
Darius sudah sampai di apartemennya dengan menggendong Emilia. Ia menuju ke salah satu kamar paling belakang. Kamar itu dulunya bekas kamar asisten rumah tangganya. Tapi sekarang kamar itu sudah banyak diisi kardus bekas dan barang tak terpakai lainnya. Hampir mirip seperti gudang, tapi masih ada ranjang kecil disana.
Darius membuka pintu kamar dengan susah payah lalu ia membaringkan Emilia di atas ranjang. Kemudian dia menyalakan lampu kamar. Barulah jelas wajah Emilia sedang berbaring tak sadarkan diri. Melihat wajah Emilia, mengingatkannya pada Emelda. Ia teringat lagi kondisi Emelda yang sedang hamil. Ia tak mau Emelda dan anaknya nanti kekurangan satu apapun jika dirinya sudah bangkrut. Meskipun ia kasihan pada Emilia tapi ia harus memantapkan hatinya untuk tetap menjalankan rencananya.
Darius keluar dari kamar itu dan menguncinya dari luar. Ia melakukan semua dengan perlahan agar tidak membuat Emelda terbangun dari tidurnya. Saat ia membalikkan badan, Emelda malah sudah berada di depannya.
“Kau? Kenapa kau kesini?” tanya Darius panik.
“Harusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kau masuk ke kamar itu? Apa yang kau sembunyikan?” kata Emelda balik bertanya.
“Kita bicara di kamar. Ayo!”
Darius meraih tangan Emelda dan membawanya ke kamar. Sekarang Emelda sudah duduk di samping tempat tidur sementara Darius ikut duduk di sebelahnya. Mereka saling berhadapan. Emelda dapat melihat raut wajah yang tak biasa dari Darius. Seperti ada sesuatu yang serius yang akan dia katakan.
“Emelda, dengar ceritaku baik-baik dan jangan menyelaku dulu. Oke?”
“Baiklah. Katakan apa yang kau sembunyikan disana?”
“Aku menyembunyikan Emilia disana.”
“Apa? Kau menculiknya maksudmu?”
“ Tenang dulu. Jangan memotong pembicaraanku. Aku tidak bermaksud menculiknya. Tadi siang aku ke perusahaan Adam. Aku ingin bicara baik-baik dengannya. Tapi dia tidak mau menemuiku. Dia juga tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau bekerjasama lagi denganku. Lalu aku menemui Emilia dan meminta bantuannya. Tapi dia juga tidak mau menolongku. Jadi terpaksa aku harus menyanderanya dan meminta Adam mengembalikan sahamnya lagi padaku.”
“Apa kau sudah gila? Memangnya siapa Emilia di mata Adam? Rencanamu ini tidak akan berhasil. Yang ada kau malah masuk penjara nantinya. Lebih baik kau lepaskan Emilia.”
“Aku yakin kali ini akan berhasil. Adam sangat mencintai Emilia. Dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan Emilia.”
“Apa? Cinta? Tidak mungkin.”
“Tapi itu kenyataannya. Aku pernah melihat mereka bermesraan saat di pesta. Bahkan aku dengar mereka pernah tinggal bersama di apartemen Adam. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa di antara mereka.”
Emelda terkejut mendengar perkataan Darius. Timbul rasa cemburu di hatinya. Apakah selama dia tidak ada, Emilia sudah menggantikan posisinya di hati Adam? Benarkah Adam mencintai Emilia? Bahkan dirinya saja tidak pernah menginap di apartemen Adam. Tak dipungkiri ia masih mengharapkan Adam kembali padanya.
Awalnya Emelda memang tidak setuju dengan rencana dari Darius ini. Tapi kemudian hatinya dikuasai rasa cemburu. Ia juga penasaran, sejauh apa hubungan Adam dan Emilia. Ia ingin tau lebih jelas. Akhirnya Emelda pun menyetujui rencana Darius.
***
Serra juga sudah mencoba menghubungi Emilia beberapa kali. Awalnya panggilannya terhubung tapi tidak dijawab. Lama kelamaan handphone Emilia sudah tidak bisa dihubungi lagi karena nomornya sedang tidak aktif. Serra merasa menyesal meninggalkan Emilia sendirian tadi malam. Lalu kemudian ia teringat akan Adam. Dulu Emilia tidak pulang ke kontrakan karena menginap di apartemen Adam. Apa mungkin Emilia menginap disana lagi?
Pas saat istirahat makan siang, Serra meminta tolong kekasihnya agar mengantarkannya ke perusahaan Adam. Sesampainya disana mereka dihadang security. Mereka tidak bisa masuk sembarangan kalau belum ada janji. Apalagi yang ingin mereka temui adalah pemilik perusahaan tersebut.
“Pak, saya salah satu karyawan Tuan Adam di kantor cabangnya. Saya tidak mungkin berniat buruk kesini. Ada hal penting yang harus kami sampaikan langsung ke Tuan Adam. Tolong izinkan kami masuk,” kata Doni kekasih Serra seraya menunjukkan badge kerjanya. Ia memang bekerja di salah satu perusahaan Adam.
“Tapi kalian belum ada janji. Saya tidak bisa membiarkan sembarang orang menemui Tuan Adam. Silahkan hubungi resepsionis perusahaan via telpon dan buat janji dulu. Baru saya izinkan masuk,” tolak security disana.
Melihat ada keributan di depan gerbang, Ian yang baru saja kembali dari rapat di luar, menepikan mobilnya untuk memeriksa keributan itu. Ia terkejut melihat teman Emilia yang di mall kemarin ada disana.
“Ada apa ini? Kalian temannya Emilia kan?” tanya Ian saat menghampiri mereka.
“Begini, Tuan. Mereka memaksa masuk dan ingin bertemu Tuan Adam. Tapi mereka belum ada janji. Jadi saya tidak mengijinkan mereka masuk,” kata security itu menjelaskan.
“Tuan, saya hanya ingin menanyakan keberadaan Emilia pada Tuan Adam. Tadi malam dia tidak pulang. Pagi ini juga tidak datang bekerja. Handphone-nya tidak bisa dihubungi. Jadi saya hanya ingin tau saja apa Tuan Adam tau dimana Emilia berada,” kata Serra dengan panik.
Ian terkejut mendengar perkataan Serra. Setaunya tadi malam Adam tidur di rumahnya bukan di apartemen miliknya. Lagipula hubungan mereka juga sedang tidak baik. Mana mungkin Adam bertemu Emilia.
“Aku rasa Tuan Adam tidak tau soal Emilia. Aku bersamanya tadi malam dan mengantarnya pulang ke rumah. Begini saja, berikan nomor handphone mu padaku. Biar nanti aku coba mencarinya juga. Kalau ada kabar, aku akan segera meneleponmu.”
Ian memberikan handphone-nya pada Serra dan Serra segera menyimpan nomornya disana. Mereka pun saling bertukar nomor agar nanti mudah memberi kabar. Setelah itu Serra dan Doni kembali ke tempat mereka bekerja, sementara Ian langsung menemui Adam di ruangannya.
Tok tok tok. Ceklek.
Ian mengetuk pintu lalu membukanya dan segera masuk ke dalam. Dilihatnya Adam sedang membaca beberapa laporan dari laptopnya.
“Ada apa? Rapatnya berjalan lancar?” tanya Adam tanpa basa-basi.
“Rapatnya lancar, Tuan. Tapi yang saya mau bicarakan kali ini bukan masalah rapat tadi, Tuan,” jawab Ian gugup.
“Lalu soal apa? Aku harap yang akan kau sampaikan adalah sesuatu yang penting,” tanya Adam dengan tegas.
“Ini...ini tentang....Nona Emilia, Tuan. Nona Emilia hilang,” jawab Ian terbata.
Adam menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia yang tadi sibuk menatap laptopnya kini mengalihkan pandangannya ke arah asistennya yang berada di hadapannya. Ian yang ditatap seperti itu jadi gugup. Ia menunggu tanggapan dari tuannya.