
Suasana di kamar pengantin baru yang luas itu masih terlihat sunyi senyap. Sepertinya mereka masih terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak setelah menghabiskan waktu bersama tadi malam. Entah jam berapa mereka baru tidur, yang jelas lebih dari tengah malam.
Hal itu tidak lain karena Adam tak henti-hentinya membujuk sang istri dengan berbagai cara agar mau menuruti keinginannya. Entah berapa kali mereka melakukannya yang jelas Emilia hanya bisa pasrah saja.
Adam tampak menggeliatkan badannya. Matanya terbuka dengan perlahan. Yang pertama kali ia lihat saat membuka matanya adalah wajah polos Emilia yang tengah tidur lelap di lengannya.
“Good morning, Sayang. Kau terlihat kelelahan sekali,” ucap Adam dengan pelan sambil terkekeh.
Tangan satunya terulur merapikan rambut Emilia yang berantakan dan menutupi separuh wajahnya. Wajah ini, wajah yang selalu ia rindukan. Wajah yang selalu bermain di kepalanya. Wajah yang selalu ingin ia lihat setiap hari dan setiap kali ia membuka mata. Dan sekarang, wajah ini sudah berada di depannya ketika ia bangun di pagi hari. Bukan pagi sebenarnya, karena saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Pandangan Adam turun ke bibir merah muda yang tampak ranum itu. Ah, ia selalu tak tahan untuk segera mengecupnya.
Adam menarik dagu Emilia agar wajahnya sedikit mendongak ke atas, lalu ia pun mengecup bibir istrinya dengan sangat lembut. Sedetik, dua detik, tiga detik, rasanya ia tak rela melepaskannya.
“Itu namanya morning kiss, Sayang,” ucap Adam lagi.
Emilia tampak tenang. Ia belum memberikan response apapun terhadap perlakuan suaminya. Adam tertawa kecil melihat Emilia yang belum sadar juga.
“Bisa-bisanya kau tidur senyenyak ini, Sayang. Kau ini sebenarnya tidur atau pingsan?”
Adam meletakkan jarinya di depan lubang hidung Emilia. Ternyata masih ada hembusan nafas yang keluar masuk beraturan.
“Masih hidup rupanya,” ucap Adam sambil kembali tertawa.
Mood Adam sepertinya sangat baik. Ia tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah istrinya yang masih tertidur pulas. Ia pun mulai mengerjai istrinya lagi. Kapan lagi bisa mengerjai Emilia seperti ini mumpung dia masih belum sadar.
Adam meletakkan jari telunjuknya di ujung hidung Emilia kemudian mendorong hidung itu ke atas sehingga hidungnya membesar seperti hidung b*bi. Dan Adam pun tergelak melihat Emilia seperti itu.
Masih berlanjut lagi, Adam merangkum pipi Emilia dengan satu tangannya lalu menekan pipi itu sehingga mulut Emilia jadi mengerucut seperti mulut ikan. Adam pun tertawa lagi hingga airmatanya keluar dari ujung matanya.
Karena tubuh Adam terguncang saat tertawa, Emilia yang merasa terganggu tidurnya mulai membuka mata dengan perlahan. Dilihatnya sang suami tengah tertawa dengan sangat lepas.
“Sayang...” lirih Emilia yang nyaris tak terdengar.
Adam menghentikan tawanya lalu menoleh ke Emilia.
“Putri tidurku sudah bangun rupanya,” ucap Adam sambil terkekeh.
Emilia hanya mengangguk saja. Mau bicarapun terasa sangat berat. Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal. Kedua matanya masih sangat mengantuk juga.
“Kita mandi sekarang, ya. Setelah itu kita sarapan sekaligus makan siang. Soalnya sekarang sudah jam sebelas,” ucap Adam lagi.
“Kenapa tidak membangunkanku dari pagi? Aku jadi tidak enak sama ibu. Baru hari pertama jadi menantu sudah bangun siang.”
“Aku tidak tega membangunkanmu, Sayang. Kau tidur seperti orang pingsan saja. Lagipula ibu tidak akan marah kalau kita kesiangan. Ibu pasti mengerti. Namanya juga pengantin baru.”
“Tetap saja aku tidak enak. Ya sudah, aku mau mandi dulu lalu turun ke bawah.”
Emilia bangkit perlahan lalu hendak duduk di sisi tempat tidur. Tapi kemudian ia meringis kesakitan. Ia lupa semalam habis bertempur dengan Adam.
Ini pasti gara-gara suamiku yang buas ini. Umpat Emilia dalam hati.
“Kenapa? Masih sakit ya, Sayang? Aku bantu, ya,” ucap Adam sambil memegang kedua bahu Emilia dari belakang.
“Tidak usah. Tidak apa-apa kok. Sakit sedikit saja,” jawab Emilia malu-malu.
Adam tau Emilia pasti berbohong. Kalau tidak mana mungkin dia meringis seperti tadi. Tanpa persetujuan dari Emilia Adam dengan santainya menggendong Emilia ala bridal style ke kamar mandi.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja membuat Emilia malu bukan kepalang. Pasalnya dia dan Adam sama-sama tidak mengenakan apapun.
“Hei, turunkan aku! Aku bisa sendiri. Adam, aku malu. Jangan seperti ini, turunkan aku,” pekik Emilia sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Sudah, jangan banyak bergerak. Kau mau aku mengulangi yang semalam?”
“Ih, kau ini. Minta ulang terus. Memangnya kaset apa diulang-ulang terus,” protes Emilia sambil mengerucutkan bibirnya.
Adam tidak mempedulikan Emilia. Ia tetap membawa Emilia masuk ke kamar mandi lalu meletakkannya di dalam bath up yang belum terisi air. Kemudian ia menghidupkan air agar bath up itu terisi. Sementara Emilia masih berusaha menutup bagian penting tubuhnya dengan kedua tangannya sambil memalingkan wajah ke arah lain. Ia malu melihat Adam sama-sama polos seperti dirinya.
Adam yang melihat tingkah Emilia tiba-tiba menyeringai saat sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kau keluarlah dulu. Aku mau mandi sebentar,” ucap Emilia.
“Tidak mau, aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku,” bantah Adam dengan enteng.
Emilia menoleh ke Adam. “Maksudmu?”
“Aku akan memandikanmu,” jawab Adam dengan senyum smirk nya.
Emilia membelalak. “Tidaaakkkkkk....aku tidak mau....”