkan harapanku! Kau jahat, Adam! Kau jahat! Ternyata kau masih mencintai Emelda,” teriak Emilia.


“Tidak mengerti katamu? Aku sudah mendengar semuanya tadi. Kau bilang padanya kalau kau tidak bisa melupakannya kan? Kau bahkan memeluknya. Aku sudah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Kau tidak bisa mengelak lagi, Adam. Mulai sekarang berhenti panggil aku sayang. Aku membencimu.”


“Ssstttt....kau salah paham,” potong Adam dengan cepat. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Emilia agar tak bicara lagi. Ia sudah mengerti sekarang duduk permasalahannya. Emilia pasti hanya melihat sepotong saja kejadian saat di depan tadi.


“Kau pasti tidak melihat semua kan? Kau langsung berlari masuk ke kamar saat Emelda memelukku kan?” tanya Adam 


“Kau mau aku melihat kemesraanmu dengan Emelda?” tanya Emilia sinis.


Adam menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya memang Emilia telah salah paham.


“Emilia, memang benar aku tadi bilang kalau aku tidak bisa melupakan Emelda. Dia bagian dari masa laluku. Tapi itu hanya masa lalu. Dan kau masa depanku. Aku hanya memberinya penjelasan bahwa aku tidak lagi mencintainya. Aku hanya mencintaimu, Emilia. Tolong percaya padaku. Apa kau mau melihat rekaman CCTV nya? Disana ada kamera CCTV. Kau bisa memeriksanya kalau masih tidak percaya padaku.”


“Aku sudah melamarmu, Emilia. Aku bahkan ingin menikahimu sesegera mungkin. Itu artinya aku sangat mencintaimu dan aku hanya menginginkanmu, bukan wanita lain.”


“Aku mohon, jangan ragukan lagi cintaku padamu, Emilia. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.”


Emilia masih diam. Ia malah mengalihkan pandangannya.


"Kau mau aku bagaimana lagi agar aku bisa membuktikan kalau aku sangat mencintaimu, Emilia? Aku sangat mencintaimu."


Adam mengatakan semua isi hatinya dengan penuh kesungguhan. Emilia terdiam dengan kata-kata Adam. Benarkah ia sudah salah paham dengan Adam?


Adam melihat tidak ada reaksi apapun dari Emilia. Entah itu membantah atau menyetujui perkataan Adam. Suasana jadi hening sejenak. Mereka berdua larut dalam pemikiran masing-masing.


Adam tampak pasrah. Sepertinya Emilia belum percaya kesungguhan cintanya.


“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Mau percaya atau tidak, aku tidak akan memaksa. Semua kembali kepadamu.”


Adam ingin bangun dari duduknya, tapi tiba-tiba Emilia menahannya. Ia menarik tangan Adam hingga membuat Adam kembali duduk.


“Aku...aku percaya padamu,” ucap Emilia pelan.


“Tidak usah merasa terpaksa kalau memang belum percaya padaku seutuhnya,” ucap Adam yang mengandung aroma kekecewaan.


“Aku percaya padamu, Adam. Aku percaya kau tidak akan mengecewakanku lagi,” ucap Emilia lagi.


“Aku mau itu bukan sekedar ucapan di mulut saja, Emilia. Buktikan kalau kau memang percaya padaku dengan.......”


Adam terhenti saat merasakan sesuatu yang lembut membungkam bibirnya. Ya, Emilia menciumnya secara mendadak.


Dia menciumku? tanya Adam dalam hati.


Satu detik, dua detik, tiga detik, Adam masih terhipnotis dengan serangan mendadak itu. Jangan ditanya seberapa cepat jantungnya berdetak saat itu. Rasanya sebentar lagi jantungnya akan melompat keluar saking senangnya. Ia sudah lupa tadi baru saja ia kecewa dengan Emilia yang meragukan kesetiannya.


Adam yang merasa Emilia masih mempertahankan bibirnya disana, kini malah membalas ciuman itu. Ia meraih tengkuk Emilia agar lebih leluasa melakukannya. Emilia pun tak menolak. Tangannya sudah bertengger di dada Adam. Entahlah, yang jelas saat ini mereka berdua saling melepas rasa rindunya saja.