My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
102. Rencana Bulan Madu



Adam dan Emilia kini sudah berada di ruangan Adam. Emilia duduk di atas sofa yang ada disana, sedangkan Adam berbaring dengan memposisikan kepalanya di pangkuan Emilia.


“Sayang, kau masih ingat tidak kenangan manis kita saat kau pertama kali masuk ke ruangan ini?” tanya Adam sambil melihat ke wajah sang istri.


“Yang mana? Kenangan saat aku menamparmu, ya?” sahut Emilia sambil terkekeh.


Adam berdecak. “Ck, bukan yang itu, sebelumnya.


“Yang mana? Saat aku menjambak rambutmu bukan?” tanya Emilia pura-pura tidak mengerti, masih diiringi kekehan dari mulutnya.


“Sebelumnya. Kau menjambakku lalu menamparku karena apa sebelumnya?” tanya Adam lagi dengan nada kesal.


“Apa sih? Yang mana satu, Sayang?”


Adam yang merasa kesal dengan cepat bangkit dari posisinya lalu menghadap Emilia dan menarik tengkuk istrinya itu. Ia mencium bibir merah muda itu dengan lembut tapi menuntut.


“Sudah ingat?” tanya Adam setelah melepaskan bibir istrinya. Mendapat serangan mendadak seperti itu membuat Emilia hanya mengangguk malu-malu. Niatnya mengerjai Adam, eh malah dia yang dikerjain. Tapi dia suka juga sih, jadi tidak ada penolakan darinya.


Tok tok tok.


Suara pintu yang diketuk memecah keheningan antara mereka. Ian datang membawa sebuah map yang berisi dokumen keberangkatan Adam dan Emilia untuk berbulan madu.


Ian meletakkan map tersebut di atas meja lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan Adam.


“Semua dokumennya sudah siap, Tuan. Tuan dan Nona tinggal berangkat saja,” lapor Ian.


Adam mengambil dokumen itu lalu memeriksanya. Kemudian ia menyerahkan dokumen itu pada Emilia untuk dilihat.


“Venice? Italy?” tanya Emilia dengan mata berbinar.


Adam mengangguk. “Kau suka, Sayang?”


“Sangat. Sangat sangat suka. Aku ingin sekali berkeliling naik gondola dan makan malam di Grand Canal,” ucap Emilia dengan nada manja seperti anak kecil yang minta dibelikan jajan.


Adam mencubit ujung hidung Emilia sekilas. Istrinya bisa juga bertingkah sangat menggemaskan kalau ada maunya.


“Baiklah. Apapun yang kau inginkan, aku akan menurutinya,” jawab Adam sambil tersenyum.


“Terimakasih, suamiku. Jadi, apa ini rencana bulan madu kita?”


“Iya. Mungkin kita akan berada seminggu disana. Belum bisa liburan terlalu lama, karena ada proyek baru yang harus ditangani. Nanti kalau ada waktu luang lagi, aku janji akan sesering mungkin mengajakmu liburan luar negeri.”


“Tidak masalah, Sayang. Seminggu juga sudah cukup.”


“Sebenarnya sih aku rasa kurang cukup.”


Adam tidak menjawab. Tapi senyum nakalnya yang diiringi kedipan mata membuat Emilia paham apa maksud suaminya itu.


Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu saat ada Ian disini. Batin Emilia.


Romantis sekali pasangan di depanku ini. Aku seperti patung pajangan saja disini yang mereka tidak anggap keberadaannya. Batin Ian.


“Aku ke toilet sebentar,” ucap Emilia tiba-tiba lalu pergi ke toilet yang ada di ruangan Adam.


Tinggallah Adam dan Ian berdua saat ini. Adam menajamkan pandangannya kepada Ian. Ia penasaran ingin bertanya tentang perubahan sikap asistennya itu hari ini.


“Selama aku pergi, tolong urus semua kepentingan perusahaan. Jika ada hal mendadak yang harus ditanda tangani, kau bisa minta tanda tangan ibuku saja,” kata Adam memberi mandat.


“Baik, Tuan. Tuan tidak perlu khawatir masalah pekerjaan. Tuan fokus saja berbulan madu disana agar pulang nanti bisa membawa Adam Junior,” sahut Ian.


“Cih, kau ini seperti sudah pengalaman saja. Butuh waktu untuk membuat Adam junior.”


“Ohhh, saya pikir bisa langsung jadi, Tuan.”


Adam pun terkekeh dengan jawaban asistennya.


“Kau sendiri bagaimana? Kapan menyusulku?”


Deg.


Apa maksud Tuan Adam?


“Maksudku kapan kau menyusulku untuk menikah lalu membuat Ian junior?”


Loh, kenapa Tuan bisa membaca isi hatiku?


Ian menghela nafas berat. Ingatannya tentang Alyssa yang tiba-tiba muncul di kepalanya ditepisnya dengan cepat.


“Saya akan mengurus perusahaan Tuan dengan baik, Tuan tidak usah khawatir. Menikah bisa nanti-nanti, Tuan.”


“Hahahahahaha.” Adam tergelak mendengar jawaban Ian yang terkesan menghindari pernikahan.


“Kenapa kau seperti orang yang baru putus cinta sehingga kau berusaha untuk menghindar dari pernikahan?” selidik Adam.


Ian terkejut Adam dapat menebak dengan benar. Melihat keterkejutan Ian, Adam semakin yakin bahwa tebakannya itu benar. Tapi ia penasaran, siapa wanita yang berhasil menarik perhatian dari asistennya itu.


“Kau benar-benar baru putus cinta? Siapa wanita yang sudah mematahkan hatimu?”