My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
66. Tidak Sesuai Rencana



Adam pulang ke apartemennya dengan rasa bahagia karena malam ini ia berencana akan melamar wanita yang dicintainya. Sebelum pulang, dia bahkan sudah menelepon Emilia terlebih dahulu agar bersiap-siap untuk makan malam dengannya.


Adam pulang ke apartemen dengan membawa mobilnya sendiri, tidak diantar Ian seperti biasa. Ian dimintanya mengurus restoran tempatnya melamar Emilia. Ia bahkan menyuruh Ian menyiapkan dekorasi yang indah disana. Ia mau membuat lamaran ini menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi Emilia.


Adam sudah berada di depan pintu apartemen. Ia memegang gagang pintu dengan jantung yang berdegup kencang.


Pasti Emilia terlihat sangat cantik malam ini. Batin Adam.


Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Malam ini akan menjadi malam indah untuk kita, Emilia. Kau pasti tidak menyangka aku menyiapkan lamaran yang istimewa untukmu.


Adam pun tersenyum membayangkan bagaimana wajah Emilia nanti. Ah, rasanya dia sangat tidak sabar melewati hal itu.


Ceklek.


Pintu apartemen dibukanya. Adam lalu masuk dan menutup kembali pintu itu. Tiba-tiba terdengar suara Emilia berteriak memanggil namanya. Adam terkejut lalu berniat ingin menemui Emilia, tapi Emilia sudah lebih dulu berlarian ke tempatnya dengan panik.


“Adam......Adam........gawat Adam....” Emilia berteriak sambil berlari lalu berhenti tepat di depan Adam.


Emilia terlihat ngos-ngosan karena lelah berlari. Kemudian Adam memperhatikan Emilia sudah memakai gaun berwarna putih yang panjang selutut dan wajahnya juga sudah ada riasan natural. Hanya saja rambutnya seperti belum disisir, tergerai begitu saja dan dia tidak memakai alas kaki sama sekali.


“Ada apa, Emilia? Kenapa berlari? Kau bisa terjatuh. Tenangkan dirimu dulu!” tanya Adam sambil memegang kedua lengan Emilia.


“Itu....Emelda...Dia terpeleset dan berdarah. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang,” jawab Emilia dengan panik.


“Apa? Kenapa bisa begitu?” tanya Adam lagi.


“Aku tidak tau. Sudah jangan banyak tanya, ayo bantu dia!”


Emilia segera menarik tangan Adam dengan cepat. Mereka masuk ke kamar Emelda dan melihat Emelda terduduk di lantai kamar mandi sambil meringis kesakitan.


“Adam, ayo cepat kita bawa Emelda ke rumah sakit!” pinta Emilia yang masih panik.


Adam tak langsung bertindak. Ia berpikir sejenak bagaimana cara membawa Emelda. Apa dia harus menggendong wanita itu? Tidak. Dia tidak mau menyentuh Emelda.


“Apa kau bisa berdiri?” tanya Adam.


Emilia menepuk lengan Adam.


“Kau ini bagaimana, sih? Kalau dia bisa berdiri sendiri sudah dari tadi aku membawanya ke dokter. Aku tidak kuat menggendongnya. Jadi kau harus gendong dia, Adam,” kata Emilia.


“Aku juga tidak kuat,” kata Adam berkilah.


“Hei, kau ini kan laki-laki. Badanmu sebesar ini masa tidak kuat, sih?” geram Emilia.


“Sakiitttt......tolong aku.....ini sakit sekali....” rintih Emelda.


Akhirnya mau tidak mau Adam pun menggendong Emelda. Emelda pun langsung melingkarkan tangannya ke leher Adam. Emilia sempat tertegun sejenak melihat Adam dan Emelda, tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya menepis semua pikiran buruk yang muncul di kepalanya.


Adam dan Emilia membawa Emelda ke rumah sakit terdekat. Mereka menunggu di luar ruangan sedangkan Emelda diperiksa oleh dokter kandungan di dalam. Sekitar 20 menit kemudian seorang perawat keluar memanggil keluarga pasien.


Adam dan Emilia pun masuk bersama menemui dokter untuk mengetahui hasil pengecekan.


“Jadi, anda suami Nyonya Emelda?” tanya dokter wanita itu.


“Bukan. Saya cuma membantu membawanya  kesini,” jawab Adam cepat. Ia malas sekali mendengar dokter ini bertanya dia suami Emelda apa bukan.


“Oh, baiklah. Jadi keluarganya...”


“Saya kembarannya, dokter,” potong Emilia cepat.


“Oh, pantas saja wajah kalian sama. Jadi begini, Nyonya Emelda kondisi kandungannya cukup lemah. Syukurnya kondisi janin dan ibunya baik-baik saja. Nyonya Emelda tidak boleh terlalu lelah, melakukan banyak kegiatan berat dan tidak boleh stress. Itu semua tidak baik bagi kandungannya. Selain itu asupan nutrisinya juga harus dijaga, ya Pak,” kata dokter itu menjelaskan.


“Sudah ku bilang dia bukan istriku, kenapa bicara padaku?” tanya Adam dengan kesal.


Emilia melirik sekilas ke arah Adam lalu menngelengkan kepalanya.


“Oh maaf saya lupa, saya hanya menjelaskan saja.”


“Jadi apa dia harus dirawat disini, dokter?” tanya Emilia.


“Tidak perlu. Sekarang juga sudah bisa pulang,” jawab dokter itu.


Emilia mengangguk lalu menatap Adam. Ia bermaksud meminta Adam membawa Emelda pulang. Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk, masuklah Ian ke dalam.


Saat tadi menunggu Emelda diperiksa, Adam sempat berkirim pesan pada Ian agar datang ke rumah sakit. Ia malas kalau harus menggendong Emelda lagi. Biar Emelda pulang sama Ian saja pikirnya.


Mau tidak mau Emelda terpaksa pulang dengan mobil Ian dan Adam hanya pulang berdua dengan Emilia. Emilia hanya bisa menuruti kemauan Adam karena ia melihat raut wajah Adam sudah terlihat kesal. Adam kesal karena Emelda membuat malam ini menjadi tidak sesuai rencananya.


Setelah menempuh perjalanan, sampailah Adam dan Emilia di parkiran apartemen. Adam mematikan mesin mobilnya dan membuka seatbelt tapi tidak turun dari mobil. Emilia yang sudah membuka seatbelt nya melihat Adam dengan bingung. Ia tidak tau apa yang sedang dipikirkan Adam saat itu.


“Kenapa tidak turun?” tanya Emilia.


Adam mengganti posisi duduknya agar berhadapan dengan Emilia. Lalu ia meraih kedua tangan Emilia dan memegangnya dengan erat. Emilia merasa aneh dengan perlakuan Adam. Apalagi sekarang Adam sudah menatapnya dengan dalam.


“Emilia, maukah kau menikah denganku?”


“Apa?”