My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
94. Dokter Pengganti



Anita sudah dibawa ke kamarnya saat dia jatuh pingsan tadi. Disana juga sudah ada Emilia yang menemaninya. Kepala pelayan dengan cepat menelepon dokter Harris agar datang ke rumah dan memeriksa keadaan Anita. Adam sengaja tidak diberitahu karena Adam pun tidak boleh menginjakkan kakinya di rumah itu sebelum hari pernikahannya.


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu diketuk. Lalu masuklah kepala pelayan bersama seorang dokter wanita, bukan dokter Harris yang merupakan dokter keluarga mereka.


“Permisi Nona, ini dokternya sudah datang. Dokter ini adalah dokter pengganti karena dokter Harris tidak bisa datang,” ucap kepala pelayan itu.


“Perkenalkan saya dokter Alyssa, saya menggantikan dokter Harris sementara karena beliau ada operasi yang tidak bisa digantikan,” ucap dokter itu sambil membungkukkan badannya sekilas.


“Baiklah, tidak masalah. Tolong periksa ibu saya, ya. Tadi beliau tiba-tiba pingsan,” kata Emilia.


“Baik, Nona.”


“Bibi, tolong buatkan minuman untuk dokter Alyssa, ya. Setelah itu bibi boleh kembali bekerja,” ucap Emilia kepada kepala pelayan itu.


“Baik, Nona. Saya permisi.”


Dokter Alyssa pun mulai memeriksa keadaan Anita dengan stetoskop nya. Saat sedang diperiksa Anita pun bangun dari pingsannya. Ia menceritakan keluhan yang terjadi pada dirinya. Dokter Alyssa nampak mengangguk dan tersenyum. Ia paham apa yang dialami oleh Anita.


“Nyonya sepertinya kelelahan dan kurang istirahat. Tekanan darah Nyonya cukup rendah. Saya akan memberi resep berupa vitamin untuk Nyonya. Selain itu, Nyonya harus banyak istirahat, makan yang cukup dan tidak boleh terlalu banyak pikiran,” ucap Alyssa dengan lembut.


“Iya, dokter. Saya terlalu bersemangat mengurus pernikahan anak semata wayang saya,” sahut Anita.


“Saya paham, Nyonya. Saya turut bahagia atas pernikahan anak Nyonya, tapi Nyonya harus menjaga kesehatan juga. Jadi pas hari H nanti Nyonya juga akan sehat saat mendampingi anak Nyonya menikah,” timpal Alyssa.


“Dokter Alyssa betul, Bu. Kan sudah ada pihak wedding organizer yang mengurus semuanya. Ibu sebaiknya banyak istirahat saja. Biar mereka yang mengerjakan semuanya,” kata Emilia ikut menambahkan.


“Baiklah, ibu serahkan semua pada pihak WO saja,” ucap Anita.


Tok tok tok.


Pintu kamar diketuk. Setelah ada sahutan dari dalam barulah pintu kamar itu dibuka.


Deg.


Dokter Alyssa terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Lagi-lagi ia bertemu kembali dengan pria yang sudah dua kali menolongnya saat ia hendak terjatuh. Tanpa sadar ada senyum mengembang di wajahnya.


Pria itu adalah Ian. Dia datang kesana untuk mengambil beberapa berkas di ruang kerja milik Adam. Tapi saat sampai disana, kepala pelayan melapor padanya kalau Nyonya besar jatuh pingsan. Jadi ia datang ke kamar untuk menjenguk Nyonya besarnya itu.


Ian mengernyitkan dahinya. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa dokter Alyssa yang ada disana, bukannya dokter Harris yang merupakan dokter keluarga itu.


Anita dan Emilia bergantian melihat ke arah Ian dan dokter Alyssa. Mereka sepertinya sudah saling mengenal.


“Ian, ada apa kau datang kesini? Apa Adam yang memintamu kesini?” tanya Anita membuyarkan lamunan Ian.


Oh, jadi namanya Ian. Batin Alyssa.


Ian melangkah masuk mendekati Anita.


“Iya, Nyonya. Ada berkas yang mau saya ambil di ruang kerja Tuan Adam. Tadi kepala pelayan yang memberitahu kalau Nyonya pingsan, makanya saya kesini ingin melihat keadaan Nyonya,” jawab Ian.


“Adam itu sudah mau menikah, masih saja memikirkan pekerjaannya. Iya, saya hanya kelelahan saja makanya tiba-tiba pusing lalu pingsan. Tolong rahasiakan ini dari Adam, ya. Saya tidak mau dia kepikiran,” kata Anita.


“Baiklah, Nyonya. Dokter.....”


“Saya menggantikan dokter Harris, beliau ada operasi penting yang tidak bisa digantikan,” potong Alyssa yang paham arah pembicaraan Ian.


Ian pun mengangguk.


“Oh ya, tolong kau antar dokter Alyssa pulang, ya. Kasian dia kalau harus pulang sendiri,” pinta Anita.


“Bukannya dokter Alyssa punya mobil sendiri?” tanya Ian. Seingatnya waktu pertama bertemu, Alyssa mengendarai mobilnya sendiri.


“Jangan, dokter! Biar Ian saja yang mengantar pulang. Lagipula ini sudah malam,” kata Anita beralasan. Melihat Ian dan Alyssa tadi saling menatap, Anita merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena itu Anita sengaja meminta Ian mengantar Alyssa.


“Baiklah, saya akan mengantar dokter Alyssa,” jawab Ian pasrah.


Mendengar hal itu, senyuman di wajah Alyssa kembali mengembang. Entah kenapa ada perasaan senang muncul di hatinya karena bisa diantar pulang oleh Ian.


***


Ian dan Alyssa sudah berada di dalam mobil. Tidak terdengar ada percakapan apapun dari keduanya. Alyssa ingin bertanya tapi takut dikira mencari perhatian atau sok akrab. Sementara Ian hanya fokus mengendarai mobilnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu pun, Alyssa tidak dapat menebaknya.


“Hmmm maaf Tuan, apa Tuan sudah tau dimana alamat rumah saya? Saya rasa saya belum memberitahu Tuan,” tanya Alyssa memulai pembicaraan.


“Lalu kenapa tidak memberitahuku? Kenapa malah menunggu aku bertanya?” kata Ian balik bertanya.


Dih, galak amat! Batin Alyssa.


“Hehehe iya Tuan, maaf. Baru ingat. Saya tinggal di jalan bougenville nomor 20.”


“Baiklah.”


Cuma baiklah? Huffftt.....!


Tak lama mobilpun sampai di depan alamat yang disebutkan Alyssa tadi.


“Terimakasih Tuan sudah mengantar saya kali ini,” ucap Alyssa sebelum turun dari mobil.


“Hm. Besok kau berangkat ke rumah sakit jam berapa?” tanya Ian tiba-tiba.


Eh, kenapa tanya itu? Apa dia mau menjemputku? Please jemput, please. Sorak Alyssa dalam hati.


“Besok agak siang sekitar jam 10, Tuan. Kalau boleh tau kenapa Tuan menanyakan itu?”


“Mobilmu kan masih di rumah sakit, biar aku mengantarmu kesana besok.”


“Tuan mau menjemput saya?”


Ian mengangguk. Alyssa pun menyambutnya dengan senang bukan kepalang.


“Baiklah Tuan, saya mau. Jam 10, ya,” jawab Alyssa dengan semangat sampai lupa menjaga image nya sebagai seorang dokter.


“Sesenang itu mau ku jemput?”


Blusshhhh.


Alyssa jadi salah tingkah. Ia tak sadar telah memberikan response yang terlalu berlebihan.


“Maaf,” lirihnya sambil menunduk.


Melihat Alyssa seperti itu, Ian dengan beraninya menyentuh dagu Alyssa dan mengangkatnya sehingga pandangan mereka pun bertemu.


“Tidak perlu minta maaf. Aku juga senang menjemputmu,” kata Ian yang terdengar ambigu di telinga Alyssa.


“Sekarang masuklah, sudah malam. Istirahatlah yang cukup,” tambah Ian.


Alyssa yang terasa dihipnotis hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah mengucapkan selamat malam, ia pun keluar dari mobil dan bergegas masuk ke rumahnya.


Sebelum pergi meninggalkan rumah Alyssa, Ian memegang dadanya terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.


Benar. Jantungku berdebar lagi.