
Adam mematung melihat sosok tunangan yang ia kira selama ini telah meninggal berdiri di hadapannya. Hatinya terasa sakit sekali, serasa seperti diremas-remas. Selama ini ternyata dia telah ditipu oleh tunangannya sendiri.
Emelda sendiri kehabisan kata-kata. Ada banyak hal yang ingin dia jelaskan, tapi dia bingung harus memulainya dari mana. Tanpa sadar airmatanya jatuh begitu saja. Ia tidak menyangka persembunyiannya akan diketahui oleh Adam.
Belum selesai keterkejutannya dengan kedatangan Adam, ia kembali dikejutkan oleh saudara kembarnya yang kini sudah berdiri tepat di samping Adam. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ini kali pertama dia melihat kembarannya lagi. Sungguh, dia tak ingin bertemu Emilia dalam kondisi seperti ini.
“Sebaiknya kalian masuk dulu. Kita bicarakan semua ini baik-baik,” kata Darius memecah keheningan.
Siapa sangka Adam yang sedang terbakar emosi itu langsung mencengkeram kerah kemeja Darius dan mendorongnya hingga membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang. Emilia dan Ian pun ikut masuk ke dalam apartemen itu untuk melerai mereka.
“Brengsek! Masih berani kau bilang kita bicarakan baik-baik, hah? Setelah kau mengkhianatiku, masih bisakah kita bicara baik-baik?” bentak Adam dengan suara lantangnya.
“Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, Adam. Biarkan aku jelaskan dulu semuanya dari awal,” kata Darius.
“Omong kosong!”
Buggghhh. Satu pukulan mendarat ke pipi kiri Darius. Sama seperti Ian tadi, Darius pun jatuh tersungkur ke lantai. Emilia dan Emelda serentak terpekik bersamaan saat Adam memukul Darius, sementara Ian hanya diam saja melihat perkelahian itu. Baginya wajar saja kalau Adam meluapkan kekesalannya seperti itu.
Terlihat darah mengalir dari hidung dan sudut bibir Darius. Pukulan Adam sangat kuat rupanya. Darius mencoba berdiri dan menyeka lukanya.
“Adam, ku mohon dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan semuanya,” ucap Darius.
Adam yang terbakar amarah seakan tak mau mendengar apapun lagi. Ia kembali mendekati Darius dan meninjunya. Tinju pertama berhasil ditahan oleh Darius, lalu dengan cepat Adam menggerakkan tangannya yang lain untuk memukul Darius dan berhasil. Selanjutnya Adam kembali memukuli Darius lagi secara bertubi-tubi. Darius terlihat kewalahan menghadapi Adam yang terus memukulinya seperti orang kesetanan. Teriakan Emilia dan Emelda yang menyuruhnya berhenti tidak dipedulikannya.
Darius terjatuh dan tersungkur ke lantai. Sementara Adam masih berdiri memandangi Darius dengan penuh amarah. Dadanya yang bidang nampak naik turun menahan emosi.
“Aku tidak butuh penjelasanmu! Aku lebih percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau, sahabatku sendiri, tega-teganya kau menipuku dan merebut tunanganku sendiri!” teriak Adam dengan menunjuk ke arah Emelda.
Adam lalu berpaling menoleh ke arah Emelda. Ia melangkah beberapa langkah ke arah Emelda. Dulu ia sangat rindu ingin bertemu dengan wanita yang ada di depannya ini. Ia selalu berharap Emelda hidup kembali. Tapi saat ini ia justru tidak mau melihat Emelda hidup kembali.
“Dan kau...kau ternyata wanita murahan! Kau mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri! Kenapa kau tega melakukan ini, Emelda? Kenapa?” teriak Adam.
Melihat Emelda hanya menangis membuat Adam geram. Ia melangkah mendekati Emelda tapi Emilia segera menghadang tepat di depannya. Sekarang posisi Emilia sudah berada di antara Adam dan Emelda sambil merentangkan tangannya untuk melindungi Emelda dari kemarahan Adam.
“Adam, tenang Adam! Jangan sakiti dia, dia sedang hamil,” pinta Emilia.
“Minggir dari hadapanku, Emilia! Urusanku dengan dia, bukan denganmu,” kata Adam pelan tapi penuh penekanan.
“Tidak. Aku tidak akan pergi. Biarkan mereka menjelaskan semuanya lebih dulu. Tahan emosimu. Dia sedang hamil,” kata Emilia berusaha membujuk Adam.
“Oh, jadi sekarang kau membela mereka? Ah iya, aku lupa, dia saudara kembarmu bukan? Tentu kau lebih membelanya daripada membelaku meskipun disini akulah yang jadi korban pengkhianatan mereka,” kata Adam dengan senyum sinisnya.
“Aku tidak mau membela siapapun. Tapi aku mau kau jangan menyakitinya. Dia sedang hamil. Ada bayi yang tidak berdosa di perutnya. Terlepas siapapun ayahnya, bayi itu tidak bersalah. Aku hanya tidak mau kau menyakitinya. Bayi itu tetap keponakanku juga.”
“Kau melarangku menyakitinya lalu bagaimana dengan dia sendiri? Dia sudah tega berkhianat di belakangku. Dia selingkuh dengan sahabatku sendiri sampai hamil. Sahabat? Ya, sahabat yang berubah menjadi pengkhianat! Bisa-bisanya dia jadi orang ketiga antara aku dan Emelda,” kata Adam.
“Bukan aku yang menjadi orang ketiga, Adam. Tapi kaulah yang justru jadi orang ketiga antara aku dan Emelda,” kata Darius menyela.
“Apa maksudmu?” tanya Adam curiga. Adam menatap Emelda dan Darius bergantian. Menunggu penjelasan lebih lanjut dari mereka.
“Emelda, apa kau tidak mau menjelaskannya? Atau kau mau aku menjelaskan semuanya?” tanya Darius pada Emelda.
Emelda jadi gugup. Ia takut untuk menjelaskan semuanya di depan Adam. Sementara Adam, Emilia dan Ian sedang menunggu jawaban dari mereka. Darius melihat ada ketakutan di wajah Emelda.
“Baiklah, biar aku yang menjelaskan semuanya,” kata Darius sambil duduk bersandar di dinding. Wajahnya sudah babak belur. Tubuhnya masih terasa sakit sehabis dipukuli Adam.
“Disini bukan akulah orang ketiga antara kau dan Emelda. Tapi kaulah orang ketiga di antara kami. Sebelum kau mengenal Emelda, aku sudah lebih dulu mengenalnya dan menjadi kekasihnya. Aku adalah cinta pertamanya. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan langsung kepadanya.”
Penjelasan Darius membuat semua orang di ruangan itu terkejut, kecuali Emelda. Apakah benar Darius dulunya adalah kekasih Emelda? Tapi selama ini Adam tidak pernah mengetahuinya. Yang Adam tau, dialah yang mengenalkan Darius pada Emelda.
Sekarang semua mata tertuju pada Emelda. Mereka menunggu bagaimana respons Emelda terhadap apa yang Darius katakan barusan.